Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Monday, 9 July 2018

PUNCAK SOSOK

07 Juli 2018,
Masih dalam edisi mencari spot-spot wisata baru di Kabupaten Bantul, nah kali ini petualangan goweswisata.com akan mengulas Puncak Sosok, yaitu sebuah spot wisata alam yang berada tidak jauh dari lokasi wisata Puncak Gebang yang sudah lebih dulu terkenal itu

Lokasi dari Puncak Sosok sendiri tepatnya berada di Dusun Jambon, Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Propinsi DI Yogyakarta. Jika sebelumnya kalian sudah pernah mengunjungi obyek wisata Puncak Gebang, maka untuk menuju ke Puncak Sosok ini kalian hanya tinggal berjalan sekitar 1 km kearah Utaranya saja

Peta lokasi Puncak Sosok



Kami mengawali perjalanan kali ini dengan start dari Basecamp Gowes Wisata sekitar pukul 7 pagi WIB menuju ke arah Selatan melewati Kantor PLN Gedongkuning dan masih terus ke Selatan menuju Kotagede sampai tiba di pertigaan Pasar Kotagede, dari pertigaan Pasar Kotagede tersebut kami lalu berbelok ke kiri (Timur) hingga tiba di perempatan Traffic light ringroad, dari perempatan ringroad kami masih terus mengarah ke Timur melewati Kantor Kecamatan Banguntapan sampai nantinya berbelok ke kanan (Selatan) pada sebuah pertigaan dimana jika kalian mengambil arah yang lurus maka akan mengarah ke Pasar Ngipik dan Embung Potorono.

Setelah berbelok ke kanan (Selatan) tersebut kalian hanya tinggal lurus saja mengikuti jalan Utama (Jalan Pleret) menuju ke arah Desa Bawuran, nantinya kalian akan melewati jembatan, dan tidak jauh dari jembatan tersebut kalian akan melihat sebuah perempatan, dari sini kalian masih terus lurus saja kearah Wonolelo, sesampainya di pertigaan yang menunjukkan arah Piyungan atau Wonolelo kalian ikuti jalan yang mengarah ke Wonolelo, terus saja sampai nantinya kalian melihat sebuah tebing yang sedang di tambang di sisi kiri kalian, sebenarnya disitu ada sebuah jalan masuk namun untuk lebih mudahnya maka kalian bisa terus sedikit ikuti jalan utama sampai melewati jembatan kecil dan jika kalian melihat Gudang pakan ternak UD. Tani Makmur disisi kiri jalan, maka tepat disampingnya ada sebuah komplek makam warga dan ada jalan masuk disampingnya, nah kalian bisa masuk melalui jalan tersebut, menyeberangi jembatan lagi lalu ambil arah ke kiri hingga tiba di pertigaan, dari situ kalian ambil yang ke kanan dan ikuti saja penunjuk jalan yang ada



Oya kondisi rute jalan menuju ke Puncak Sosok ini hanya bisa dilalui oleh satu buah kendaraan roda empat saja, sehingga jika kalian menggunakan mobil dan berpapasan maka salah satunya harus mengalah, namun supaya aman maka saya menyarankan untuk tidak menggunakan kendaraan roda 4, lebih baik kalian menggunakan kendaraan roda dua saja, untuk konturnya sendiri tentu saja dipastikan menanjak (namanya saja spot wisata Puncak Sosok), walaupun derajat kemiringannya tidak separah tanjakan obyek wisata Tebing Breksi namun tetap saja melelahkan bagi pesepeda, terlebih jalurnya sendiri juga lebih sempit dan sedikit berpasir




Setelah banyak adegan gowes ngicik dikombinasi dengan mendorong sepeda akhirnya kami sampai juga di lokasi wisata Puncak Sosok. Biasanya lokasi ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan pada akhir pekan, waktu terbaik untuk berkunjung ke spot wisata Puncak Sosok ini biasanya pada Sore hari karena dari atas ketinggian tempat ini kalian bisa menikmati indahnya pemandangan matahari yang mulai terbenam alias sunset



Sementara ini belum ada biaya retribusi resmi yang dikenakan untuk masuk ke lokasi ini, namun kalian bisa membantu warga sekitar dalam mengembangkan fasilitas disekitar lokasi dengan menyumbang seikhlasnya melalui kotak amal yang berada di depan area.


Upaya pengembangan dan pembenahan fasilitas pendukung disekitar lokasi wisata Puncak Sosok ini sampai sekarang masih terus dilakukan oleh warga sekitar, sejauh ini beberapa fasilitas pendukung yang telah tersedia di lokasi ini adalah pembangunan 3 buah Gazebo, 3 buah permainan jungkat-jungkit, 3 buah ayunan, beberapa kursi taman, Mushalla, 3 buah toilet umum, tempat-tempat sampah yang tersebar dibeberapa titik sekitar lokasi, kereta api mini untuk anak, Taman Kelinci dimana anak bisa belajar memberi makan langsung dan berinteraksi dengan kelinci, beberapa rumah burung merpati, layar besar untuk menikmati pertunjukan, beberapa warung-warung makan, spot foto dan stage act di pinggir tebing yang terbuat dari bambu, serta starting ramp untuk kegiatan bersepeda Downhill

Starting Ramp yntuk bersepeda Downhill


Kereta api mini untuk anak


Warung-warung makanan yang tersedia





Rumah-rumah burung merpati


Permainan jungkat-jungkit


Permainan ayunan



Spot foto di pinggir tebing


Tampak TPA Piyungan di bagian bawah spot Puncak Sosok


Dengan konsep sebuah Taman Hiburan Alam maka spot wisata Puncak Sosok ini sangat cocok untuk dijadikan salah satu pilihan tempat wisata bersama keluarga, hanya saja karena lokasinya yang berada di ketinggian dan merupakan area tebing maka pengawasan dari para orangtua kepada buah hatinya saat sedang rekreasi tetap mutlak diperlukan supaya semua pihak bisa merasa aman dan nyaman dalam menikmati suasana di tempat ini.

Nah sekarang bertambah lagi kan daftar destinasi pilihan liburan kalian selama di Yogyakarta, selamat berlibur dan tetap ikuti dan terus support petualangan goweswisata kami ya dengan cara mensubsribe dan like channel goweswisata di youtube dan Facebook :)




Tuesday, 3 July 2018

CURUG WATU SEWU

01 Juli 2018,
Kali ini petualangan goweswisata.com akan mencoba mengeksplorasi spot-spot wisata yang berada di sisi Selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Bantul. Kira-kira spot wisata seperti apa saja ya yang ada namun belum terlalu populer di Kabupaten ini? yuk sama-sama kita cari tahu, let’s go :)

Sekitar pukul 7 pagi kami berangkat dari Basecamp goweswisata menuju kearah Selatan melewati Perempatan Terminal Giwangan, dari situ perjalanan kami berdua masih terus menuju kearah Selatan melalui Jalan Imogiri Timur, suasana lalu lintas di sekitar ruas Jalan Imogiri Timur di pagi hari ini seperti biasa cukup padat, selain beberapa kendaraan bermotor milik pribadi Nampak juga beberapa rombongan bus-bus wisata yang mengarah ke Selatan, sepertinya tujuan mereka kalau tidak ke lokasi Makam Raja-raja di Imogiri pasti menuju ke lokasi wisata Kebun Buah Mangunan, sesekali kami juga berpapasan dengan rombongan pesepeda lokal yang melewati rute ini

Dengan kontur jalan yang cenderung lurus dan datar-datar saja maka perjalanan awal ini menjadi cukup mudah dan relatif cepat, entahlah apakah nanti kecepatannya akan sama pada saat pulang hehe…

Oya berdasarkan hasil googling pada malam sebelumnya maka di perjalanan kali ini kami sepakat akan kembali melanjutkan sebuah “perjalanan yang tertunda” beberapa waktu yang lalu, jadi begini kisahnya, sebenarnya sekitar Tahun 2013 lalu kami pernah mendengar jika ada sebuah lokasi air terjun alias Curug disekitar wilayah Imogiri, tepatnya di sekitar wilayah Giriloyo, namun keberadaan dari curug tersebut masih belum jelas dimana lokasi pastinya tetapi ancer-ancernya sih sebagian besar kami sudah mengerti, nah disaat kami sedang blusukan mencari keberadaan Curug tersebut tiba-tiba terjadilah masalah yang tidak diharapkan (ya iyalah mana ada orang yang mengharapkan terjadinya suatu masalah) yaitu rantai sepeda milik Agit tiba-tiba putus dan waktu itu saya juga sedang tidak membawa perlengkapan bengkel darurat, mana itu rantai putusnya pas dimedan menanjak pula, akhirnya demi kebaikan bersama perjalanan kala itu pun terpaksa kami hentikan, tertunda dan sempat terlupakan selama beberapa waktu hingga akhirnya kali ini kami berencana untuk menyelesaikannya

Peta menuju Curug Watu Sewu



Untuk menuju ke Giriloyo sendiri kami kembali melalui rute Jalan Imogiri Timur, nanti selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal belok ke kiri saja (untuk lebih mudahnya, selepas Jembatan Karangsemut kalian tinggal melihat sisi sebelah kiri jalan, nanti ada belokan ke kiri pertama, dari situ sebenarnya kalian juga sudah bisa menuju ke Giriloyo, namun kami memilih untuk belok ke kirinya pada belokan yang kedua dengan pertimbangan rutenya lebih mudah tidak terlalu banyak belok-belok)

Setelah belok kiri di belokan kedua nantinya kalian akan melewati bangunan Pustaka Desa Wukirsari, nah masih terus saja sampai nantinya kalian melihat percabangan jalan seperti ini


Bagi kalian yang kebetulan sedang berwisata dan mencari souvenir khas daerah maka di sekitar lokasi Desa Wisata ini kalian juga bisa sekalian mengunjunginya, disini banyak terdapat showroom maupun workshop tempat pembuatannya lho, barangkali kalian juga tertarik untuk belajar bagaimana cara pembuatannya, tinggal pilih saja mau ke Desa wisata yang mana, apakah ke Desa Wisata Pucung yang terkenal sebagai sentra produksi kerajinan wayang kulit, ataukah menuju ke Desa Wisata Giriloyo yang terkenal sebagai Sentra produksi kerajinan Batik Tulis, tetapi bagi kami berdua secara pribadi sebenarnya tepat dibawah papan petunjuk tersebut ada satu lagi penunjuk arah yang menarik minat kami yaitu adanya tulisan penunjuk arah menuju lokasi air terjun, walaupun disitu tidak ditulis apa nama air terjunnya tetapi sepertinya kali ini kami berada di “jalan yang benar”.

Kami pun kemudian mengambil percabangan jalan yang mengarah ke kanan alias menuju ke lokasi Sentra Batik Tulis Giriloyo, di sepanjang rute ini suasananya syahdu beneeerr, hamparan persawahan yang tersaji disepanjang sisi jalan, sesekali ditimpali kicauan burung yang beterbangan semakin menambah perasaan tenang disaat melalui rute ini


Disini kalian cukup mengikuti jalur aspal utama saja sampai nantinya kalian melewati gerbang masuk Desa Wukirsari, rutenya sedikit menanjak tetapi tidak terlalu ekstrim, dan akhirnya perjalanan kalian menuju ke lokasi air terjun akan semakin mendekat manakala kalian sudah tiba di lokasi Makam Sunan Cirebon (Pasarean Giriloyo) ini, tuh ada papan penunjuk arahnya, sayangnya bagi pengendara kendaraan bermotor roda 4 maka disinilah pemberhentian terakhir kalian untuk mencari lokasi parkir, dari sini kalian harus meneruskannya dengan berjalan kaki sampai menuju ke lokasi Curug atau Air Terjun 1000 Batu, sedangkan bagi pengendara kendaraan roda dua kalian masih bisa meneruskannya sampai ke atas dan memarkir kendaraan kalian di pekarangan rumah warga sekitar yang kini telah difungsikan sebagai lokasi parkir umum


Adegan nanjak dan dorong pastinya tetap ada pada episode kali ini hehe...:D


Dari lokasi parkir kendaraan kalian harus meneruskan sisa perjalanan menuju ke lokasi air terjun dengan berjalan kaki dikarenakan medannya yang seperti ini, ayo semangat hitung-hitung olahraga sejenak, oya awas terpeleset karena di beberapa titik terdapat area yang sedikit licin.

Kalau kalian melihat percabangan seperti ini ambil yang arah lurus, nanjak


Nanti kalian akan melihat jalur pipa seperti ini, nah ambil arah ke kanan ikuti saja jalur pipanya



Dan akhirnya sampailah kami di lokasi Air Terjun Seribu Batu atau Curug Watu Sewu, dahulu dikenal juga dengan sebutan Curug Cengkehan dikarenakan lokasi Curug ini yang berada di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY


Disekitar lokasi Curug ini banyak terdapat bebatuan berukuran besar yang merupakan bebatuan hasil dari letusan Gunung Api Purba, dan mungkin karena banyaknya bebatuan tersebut pada akhirnya menjadikan lokasi air terjun ini sekarang disebut juga dengan sebutan Air Terjun 1000 Batu

Beberapa bebatuan berukuran besar yang saling bertindihan pada akhirnya menciptakan semacam Gua kecil seperti ini


Untuk menuju ke sumber aliran air terjunnya kita harus melangkah sedikit menuju ke bagian atas


Dan itu dia air terjunnya, aliran airnya tidak begitu deras dikarenakan cuaca yang memasuki musim kemarau, walaupun begitu air terjun ini tidak mengering karena sumber airnya yang berasal dari aliran air sungai



Dengan ketinggian air terjun sekitar 6 meter dan kedalaman pada kolam airnya sekitar sekitar 1 meter sepertinya jika memasuki musim penghujan nanti lokasi ini akan cukup asyik untuk dijadikan lokasi main air



Selain menikmati air terjunnya di sekitar lokasi ini terdapat beberapa spot yang cukup menarik untuk dijadikan lokasi berfoto lho, disini kalian bisa memanfaatkan bebatuan-bebatuan besar yang ada di lokasi ini untuk menciptakan karya fotografi


Sedikit tips bagi kalian yang hendak berwisata ke lokasi air terjun seribu batu ini :

- belum ada angkutan umum yang sampai benar-benar tiba dilokasi ini, sehingga dari Jembatan Karangsemut tadi kalian harus naik
ojek
- lebih baik mengenakan alas kaki berupa sandal gunung atau sepatu kets supaya aman
- membawa makanan dan minuman sendiri karena disekitar lokasi ini minim warung, namun jangan lupa untuk membawa pulang sisa
sampah kalian ya, jangan buang sampah sembarangan
- belum ada fasilitas toilet atau MCK disekitar lokasi, sehingga bagi kalian yang ingin nyebur atau basah-basahan maka kalian
bisa menumpang bilas dan bersih-bersih di kamar mandi milik warga sekitar
- jangan melakukan aksi vandalism yang alay seperti mencorat-coret bebatuan, membuang sampah sembarangan, dan berlaku asusila
ditempat ini
- belum ada biaya retribusi alias masih gratis, satu-satunya retribusi adalah biaya parkir kendaraan seikhlasnya (biasanya sih Rp
1.000,- untuk kendaraan roda dua)
- jangan kemalaman berada di sekitar lokasi ini karena belum ada penerangan disekitar jalur trekking

Nah kira-kira seperti itulah beberapa informasi mengenai lokasi wisata air terjun seribu batu di Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kabupaten Bantul ini, semoga bisa membantu kalian semua yang sedang bingung menentukan enaknya ngebolang kemana yang murah meriah

Sampai jumpa di petualangan goweswisata.com berikutnya ya, kalau kalian suka dengan content-content kami maka kalian juga bisa mensubscribenya di akun Facebook Gowes Wisata atau di youtube channel kami :)

Thursday, 28 June 2018

CHAPTER 42; PAREPARE

Selamat datang di Kota Parepare, kali ini perjalanan goweswisata kami berdua telah sampai di salah satu kota di Propinsi Sulawesi Selatan yang juga dikenal sebagai kota kelahiran mantan Presiden RI ke 3 yaitu Bapak Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.

Selama berada di Kota Parepare ini kami menetap di rumah salah seorang kenalan Mbak Darna yang juga merupakan seorang pesepeda lokal, nah berhubung ini adalah pertama kalinya bagi kami berdua menginjakkan kaki di kota ini maka yuk kita jelajahi keunikan dari kota Parepare ini

Secara geografis karakteristik dari Kota Parepare sendiri hampir sama seperti Kota Bima di Pulau Sumbawa, dimana pada bagian pinggir kota sebelah baratnya berbatasan langsung dengan pesisir pantai sehingga bagi kalian penikmat suasana laut tentunya tempat ini bakal menjadi salah satu lokasi favorit kalian untuk hangout bersama teman dan orang-orang terdekat, biasanya pada sore hari lokasi di sekitar pinggir pantai ini ramai dipenuhi oleh warga sekitar dan wisatawan yang ingin menikmati suasana sunset sembari berolahraga ataupun sekedar cuci mata dan berwisata kuliner


Namun yang menjadikan nama Kota Parepare ini semakin dikenal yaitu karena di Kota ini lahir seorang tokoh nasional yang juga merupakan mantan Presiden RI ke 3, yang mana Beliau juga merupakan seorang tokoh perintis kemajuan dunia dirgantara Indonesia melalui karya-karyanya, Beliau adalah Bapak Habibie, dan saking bangganya warga dikota ini terhadap salah satu putra terbaik daerah mereka tersebut maka tepat di Alun-alun kota yang juga berfungsi sebagai lapangan olahraga dan ruang terbuka publik ini dibangunlah sebuah Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun, dimana kisah cinta Pak Habibie bersama Ibu Ainun semasa hidupnya sempat diangkat ke layar lebar beberapa waktu lalu



Tidak jauh dari Monumen Cinta Habibie Ainun juga terdapat obyek wisata sejarah lainnya yaitu Monumen Korban 40 ribu Jiwa yang dipersembahkan untuk para pahlawan kemerdekaan yang gugur ditembak oleh pasukan Wosterling di lokasi dimana sekarang monumen ini didirikan, peristiwanya sendiri dahulu terjadi pada Hari Kamis, Tanggal 14 Januari 1947, pukul 9 pagi. Melihat banyaknya jumlah korban jiwa yang jatuh pada peristiwa tersebut sungguh sebuah ironi jika saat ini kita justru melihat bagaimana sesama anak bangsa saling bertarung menjatuhkan satu sama lain hanya demi ego, harta, dan tahta, maka dari itu sebagai generasi penerus bangsa yang hanya tinggal mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini yuk kita sama-sama belajar menjadi manusia Indonesia yang lebih cerdas dan tidak mudah terprovokasi dengan permainan politik adu domba dari pihak-pihak lain yang mengatasnamakan agama serta faktor kesukuan, karena sesungguhnya Indonesia itu bukan hanya milik mereka yang mayoritas saja, melainkan Indonesia bisa tetap ada karena kesadaran dari masing-masing kita yang menyadari adanya semua perbedaan itu namun secara sukarela mengikatkan diri menjadi satu kesatuan dan saling melengkapi satu sama lain.





Setelah berkeliling melihat Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun dan Monumen Korban 40 ribu Jiwa, kini saatnya mengisi perut dulu, untuk urusan kuliner kalian tidak perlu kuatir karena di sekitar Monumen Korban 40 ribu Jiwa banyak terdapat tukang jajanan serta warung-warung makanan yang memiliki menu halal dengan harga yang terhitung cukup ramah di kantong, dan jika kalian ingin beribadah pun bagi kalian yang Muslim tidak perlu repot karena tepat di seberang Monumen Korban 40 ribu Jiwa terdapat sebuah Masjid yang cukup besar.


Sambil beristirahat dan menikmati jajanan kami pun mencoba sedikit mereview karakteristik kota ini, secara luas wilayah sebenarnya pusat-pusat keramaian dan aktivitas perekonomian warga sekitar banyak terpusat di sekitar ruas jalan utama yang berada di sekitar Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun serta yang berada disekitar kawasan Pelabuhan, namun dalam hal penataan dan suasana kotanya menurut kami sekilas hampir mirip dengan suasana di Kota Situbondo, Jawa Timur. Dan jangan salah walaupun disini kotanya tidak lebih besar atau seterkenal Kota Makassar namun dalam hal kebersihan kotanya maka Kota Parepare juga sempat meraih penghargaan Adipura lho





Oya bagi kalian penyuka wisata belanja ada satu lagi nih lokasi di Kota Parepare ini yang tidak boleh kalian lewatkan, yaitu Pasar Senggol. Eitttss jangan salah dulu walaupun namanya pasar namun pasar yang satu ini jauh berbeda dengan imej pasar yang biasanya identik dengan suasana kumuh, becek, kotor, dan bau. Di Pasar Senggol ini suasananya justru cukup tertata rapi dan nyaman, barang-barang yang dijajakan dipasar ini pun jenisnya cukup beragam, mulai dari pakaian anak, dewasa, pria dan wanita, mainan, aksesoris, sepatu, topi, bahkan sampai kuliner dan sayur mayur semua tersedia lengkap di tempat ini, namun jika kalian berencana berbelanja dipasar ini maka satu hal yang penting dan perlu kalian ketahui adalah jam buka atau operasional dari Pasar Senggol ini adalah mulai dari sore hari menjelang maghrib hingga malam hari, oleh karena itu jika kalian datang ke tempat ini pada pagi atau siang hari maka bisa dipastikan jika suasana di Pasar ini masih sepi alias belum buka, sedangkan untuk urusan harga maka seperti lazimnya sebuah pasar disini keahlian kalian dalam bernegosiasi harga sangat diperlukan



Kira-kira seperti itulah gambaran dan beberapa informasi mengenai Kota Parepare yang berhasil kami rangkum, semoga bisa membantu kalian semua dalam merencanakan perjalanan wisata ke tempat ini ya, dan jangan lupa untuk terus mengikuti kisah petualangan goweswisata kami berdua karena pada chapter berikutnya kita akan berwisata kematian jreng-jreeeng hehe… nah lho kok kematian dijadikan tempat wisata? Penasaran kira-kira kemana petualangan kami berikutnya? Nantikan di chapter berikutnya ya