Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Sunday, 9 February 2014

Jembatan Gemblung

Setelah sekian lama saya menjelajahi berbagai obyek wisata di Yogyakarta, baik yang sudah dikenal maupun yang masih tersembunyi dan belum banyak diketahui oleh masyarakat umum, mulai yang berlokasi di dalam Kota Yogyakarta dalam kondisi terawat maupun yang untuk mencapainya terpaksa harus blusukan lebih jauh dengan kondisi tidak terawat, ternyata tanpa saya sadari ada lokasi tersembunyi yang berjarak tidak jauh dari kediaman saya sendiri dan sebenarnya sering saya lewati saat saya sedang melakukan agenda gowes wisata ke obyek-obyek wisata lain, obyek tersebut adalah sebuah jembatan kuno peninggalan zaman penjajahan Belanda yang bernama Jembatan Gemblung



Jembatan ini berada di Desa Sumber Kidul, Kalitirto, Berbah, Sleman. Jika dari rute Blok O ikuti jalan saja melewati Paskhas-AAU terus saja kearah timur nanti kita akan melewati Pemakaman Gemblung di sisi kiri jalan, kira-kira 100 meter kemudian kita akan melihat Jembatan Gemblung di sisi kanan jalan, berdampingan dengan jembatan beton modern yang digunakan saat ini


Di bawah jembatan ini mengalir Sungai Opak yang cukup deras. Suasana di sekitar lokasi pun masih sangat asri, karena masih banyak pohon-pohon besar dan rimbun yang menghiasi tempat ini sehingga sejenak kita dapat me-refresh dan me-refill paru-paru kita dengan udara bersih minim polusi






Jembatan Gemblung saat ini memang sudah tidak difungsikan lagi sebagai jembatan utama, perannya yang berjasa sebagai penghubung antar desa pada zaman penjajahan Belanda kini sudah tergantikan oleh kehadiran sebuah jembatan berkonstruksi beton yang terletak tidak jauh dari Jembatan Gemblung. Kondisi Jembatan Gemblung yang tidak terawat dan sudah termakan karat pada besi-besi penopang jembatan tersebut, serta badan jembatan yang sudah mulai bolong-bolong termakan usia kini menjadi daya tarik tersendiri



Dengan lebar Jemabatan sekitar 1 meter dan panjang sekitar 10 meter, pada badan jembatan banyak tumbuh rumput liar dan pohon-pohon kecil yang tumbuh dengan sendirinya, seakan menjadi elemen pelengkap yang menghias dan mempercantik suasana di Jembatan Gemblung

Selain kondisi fisik jembatan yang menarik itu, di sungainya sendiri juga terdapat keunikan khas bentang alam gunung berapi berupa perpaduan batuan karst dan andesit vulkanik. Jejeran batu karstnya berada di bagian sisi timur sungai, sedangkan batuan andesit vulkanik terdapat di sisi barat sungai






Sebenarnya jembatan ini bukan bernama Jembatan Gemblung, nama Gemblung itu sendiri adalah nama pemakaman umum yang berada tidak jauh dari lokasi jembatan tersebut



Menurut keterangan masyarakat sekitar Desa Sumber Kidul, jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Jembatan ini dibuat untuk mendukung transportasi pihak Belanda dan warga sekitar ketika ingin menyeberangi Sungai Opak




Jika dahulu Jembatan Gemblung telah menjadi saksi bisu yang berjasa menghubungkan antar desa dan menjadi pendukung transportasi bagi masyarakat sekitar, maka keberadaannya saat ini bisa dijadikan sebuah destinasi wisata maupun lokasi pemotretan model dan pre wedding yang bernuansa asri dan penuh sejarah

Narsis dulu hehe...:)



Main air, awas terpeleset



Tambahan sumber referensi :
- Majalah Travelta edisi 7, Januari-Februari 2013

2 comments:

  1. sungainya keren dengan bebatuan seperti itu ,,,
    berkesan banget sungai tuanya

    ReplyDelete
  2. sekarang dah dibuka dan dikelola oleh masyarakat sekitar, tapi namanya berubah jadi lava bantal (padahal penamaan awalnya yang jembatan gemblung ada kaitannya dengan sejarah eladalah kok tau2 skrg dinamain lava bantal)

    ReplyDelete