Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Wednesday, 29 January 2014

Gua Jepang


Sebenarnya Gua Jepang banyak terdapat di seantero pelosok Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, Gua Jepang juga terdapat di beberapa wilayah (tidak hanya satu), karena pada zaman merebut kemerdekaan, Jepang juga pernah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun

Salah satu dari sekian banyak Gua Jepang yang saya kunjungi kali ini terdapat di Dusun Nogotirto, berada tidak jauh dari Gua Sentono dan Candi Abang (telah dibahas di post tersendiri sebelumnya)


Jika sebelumnya kita start dari Candi Abang (dari mulai papan penunjuk lokasi Candi Abang, setelah tanjakan), maka kalau arah ke Candi Abang kita harus belok ke kiri mengikuti arah yang ditunjukkan oleh papan petunjuk, arah ke Gua Jepang cukup lurus saja (tidak usah belok kiri), ikuti jalan kerikil dan paving semen sampai menemukan turunan yang cukup curam, setelah turun dan belok kanan, maka lokasi Gua Jepang berada tepat di sebelah kanan


Sebenarnya Gua ini bukanlah Gua yang terbentuk secara alami, tetapi berupa bukit batu cadas yang dibolongi dan dibentuk menjadi semacam terowongan, dengan 4 buah pintu masuk yang berada di bagian depan Gua, setiap lorong dari 4 buah pintu tersebut saling terhubung, dimana panjang lorong pada pintu 1 dan 3 lebih panjang daripada lorong yang terdapat pada pintu 2 dan 4




Persimpangan yang menghubungkan antar lorong


Menurut cerita, Gua ini dibuat oleh tentara Jepang untuk menyimpan amunisi, hal ini bisa terlihat dari adanya ceruk-ceruk pada dinding lorong yang kemungkinan dipergunakan untuk menaruh senapan dan amunisi lainnya. Di dalam gua ini juga terlihat lubang bentukan yang kini sudah ditutup semen dan besi sebagai landasan untuk meletakkan bom. Kini bom dan amunisi yang pernah disimpan dalam Gua tersebut sudah tidak ada lagi karena sudah dikeluarkan pada tahun 1947

Candi Klodangan


Awalnya saya mengunjungi lokasi Candi ini karena tidak sengaja melihat ada papan penunjuk arah yang bertuliskan arah ke Candi Klodangan saat saya dan rekan Gowes Wisata lainnya hendak menuju Gua Sentono melewati rute Blok O

Untuk lebih mudahnya, rute menuju lokasi ini jika kita start dari depan JEC (Jogja Expo Center), maka terus saja kearah timur menuju perempatan Blok O, dari perempatan Blok O ikuti jalan saja, pertigaan belok kanan, perempatan belok kiri, terus ikuti jalan hingga komplek Paskhas AU, menyeberangi jembatan dan menemukan perempatan pertama (perempatan SMP Muhammadiyah 1 Berbah), terus saja nanti setelah sekitar 2-3km ada papan penunjuk arah Candi Klodangan (papannya rada kecil ukurannya, jadi pelan-pelan saja dan harus cermat hehe), belok kanan mengikuti arah yang ditunjukkan melalui jalan paving block, terus saja nanti disebelah kanan ada papan petunjuk lokasi candi (sebenarnya jika ingin lebih mudah, sebelum papan petunjuk candi tersebut ada belokan kecil kekanan (bengkel las) hingga melewati kandang sapi, nah lokasi candi tidak jauh dari kandang tersebut)


Lokasi Candi Klodangan yang berada di Dusun Klodangan, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY ini terletak di area persawahan warga, dan dikelilingi oleh hamparan sawah sehingga tidak tampak dari tepi jalan karena semua batu candi berada kurang lebih sekitar 2 m dibawah permukaan tanah dengan denah bangunan berbentuk bujur sangkar


Candi ini pun minim informasi karena di sekitar lokasi tidak ditemui papan keterangan yang berisi informasi terkait candi ini. Candi yang ditemukan pada tangga 3 Juni 1998 ini sulit di identifikasi sebagai candi Buddha atau candi Hindu, karena saat ini yang tersisa dari candi tersebut hanya tinggal pondasinya saja yang tersusun dari batu putih

Menurut BP3 Yogyakarta, candi ini diperkirakan berasal dari abad ke-9 atau ke-10 M dan ditinggalkan oleh pendukung budayanya sebelum bangunan candi selesai dibangun. Candi Klodangan awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk setempat yang waktu itu tengah menggali tanah sawah untuk dibuat batu bata. Untuk mempermudah proses identifikasi candi maka penamaan candi pun disesuaikan dengan lokasi ditemukannya yaitu di Dusun Klodangan


Luas kompleks candi ini sekitar 8 m x 9,5 m. Secara keseluruhan situs ini bisa dikatakan belum dapat ditemukan bentuknya karena sebagian besar batuan pembentuk struktur candi telah hilang atau hancur. Beberapa bagian pondasi candi memang berhasil ditemukan, namun bagian kaki, tubuh, dan puncak candi tidak berhasil ditemukan. Bebatuan yang ditemukan memang dapat dikatakan membentuk struktur tertentu, namun belum dapat dipastikan bagaimana struktur yang sesungguhnya



Pada kompleks situs ini terdapat dua petak lubang galian, salah satunya berupa galian besar yang tampaknya berusaha menampakkan candi utama (induk), sementara galian lainnya berupa lubang yang menampakkan salah satu struktur pondasi atau bagian kaki candi



Arah hadap candi juga belum dapat diketahui secara pasti, begitupun sifat atau aliran dari candi ini, karena tidak ditemukan relief atau arca di sekitar bangunan candi ini. Batuan yang berhasil ditemukan sebagian memang menampakkan bentuk tertentu yang tampaknya merupakan bagian struktur dari sistem penguncian (penyambungan) antar batu

Sebagian besar jenis batuan yang ditemukan di situs ini merupakan jenis batu putih. Batuan yang umum ditemukan berukuran panjang sekitar 50 cm, lebar 30 cm, dan tebal 20 cm

Tambahan sumber referensi :
- http://www.tembi.net/id/news/bale-dokumentasi-situs/candi-klodangan-sleman--masih-minim-informasi-5282.html

Saturday, 25 January 2014

Candi Sari


Setelah sebelumnya kami mengunjungi Candi Sambisari, kami pun kemudian berniat melanjutkan agenda gowes kali ini menuju Candi Sari, namun ketika ingin menuju lokasi candi ini, saya sempat bingung dengan rute dan patokan menuju Candi Sari, dari hasil bertanya-tanya dengan warga di sekitar, rata-rata mereka malah menunjukkan arah ke Candi Sambisari, hal ini menyebabkan saya bertanya-tanya apa mungkin Candi Sambisari dan Candi Sari adalah candi yang sama, karena dari peta wisata yang saya bawa, jelas menunjukkan adanya dua buah candi dengan lokasi yang berbeda yaitu Candi Sambisari dan Candi Sari (saya pun menyimpulkan bahwa mungkin Candi Sari masih kurang populer jika dibandingkan dengan Candi Sambisari)

Rute yang paling mudah jika kita ingin mengunjungi candi ini ialah dengan melalui Jalan Jogja-Solo kearah Prambanan (timur), setelah melewati RS Bhayangkara di km.14 (sisi kiri jalan) dan melihat rumah makan ayam goreng sari kalasan di sisi kanan (seberang jalan) maka ada jalan masuk tepat diseberang rumah makan tersebut, dari situ sekitar 200 m kemudian akan terlihat bangunan Candi Sari

Dari hasil bercakap-cakap dengan masyarakat sekitar candi, nama Candi Sari sendiri ternyata kurang dikenal, masyarakat lebih banyak menyebut candi ini dengan nama Candi Bendan, karena lokasi dimana candi ini berdiri berada di Desa Bendan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY

Papan informasi yang berisi keterangan mengenai Candi Sari


Candi ini ditemukan kembali pada awal abad ke-20 dalam keadaan rusak berat. Pemugaran pertama dilaksanakan antara tahun 1929 – 1930 oleh Dinas Purbakala. pemugaran tersebut dirasa belum maksimal karena belum berhasil mengembalikan keutuhan bangunan aslinya, hal ini disebabkan oleh banyaknya bagian candi yang masih belum ditemukan, selain itu ketika pertama kali ditemukan terdapat bagian-bagian bangunan yang sudah rusak termakan usia, terutama yang bukan terbuat dari batu

Artefak-artefak Candi yang masih belum selesai disusun



Candi Sari yang memiliki arti candi yang indah, diperkirakan dibangun sekitar abad ke-8 M, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran zaman Kerajaan Mataram Kuno, bersamaan dengan pembangunan Candi Kalasan, hal ini dikarenakan pada kedua candi tersebut memiliki banyak kemiripan, baik dari segi arsitektur maupun reliefnya. Dugaan ini diperkuat dengan keterangan yang terdapat dalam Prasasti Kalasan (700 Saka/778 M). Dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan adalah Rakai Panangkaran, untuk mendirikan bangunan suci yang akan digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Tara, serta pembangunan sebuah biara untuk para pendeta Buddha. Oleh karena itu maka dibangunlah Candi Kalasan sebagai tempat pemujaan Dewi Tara, sedangkan Candi Sari dibangun untuk asrama pendeta Buddha. Fungsi Candi Sari sebagai asrama atau tempat tinggal terlihat dari bentuk keseluruhan bagian bangunan dan ruang yang terdapat didalamnya. Bukti lain bahwa candi ini merupakan candi Buddha terlihat dari bentuk stupa yang terdapat di puncak candi


Bangunan Candi Sari terdiri dari kaki, tubuh, dan atap. Candi yang memiliki tinggi 17 m, panjang 17,3 m, dan lebar 10 m ini pada bagian kakinya hanya tampak sebagian disebabkan banyak batu yang hilang. Bagian tubuh candi bertingkat dan memiliki denah persegi panjang, pintu masuk menuju bilik candi berada ditengah menghadap ke arah timur dan terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah pada bagian atas gerbang, pada bagian bawah dari gerbang bilik candi terdapat pahatan berupa orang yang sedang menunggang gajah. Pada setiap sisi tubuh candi terdapat jendela yang terbagi rata dan mengitari bagian tingkat atas dan bawah


Pahatan yang berbentuk orang sedang menaiki gajah


Tangga naik ke dalam bilik candi telah hancur. Di sisi tangga terdapat sebuah umpak batu, tidak jelas apakah umpak batu tersebut memang aslinya berada disitu, namun tampaknya bagian bawah umpak batu tersebut terbenam dalam tanah


Dahulu ambang pintu di dinding candi terletak dalam bilik penampil yang menjorok keluar, namun saat ini bilik penampil tersebut sudah tidak tersisa, sehingga pintu masuk ke ruang dalam candi dapat langsung terlihat


Hiasan Kalamakara pada Gerbang masuk bilik candi


Diperkirakan, dahulu terdapat pagar batu yang mengelilingi candi, dan pintu masuk candi dijaga oleh sepasang arca Dwarapala yang memegang gada dan ular, seperti yang terdapat di depan Wihara Plaosan, namun saat ini pagar tersebut sudah tidak ada

Candi Sari ini aslinya memang merupakan bangunan bertingkat dua atau bahkan tiga. Lantai atas dulunya digunakan untuk menyimpan barang-barang kepentingan keagamaan dan meditasi bagi para pendeta Buddha (Bhiksu), sedangkan lantai bawah digunakan untuk upacara keagamaan, seperti belajar-mengajar, berdiskusi, dan lainnya

Dari luar terlihat bahwa tubuh candi terbagi menjadi dua tingkat, yaitu dengan adanya dinding yang menonjol melintang seperti “sabuk” mengelilingi bagian tengah tubuh candi. Pembagian tersebut diperjelas dengan adanya tiang-tiang rata di sepanjang dinding tingkat bawah dan relung-relung bertiang di sepanjang dinding tingkat atas

Relung-relung di sepanjang dinding luar candi, baik di tingkat bawah maupun atas saat ini dalam keadaan kosong. Diperkirakan dahulu relung-relung tersebut dihiasi dengan arca-arca Buddha

Bagian dalam dari tubuh candi terbagi menjadi tiga ruangan atau bilik yang masing-masing berukuran 3,48 m x 5,80 m dengan posisi sejajar dan masing-masing dihubungkan dengan lubang pintu dan jendela diantara tembok pemisah. Bilik-bilik ini aslinya dibangun sebagai bilik bertingkat. Tinggi dindingnya dibagi dua dengan lantai kayu yang disangga oleh empat belas balok kayu yang melintang, sehingga dalam candi ini seluruhnya terdapat 6 ruangan. Dinding bagian dalam kamar polos tanpa hiasan, pada dinding belakang masing-masing kamar terdapat semacam rak yang letaknya agak tinggi, kemungkinan dahulu digunakan sebagai tempat upacara agama dan menempatkan arca. Di lantai bawah terdapat beberapa tatakan arca dan relung bekas tempat meletakkan arca, namun saat ini tak ada satupun dari arca-arca tersebut yang masih tersisa, sedangkan pada dinding kamar bagian utara dan selatan terdapat relung untuk menempatkan penerangan


Lantai dan bagian bangunan tingkat dua yang terbuat dari kayu sekarang sudah tidak ada, tetapi pada dindingnya masih terlihat lubang-lubang bekas tempat menancapkan balok penyangga. Di dinding bilik selatan didapati batu-batu yang dipahat menyerong, yang berfungsi sebagai penyangga ujung tangga yang terbuat dari kayu



Pada dinding luar tubuh candi terpahat arca-arca yang diletakkan menjadi dua baris disamping jendela-jendela tingkat atas dan bawah. Ukuran arca-arca tersebut sama dengan ukuran tubuh manusia pada umumnya. Arca ini merupakan gambaran dari Dewa Bodhisatwa dan Dewi Tara yang berjumlah 36 buah, yakni 8 buah di sisi timur, 8 buah di sisi utara, 8 buah di sisi selatan dan 12 buah di sisi barat. Pada umumnya semua arca ini memegang teratai merah atau biru, dan digambarkan dalam sikap lemah gemulai (sikap Tribangga), begitu pula dengan roman mukanya yang digambarkan jauh lebih tenang dan halus, serta tidak terlalu mewah hiasannya. Selain itu disebelah kiri-kanan jendela terdapat pahatan Kinara-Kinari (Makhluk Kahyangan yang berbadan burung dan berkepala manusia), Suluran, dan Kumuda (daun dan bunga yang menjulur keluar dari sebuah jambangan bulat). Pada dinding bagian luar bangunan Candi Sari ini juga dilapisi dengan Vajralepa (Brajalepa) yang dimaksudkan untuk memperhalus dinding, memberikan warna cerah, dan pengawet batu supaya tidak lekas aus atau terkikis oleh cuaca




Atap candi berbentuk persegi datar dengan hiasan 3 buah relung di masing-masing sisinya. Bingkai relung juga dihiasi dengan pahatan berbentuk sulur-sulur, dan diatas ambang relung juga terdapat hiasan Kalamakara. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang nampak pada stupa di Candi Borobudur dan tersusun dalam 3 deretan sejajar


Dari hasil gowes Tour De’ Candi kali ini menyusuri bagian timur Yogyakarta, saya menduga dengan banyaknya jumlah candi yang tersebar di wilayah ini, dan letaknya yang saling berdekatan sehingga wilayah ini dijuluki kompleks candi-candi, maka seandainya di wilayah ini dilakukan penggalian lebih lanjut maka besar kemungkinan masih banyak lagi peninggalan bersejarah zaman Kerajaan Mataram Kuno yang akan ditemukan, dan dari situ ada kemungkinan kita akan semakin mengetahui bagaimana dan sejauh mana kebudayaan yang ada pada zaman tersebut

Semoga dari coretan catatan gowes sederhana saya selama ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua, sehingga kita semakin bisa mengenali Negeri tercinta kita ini dan mengerti alasan untuk mencintai Negeri ini dengan segala keunikannya, baik alam maupun sosial budayanya…:)

Kenali negerimu, cintai negerimu

Tambahan sumber referensi :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sari

Thursday, 23 January 2014

Candi Sambisari


Tujuan pertama dari agenda gowes Tour De’ Candi jilid kedua ini terletak di Desa Sambisari,, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Untuk menuju lokasi candi ini rutenya terbilang mudah dan bisa dilalui semua kendaraan. Jika kita start dari Yogyakarta menuju arah Prambanan (timur) melewati jalan Jogja-Solo, maka di sekitar km 10 ada papan penunjuk arah menuju candi di sisi kiri jalan, setelah masuk mengikuti arah yang ditunjukkan, terus lurus saja sampai bertemu Selokan Mataram, menyeberang Selokan Mataram, masuk melalui jalan pemukiman warga kemudian belok kanan sampai bertemu jalan aspal utama, kemudian belok kiri (utara), nanti akan terlihat gapura desa sambisari, Candi Sambisari berada tepat diutara dari jalan masuk tersebut.


Dengan harga tiket masuk untuk orang dewasa sebesar Rp. 2.000,- dan anak-anak Rp. 1.000,- , lokasi candi ini juga sering dijadikan area camping ground dan kegiatan outbond sehingga masyarakat diharapkan semakin menyadari dan menghargai cagar budaya bersejarah peninggalan zaman Kerajaan Mataram Kuno ini


Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber, candi ini awalnya ditemukan pertama kali pada tahun 1966 oleh seorang petani bernama Karyowinangun saat ia sedang mencangkul di sawahnya ketika tanpa sengaja mata cangkulnya mengenai sebuah batu besar yang mempunyai pahatan seperti relief, karena diduga batu tersebut merupakan bagian dari sebuah candi, maka ia bersama warga sekitar pun melaporkan hasil temuan tersebut kepada Dinas Kepurbakalaan

Dinas Kepurbakalaan melalui Balai Arkeologi Yogyakarta pun akhirnya menindaklanjuti temuan tersebut pada bulan Juli tahun 1966, dan akhirnya menetapkan areal sawah milik Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan dan diduga merupakan bagian dari sebuah candi yang terkubur dibawah areal sawah pun selanjutnya mulai digali lebih dalam, hingga akhirnya ditemukanlah ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno yang semakin memantapkan kesimpulan bahwa ada sebuah kompleks atau situs candi dilokasi tersebut yang telah terkubur selama ratusan tahun, terpendam oleh timbunan pasir dan batu yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi pada awal abad ke-11 atau sekitar tahun 1006, penamaan nama candi pun dilakukan sesuai dengan nama desa tempat candi ini berada

Setelah itu dimulailah proses rekonstruksi reruntuhan kompleks candi yang runtuh karena goncangan dan terpendam oleh material vulkanik dari letusan Gunung Merapi ini. Pemugaran dan rekonstruksi ulang terhadap kompleks candi sendiri baru dapat diselesaikan pada tahun 1987, dengan posisi candi berada pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah sekitar. Sehingga candi ini sering disebut sebagai candi pendem atau candi bawah tanah Tetapi sebagian ahli arkeologi mempirkirakan bahwa dahulu kemungkinan situs candi berada sama tingginya dengan permukaan tanah, seperti halnya candi-candi lainnya. Pintu masuk menuju kompleks candi ini terdapat di ke empat sisi bujur sangkar dengan menuruni tangga

Ketika diadakan penggalian ditemukan juga benda-benda bersejarah lainnya seperti tembikar, perhiasan, cermin logam, serta prasasti lempengan emas


Candi Sambisari yang merupakan Candi Hindu ini dibangun pada abad ke-9 (812-838 M) pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung dari Dinasti Syailendra di zaman kerajaan mataram kuno. Candi ini dibangun untuk memuja Dewa Syiwa (Syiwaistis)


Dengan ketinggian candi induk yang hanya sekitar 7,5 m dan posisi candi yang berada dibawah permukaan tanah sedalam 6,5 m, maka jika dilihat dari samping, candi ini seakan berukuran kecil. Bagian bawah candi induk berukuran bujur sangkar dengan ukuran 13,65 m x 13,65 m, sedangkan badan candi berukuran 5 m x 5 m. Kondisi candi utama yang menghadap ke arah barat ini pun relatif masih tampak utuh

Tubuh candi berdiri diatas batur yang berdenah dasar bujur sangkar dan mempunyai tinggi 2 m. Selisih luas batur dengan tubuh candi membentuk selasar selebar 1 m yang mengelilingi badan candi dilengkapi langkan setinggi sekitar 1,2 m. Tingginya langkan menyebabkan tubuh candi tidak terlihat dari luar, hanya atapnya saja yang terlihat menyembul keatas sehingga menimbulkan kesan tambun


Selasar yang berada mengelilingi badan candi



Kaki candi induk terlihat polos tanpa hiasan, namun bagian luar dinding langkan dihiasi sederet pahatan bermotif bunga dan sulur-sulur


Tangga untuk masuk pada candi induk berada disisi barat, tepat didepan didepan pintu bilik tubuh candi, tangga ini dilengkapi dengan pipi (dinding tangga) yang dihiasi pahatan sepasang kepala naga (makara; hewan ajaib dalam mitologi Hindu) dengan mulut menganga dan terdapat singa didalam mulutnya. Batu dibawah masing-masing kepala naga dihiasi pahatan berupa Gana dalam posisi berjongkok dengan kedua tangan diangkat keatas, seolah-olah menopang kepala naga diatasnya. Gana atau sering juga disebut Syiwaduta adalah makhluk kecil pengiring Dewa Syiwa. Pahatan berbentuk Gana juga terdapat di pintu masuk candi-candi besar di kompleks Candi Prambanan




Di puncak tangga terdapat gerbang Paduraksa dengan bingkai dihiasi pahatan, pada kaki bingkai dihiasi pahatan kepala naga yang mengadap keluar dengan mulut menganga. Hiasan yang sama juga terdapat di pintu masuk ke ruangan dalam, namun diambang pintu ruangan terdapat pahatan berupa Kalamakara tanpa rahang bawah



Pada masing-masing sisi dinding luar tubuh candi terdapat relung berisi arca. Pada relung di dinding sisi selatan terdapat arca Agastya atau Syiwa Mahaguru dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan dilehernya, di dinding sisi timur terdapat arca Ganesha, dan di dinding sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini

Arca Agastya


Pada arca Syiwa yang terdapat pada bilik bersama dengan lingga yoni berukuran besar digambarkan sebagai sosok pria bertangan dua dan berjenggot sedang berdiri di atas padma. Di sebelah kanannya terdapat sebuah trisula atau tombak bermata tiga yang merupakan senjata Syiwa. Bentuk arca ini mirip dengan arca Syiwa Mahaguru yang terdapat di kompleks candi Prambanan (saat ini arca tersebut disimpan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala)

Arca Ganesha (anak Dewi Durga) yang terdapat pada relung dinding sisi timur digambarkan dalam posisi bersila diatas padmasana (singgasana bunga teratai) dengan kedua telapak kaki saling bertemu, telapak tangan kanan pada arca ini menumpang diatas lutut dalam posisi tengadah, sementara telapak tangan kirinya menyangga sebuah mangkok. Ujung belalai Ganeha seolah sedang menghisap sesuatu dari dalam mangkok

Arca Ganesha


Pada relung dinding sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini (istri Dewa Syiwa), yaitu Durga sebagai Dewi Kematian. Durga digambarkan sebagai Dewi bertangan delapan dalam posisi berdiri diatas Lembu Nandi. Satu tangan kananya dalam posisi bertelekan pada sebuah gada, sedang ketiga tangan lainnya masing-masing memegang anak panah, pedang dan cakram. Satu tangan kirinya memegang kepala Asura, sedangkan ketiga tangan lainnya memegang busur, perisai dan bunga. Berbeda dengan yang terdapat di Candi Syiwa, Asura atau makhluk kerdil pengiring Durga pada relief Candi Sambisari digambarkan dalam posisi berlutut. Durga di candi sambisari sendiri juga digambarkan lebih sensual dilihat dari posisi berdirinya, kain penutup pinggul yang pendek sehingga memperlihatkan pahanya, bentuk payudara yang lebih menonjol, serta senyum yang menghiasi bibirnya

Arca Durga


Diperkirakan ada dua patung penjaga pintu yaitu Mahakala dan Nadisywara dikanan-kiri pintu namun sayangnya saat ini arca tersebut tidak diketahui berada dimana, entah hilang atau masih disimpan

Didalam bilik tubuh candi induk berukuran sekitar 4,8 m x 4,8 m terdapat sebuah Lingga Yoni berukuran cukup besar, keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Syiwa. Yoni terbuat dari batu berwarna putih, sedangkan Lingga terbuat dari batu berwarna hitam yang sangat keras dan mengkilap. Disepanjang tepi Yoni terdapat alur untuk menampung air suci persembahan yang diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati alur kecil yang berada pada yoni yang ujungnya berhiaskan kepala ular untuk kemudian ditampung dalam wadah



Selain candi induk, dikompleks candi ini juga terdapat 3 buah candi perwara (pendamping) berukuran 4,8 m x 4,8 m dan tinggi 5 m yang berada didepan candi induk (menghadap kearah berlawanan, menghadap candi induk). Candi-candi perwara tersebut hingga kini belum dipugar sempurna. Di sekeliling candi terdapat pagar tembok batu putih berukuran 50 m x 48 m, saat ini saluran pembuangan air pun telah selesai dibangun sehinga selama musim hujan kompleks candi ini tidak terbenam oleh air, lahan disekeliling candi pun telah digali dan ditata membentuk lapangan persegi dengan tangga di keempat sisinya. Sebagai pembatas terdapat 8 buah patok yang tersebar di setiap arah mata angin

Candi perwara yang berada di sisi paling selatan



Yoni yang berada didepan candi perwara sisi selatan


Candi perwara yang berada di tengah


Candi perwara yang berada di sisi utara


pagar yang mengelilingi kompleks candi



Ada dugaan bahwa candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tidak ditemukan batu-batu bagian atap. Bagian dalam candi perwara tengah dan utara memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan pamasana (bunga teatai) berbentuk bulat cembung diatasnya. Kemungkinan padmasana dan lapik digunakan sebagai tempat menaruh arca atau sesajen

Lapik bujur sangkar yang berada didalam candi perwara tengah dan utara




Diperkirakan kompleks candi bisa lebih luas lagi jika diadakan penggalian lebih lanjut, tetapi dikhawatirkan nantinya tidak dapat menyalurkan air untuk dibuang, karena posisinya lebih rendah daripada sungai yang ada disebelah baratnya

Bangunan candi induk Sambisari cukup unik karena tidak mempunyai pondasi alas atau pilar penyangga candi seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah, dengan bagian kaki candi dibiarkan polos tanpa relief apapun. Beragam hiasan baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar

Tambahan sumber referensi :
- http://candi.pnri.go.id/jawa_tengah_yogyakarta/sambisari/sambisari.htm
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sambisari
- http://candidiy.tripod.com/sambisari.htm
- http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/sambisari