Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Wednesday, 29 October 2014

Bike Camping @Kali Kuning, Yogyakarta

Bertepatan dengan peringatan tahun baru 1 Muharam menurut sistem penanggalan Kalendar Islam yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober kemarin, jauh hari sebelumnya saya sudah memikirkan enaknya agenda goweswisata kali ini kemana ya? Mencoba mencari ide agenda gowes yang seru dan tidak biasa supaya gowes kali ini tidak cuma begitu-begitu saja akhirnya iseng terlintas bagaimana jika agenda goweswisata kali ini diisi dengan bike overnight atau lebih spesifiknya bike camping

Gagasan bike camping kali ini pun saya umumkan di WA grup goweswisata jika sekiranya ada rekan lain yang berminat, akhirnya dari hasil chit-chat di WA grup, anggota yang positif mau ikut mencoba bike camping hanya 3 orang, termasuk saya sendiri

Tahap Persiapan

Pertanyaan yang paling umum dan sering ditanyakan oleh mereka yang baru pertama kali mencoba bikecamping adalah apa saja yang perlu dibawa? Disana ada fasilitas apa saja? ada toilet atau tidak? makannya bagaimana? perlu bawa tenda atau ada penginapan?dan beragam pertanyaan printilan lainnya

Nah,bagi saya pribadi, karena saya menganggap bikecamping kali ini juga sebagai ajang latihan untuk persiapan agenda gowes jarak jauh mendatang maka saya mencoba membawa full gear selayaknya yang nanti juga akan saya bawa saat melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh (untuk detail apa saja perlengkapan yang saya bawa akan dibahas pada post tersendiri nanti )

Membiasakan gowes dengan membawa beban full loaded dengan rute menanjak cukup menantang, karena sebagaimana kita semua tahu jika di Indonesia yang notabene termasuk bagian” ring of fire” karena banyaknya gunung berapi yang masih aktif dan tersebar di pelosok nusantara ini, otomatis rute yang akan ditempuh pasti akan menjumpai medan dengan kontur menanjak dan menurun, sehingga jika sudah terbiasa melakukan gowes dengan bawaan full loaded maka kedepannya saya tidak akan terlalu kaget lagi jika harus menempuh rute menanjak lainnya (yang pastinya lebih menantang hehe)

Tujuan bike camping kali ini adalah wilayah sekitar lereng Gunung Merapi, tepatnya di bagian atas lembah Kali Kuning dengan ketinggian sekitar 917 mdpl, Cangkringan.Rencananya kami akan start sekitar jam 06.30 WIB dari basecamp goweswisata melalui Jalan Kaliurang.

Packing-packing dahulu


Setelah semua perlengkapan selesai di packing kedalam panniers, maka kami (saya dan pasangan saya, Agitya Andiny K) mulai start gowes menuju Jalan Gejayan untuk menunggu salah seorang rekan goweswisata lainnya yang juga ingin mencoba bikecamping kali ini

Karena hari ini adalah hari libur maka suasana jalan cukup lengang di pagi hari, beberapa pengendara kendaraan bermotor yang melihat kami berdua sepertinya cukup heran atau bertanya-tanya dalam hati dari manakah kami atau mau menuju kemana, karena melihat panniers dan beban yang kami bawa di rak sepeda masing-masing

Setibanya di Jalan Gejayan, kami pun berhenti sebentar sembari menunggu rekan lainnya (Tadeus Rian) yang datang tidak lama kemudian. Setelah semua komplit dan beres maka kami bertiga lanjut gowes lagi menuju Jalan Kaliurang untuk berikutnya terus kearah Utara sampai kemudian tiba di pertigaan traffic light sebelum Terminal Pakem

Dari pertigaan traffic light tersebut kami belok ke kanan ke arah Kaliadem, ikuti penunjuk jalan saja mudah dan jelas kok. Kontur jalan menanjak yang awalnya landai saat di Jalan Kaliurang, mulai meningkat setibanya kami di Desa Wukirsari dan terus ke Utara, semakin ke Utara tanjakan pun semakin menguras tenaga, pokoknya konturnya hanya naik…naik…dan terus naik

Beberapa kali kami sempat berhenti untuk beristirahat sejenak, karena pada gowes kali ini kami tidak mengejar target harus sampai jam berapa atau harus dengan kecepatan berapa. Kami gowes santai menikmati setiap kayuhan ini, terutama karena kami bukanlah goweser pengejar rekor waktu atau jarak hehe… kami hanyalah goweser biasa yang suka berpetualang tidak jelas

Di Desa Wukirsari kami pun sempat berhenti untuk sarapan, mengisi perut yang mulai kelaparan, dan seperti biasa kalau perut sudah kenyang ditambah dengan semilir angin sepoi-sepoi membuat kami jadi malas gowes hehe…ayoo jangan malas, perjalanan masih panjang, lanjut gowes lagi

Sarapan dulu, isi BBM "bahan bakar mancal"


Melahap kontur tanjakan ditambah terpaan sinar matahari yang terik merupakan kombinasi yang sangat menyiksa, namun disinilah kami belajar untuk mengatur emosi dan mood masing-masing, karena dalam hal ini yang kami hadapi bukan hanya sekedar menaklukkan tanjakan atau panasnya matahari, melainkan kami juga harus mengatasi rasa kesal terhadap diri sendiri dan belajar membangun semangat dari dalam diri supaya bisa menaklukan tantangan ini, terkadang kaki ini tidak menyerah atau lelah ketika harus terus menggowes, namun justru pikiran kami sendirilah yang menjadi penghambat karena rasa ragu, was-was, menyerah, dan sebagainya, oleh karena itu dari setiap perjalanan yang kami lakukan kami juga terus mencoba belajar memetik inspirasi yang bisa kami dapat dari setiap cerita perjalanan ini


Disaat menghadapi kontur yang semakin menanjak pun beberapa rekan juga ada yang akhirnya terpaksa harus TTB alias menuntun sepeda, tenang saja menuntun sepeda bukanlah hal yang memalukan kok, daripada memaksakan untuk terus gowes terkadang kita juga harus mengatur strategi untuk menghemat tenaga menurut apa yang kita rasa nyaman bagi diri kita sendiri dan menyesuaikan dengan kemampuan individu masing-masing


Beristirahat sejenak dekat dengan bak penampungan air, huff rasanya seperti melihat oase



Setelah melewati pos tiket masuk menuju wilayah Kali Kuning (tentu saja kami gratis, karena tiket hanya dikenakan untuk pengunjung yang datang menggunakan kendaraan bermotor), kontur jalan benar-benar makin menanjak elevasinya, sehingga kami bertiga pun akhirnya menuntun sepeda dan berjalan kaki kira-kira 2km dari mulai pos tiket masuk tersebut

istirahat lagi


Sisa rumah warga yang rusak terkena dampak awan panas letusan Merapi beberapa tahun yang lalu



akhirnya sampai juga yeaaaayyy :)


Jika pada post mengenai Kali Kuning sebelumnya saya masuk melalui Desa plunyon, maka kali ini kami tidak melalui Desa tersebut, melainkan terus menanjak lagi ke arah Utara hingga tiba di Grinata Adventure, yaitu sebuah pos informasi jeep wisata merapi (untunglah Rian kebetulan kenal dengan salah seorang pengelola disitu sehingga setelah meminta ijin dan menjelaskan maksud kedatangan kami, kami pun diperbolehkan untuk camping secara gratis dan bebas mendirikan tenda di lokasi yang kami inginkan, bahkan kami juga ditawari untuk menginap di rumah sang pengelola)


pemandangan sekitar yang mengobati semua rasa lelah kami


Setelah memarkir sepeda di samping pos pengamatan, maka Saya dan Rian pun mencoba berkeliling mencari spot yang nyaman untuk mendirikan tenda, akhirnya kami pun menemukan spot yang cukup strategis di bagian atas lembah Kali Kuning, lokasinya tidak terlalu ramai namun juga masih tetap dapat melihat Kantor Pengelola dengan jelas, supaya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kami dapat segera meminta pertolongan, selain itu pemilihan lokasi diatas lembah juga karena kami pikir sangat strategis untuk menikmati sunrise


Baiklah saatnya unpacking pannier-pannier dari sepeda masing-masing, perlengkapan camping pun segera disiapkan. Kami bekerjasama membantu mendirikan tenda-tenda (dalam hal ini tenda milik Agit terlebih dahulu yang kami dirikan, karena yang bersangkutan sepertinya sudah kelelahan hehe..), setelah tenda milik Agit beres, maka Saya pun mendirikan tenda milik saya sendiri (sekaligus juga melakukan tes terhadap tenda yang saya dapat dalam kondisi second ini pada sebuah forum web jual-beli, karena nantinya tenda inilah yang akan menjadi “rumah” saya pada perjalanan bersepeda jarak jauh kedepannya ), sedangkan Rian hanya mendirikan bivouac saja





Tenda Merapi Mountain berdiri di tempat yang sesuai namanya, Gunung Merapi :)


Ternyata yang punya ide untuk melakukan kegiatan camping di tempat ini bukan hanya rombongan kami saja, menjelang sore hari rombongan para wisatawan yang lainnyadengan diantar jeep juga berdatangan dengan membawa perlengkapan camping masing-masing, tetapi mereka memilih spot camping di dasar lembah Kali Kuning yang berdekatan dengan aliran sungai kecil, untunglah sehingga lokasi camping kami yang berada di atas lembah tetap sepi dan tenang


Baiklah, urusan tenda dan tempat untuk beristirahat masing-masing sudah selesai, kini saatnya menyegarkan diri dengan mandi (tenang saja di seberang jalan dari Kantor Pengelola jeep wisata ada toilet umum milik sebuah warung, sehingga urusan bersih-bersih dan makan menjadi mudah), setelah seharian berkeringat karena gowes menanjak maka mandi dengan air yang dingin dan jernih menjadi suatu hal yang “membahagiakan”


Setelah selesai mandi, badan pun menjadi segar kembali. Saya dan Rian kemudian berkeliling mencari ranting kering dan batu untuk membuat api unggun, karena hampir dipastikan pada malam hari suhu pasti akan menjadi dingin


Malam hari pun tiba, tenang dan nyaman sekali camping disini, di ketinggian 917 mdpl ini suhu sangat sejuk bahkan cenderung dingin, hanya terdengar suara alam dan binatang-binatang malam, dilangit pun bintang-bintang juga terlihat dengan jelas dan sangat banyak (sayangnya karena kamera saya hanyalah kamera pocket biasa maka tidak bisa mendokumentasikan pemandangan langit malam yang indah bertaburkan bintang-bintang)

Jika rombongan wisatawan yang camping di dasar lembah hingga malam hari masih bernyanyi dan bersenda gurau, maka keadaan yang berbeda justru terjadi pada rombongan kami, mungkin karena kelelahan setelah seharian gowes dan menuntun sepeda maka sekitar pukul 20.00 WIB kami semua sudah terlelap di tenda masing-masing hehe…

Day 2, Minggu 26 Okt 2014


Sekitar pukul 04.00 WIB adzan subuh pun berkumandang melalui pengeras suara yang terdapat di masjid-masjid milik warga sekitar, saya pun bangun dan keluar dari tenda melihat-lihat keadaan sekitar, tampaknya semalam kabut turun disekitar lokasi camping kami, untunglah tidak terjadi angin kencang sehingga tenda-tenda masih aman berdiri, hmm…lapisan flysheet bagian dalam tenda saya tampaknya mengalami sedikit kondensasi, untunglah tidak sampai menetes ke bagian inner tenda, Rian dan Agit masih tertidur di tenda masing-masing tetapi tidak lama kemudian mereka pun bangun karena bunyi alarm di cellphone masing-masing yang memang sudah disetting supaya kami semua bisa menikmati sunrise




Setelah menyaksikan sunrise, kami pun berkeliling dan mencoba turun ke dasar lembah Kali Kuning. Beberapa warga lokal juga telah memulai aktivitasnya mencari rumput untuk makanan hewan ternak mereka



Mencoba berkeliling ke dasar lembah Kali Kuning





Beginilah cara kami menikmati setiap petualangan gowes :)


sekalian bisa buat bikin foto prewedding hehe...yang ini real tanpa disetting oleh fotografer dan bayar mahal, pokoknya asli dan gratis :)




Bicycle in love (sepedanya juga tidak mau kalah)


This is what i call a freedom :)






Setelah puas berfoto-foto mendokumentasikan keindahan panorama lembah Kali Kuning dan Gunung Merapi, kini tiba saatnya untuk mulai beres-beres packing dan bersiap untuk pulang.Sampah-sampah sisa makanan kami kumpulkan dan jadikan satu kedalam kantong plastik yang memang kami persiapkan sejak awal berangkat supaya mudah dibawa untuk kemudian dibuang ke tempat sampah yang disediakan tidak jauh dari lokasi Kantor Pengelola. Setidaknya hal inilah yang bisa kami lakukan supaya keindahan alam ini tetap terjaga, terlebih jika datang dan mengaku sebagai pecinta alam dengan mengenakan gear atau memakai atribut berlabel komunitas pecinta alam tetapi saat pulang justru meninggalkan sampah-sampah yang berserakan, setidaknya pakailah prinsip “leaves nothing except photos for your documentation”, dan jangan merusak alam dengan mencabut bunga-bunga edelweiss yang tumbuh disekitar lokasi, akan lebih baik jika semua berada di tempat yang semestinya


Bersiap pulang dan sepertinya akan ada lagi kegiatan bike camping berikutnya karena kami semua ketagihan untuk mencoba bike camping di lokasi yang berbeda untuk kedepannya :)


Sampai jumpa lagi Merapi, semoga keindahanmu dapat terus terjaga :)


Cat : terimakasih kepada Pengelola Grinata Adventure atas keramahannya

Tuesday, 14 October 2014

Genevieve Fortin

Tamu istimewa goweswisata kali ini bernama Genevieve Fortin, seorang petouring wanita dari Kanada yang sedang dalam perjalanan bersepeda keliling dunia seorang diri, yang kebetulan rutenya melewati Indonesia, dan Kota Yogyakarta adalah titik awal dimana ia akan memulai petualangan bersepedanya selama di Indonesia


Awal perkenalan antara saya dengan Gene sebenarnya agak unik dan tidak sengaja, berawal di sebuah forum internet bersepeda jarak jauh yang saya ikuti, ada sebuah post dari seorang petouring wanita yang mempunyai rencana mengunjungi Indonesia, ia meminta saran kepada beberapa member mengenai lokasi terbaik untuk memulai jika ingin mengunjungi dan bersepeda di Indonesia. Hmmm...baiklah karena saya adalah orang Indonesia maka saya pun memberikan saran kepadanya untuk memulai perjalanannya di Yogyakarta atau Jawa Tengah karena beberapa alasan, yaitu harga makanan yang relatif lebih murah, rute yang tidak terlalu macet, pemandangan alam yang masih asri, serta kehidupan sosial budaya masyarakatnya yang masih kental. Setelah itu saya juga mengirimkan friend request kepadanya untuk memudahkan berkomunikasi

Tidak lama setelah itu, kami pun mulai saling chit-chat secara lebih intens, terutama menyangkut jadwal kedatangannya, pesawat yang digunakan, dan tempat dimana kita akan bertemu. Hari-H pun tiba, ia mengirimkan message kepada saya bahwa ia sudah berada di Bandara di Jakarta dan sedang menunggu jadwal penerbangan domestik berikutnya menuju Yogyakarta, dan diperkirakan ia akan tiba di Bandara Yogyakarta sekitar pukul 14.00 WIB

Sekitar pukul 14.30 WIB saya pun tiba di bandara dan menunggu kabar darinya (tentunya saya juga telah memperhitungkan waktu yang ia butuhkan untuk mengambil bagasi, sepeda, serta merakit sepedanya). sebuah pesan pun masuk darinya yang mengatakan (dan sepertinya panik) bahwa sepedanya mengalami kerusakan saat pengiriman melalui bagasi pesawat, baiklah saya pun langsung menanyakan dimana posisinya saat ini (untunglah saya juga selalu membawa toolkit saat bersepeda)

Setelah saya mendapatkan posisinya yang sedang menunggu di Information Center maka saya pun bergegas menuju kesana dan mencari dimanakah dia, bukan perkara sulit untuk mencarinya, karena cukup melihat sosok turis dengan sepedanya saja hehe...

Ok basa-basi perkenalan singkat (hanya dengan berjabat tangan), maka ia pun langsung bercerita bahwa sepedanya rusak akibat jasa pengiriman oleh maskapai, hmmm... dalam situasi yang panik begini tentu saja tidak menyelesaikan masalah, ditambah lagi kami juga dikerubungi oleh para petugas bandara yang hanya diam melihat kepanikannya (mungkin bingung melihat ada turis asing yang membawa sepeda dan mondar-mandir sembari berkata "oohh my bicycle is broken")

Saya pun mencoba memeriksa kondisi sepedanya, baiklah RD hangernya memang agak bengkok kedalam, mungkin karena tertindih oleh barang-barang lainnya, tetapi sepertinya hanya itu saja, masih mudah untuk diperbaiki. saya pun mengatakan kepadanya jika untuk sementara lebih baik menggunakan single speed saja ketika bersepeda menuju rumah saya (saya pun mengatur ratio gearnya terlebih dahulu supaya tidak terlalu berat untuknya), dan rencananya besok barulah kita menuju bengkel sepeda untuk memperbaiki RD hangernya

Sambil merakit ulang sepedanya (memasang rak, panniers, serta mengikat kruk / tongkat penyangga yang biasa digunakan oleh orang yang kakinya terluka ke rak sepeda saya) kami pun mulai melanjutkan perjalanan ke rumah saya (oya pada saat Gene tiba, kondisi kakinya juga masih diperban karena mengalami kecelakaan "yang konyol" sebelumnya)

Setibanya dirumah dan unpacking semua panniersnya, saya pun menunjukkan kamar untuknya beristirahat, serta menawarkan jika ia ingin mandi terlebih dahulu (tidak lupa memberitahu kalau lampu kamar mandinya rusak hehe...you must be have your own light right)


Setelah semuanya beres maka kami pun mencari makan (dan akhirnya saya tahu bahwa ia adalah benar-benar seorang food lover), ia pun sempat tidak percaya ketika mengetahui bahwa harga makanan disini sangatlah murah (terutama pada perjalanan sebelumnya ia mem-budgetkan 7$/hari, tetapi disini wow 7$ sangatlah besar, mungkin cukup untuk 5 hari hehe), dan bagi para cyclist yang kelaparan, dengan harga makanan yang murah maka hal tersebut sangatlah terasa membahagiakan hehe... ujung-ujungnya tentu saja menjadi lapar mata, setelah makan malam pun ia pun masih menyempatkan membeli buah-buahan, dan bakpao, well this day is enogh for us, have a nice rest Gene :)

Day 2

Saya bangun pagi dan selesai beres-beres rumah sekitar pukul 07.30 WIB, rencananya hari ini kami akan ke bengkel sepeda untuk memperbaiki RD hanger sepedanya setelah itu mungkin berkeliling dalam kota saja. Gene masih tidur, baiklah mungkin ia lelah setelah bersepeda jarak jauh sebelumnya, saya pun menunggu sembari memesan sarapan terlebih dahulu (keuntungan dari rumah saya adalah di depan rumah berjejer kios makanan kecil seperti angkringan, soto, gado-gado dan lotek, sehingga tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk mencari makan)

Jam 08.30 WIB dan Gene masih belum bangun, wow she's sleep like a bear in the cold season LOL, akhirnya sekitar pukul 09.00 WIB ia pun bangun dan bersiap-siap, setelah sarapan Lotek (sepertinya lotek akhirnya menjadi makanan favorit para traveler asing selama disini) kami pun mulai gowes menuju bengkel langganan saya, sepanjang perjalanan saya pun menjelaskan kepadanya beberapa hal mengenai Kota Yogyakarta


Tidak butuh waktu lama bagi pemilik bengkel untuk memperbaiki RD hanger yang bengkok dan sekaligus mengecek ulang semua gear sepedanya, setelah semua dirasa beres kami pun lanjut gowes lagi mencari tempat penukaran uang yang kebetulan banyak terdapat diwilayah sekitar Prawirotaman, baiklah satu persatu masalah mulai teratasi, dan saya pun mengatakan kepadanya untuk menikmati hari ini dan hari-hari seterusnya selama berada di Indonesia, terkadang senyuman juga akan membuat hari menjadi lebih baik

Dari Prawirotaman, saya pun mengajak Gene menuju Alun-alun Selatan, serta menjelaskan filosofi tentang keberadaan dua buah pohon beringin besar yang terdapat di Alun-alun Selatan, beberapa orang percaya bahwa jika kita berjalan menutup mata dan mampu melewati (berjalan diantara) kedua Pohon Beringin tersebut maka apa pun yang kita inginkan akan terwujud.

"Oohh that's so easy, i can do that", kata Gene, ya..ya..ya..just prove it, some people used to say like that, but finally the result is not as easy as you think, suddenly they turn to the right or left when they're almost near and pass the three, or hit the wall. Baiklah saatnya pembuktian, easy like you say? i think not, i think i'll be laught on you. Setelah sepeda kami parkirkan, maka saya pun mengarahkan Gene tepat didepan kedua beringin tersebut, ok close your eyes, don't be cheatin', setelah saya memutar badannya sebanyak tiga kali dan mengarahkannya tepat kearah kedua beringin tersebut, mulailah ia berjalan. Awalnya lurus dan terkendali, tetapi lihat apa yang terjadi setelah ia mendekati pohon tersebut, tiba-tiba ia pun berbelok ke kiri, saya pun mulai tersenyum sampai akhirnya saya pun mengatakan "ok now open your eyes", and... "whaattttt, why this could happen, i'm sure i just on the right direction", katanya, "ok, it's easy right, like what you've said before", saya pun tertawa dan menyindirnya, lucu sekali melihat raut mukanya yang kebingungan, "don't worry Gene, someday what you wish will comes true, and i wish you all the best in your life".


Setelah berpanas-panasan akhirnya ia pun membeli minuman sari tebu, yang menurutnya adalah minuman yang paling ia cari, dan ia kira minuman seperti ini hanya ada di India, "in here we have a lot".



Berfoto sejenak di Alun-alun Utara


hari ini pun berakhir dengan kekonyolan dan penuh tawa, dan malamnya seperti biasa, memesan makanan dan jajan lagi, wondering how your stomach can load all the food, you're really a food lover

Day 3

Good morning Gene


Malam sebelumnya kami telah merencanakan jika hari ini jadwalnya adalah berkunjung dan melihat candi-candi, tetapi ya namanya juga jadwal bebas maka acara bisa berubah sewaktu-waktu hehe...setelah menunggu Gene (the hibernation bear) bangun tidur, dan sarapan, kami pun gowes menuju kantor pos untuk mengirim beberapa aplikasi asuransi miliknya terkait dengan "kecelakaan konyol" kakinya, setelah itu saya berpikir jika ke candi maka jalannya berputar-putar, maka saya pun langsung mengubah tujuan menuju arah bantul, tepatnya ke Jembatan Gantung Selopamioro, karena di situ Gene juga bisa melihat bagaimana aktivitas masyarakat pertanian dan pemandangannya tentu saja

Mampir sebentar ke pabrik krupuk skala rumahan yang berada tidak jauh dari rumah saya


Foto-foto sepanjang perjalanan




Rute menuju Jembatan Gantung Selopamioro sudah mengalami perbaikan, beberapa kondisi jalan sudah mulai diaspal halus, walau belum semuanya, di sepanjang perjalanan kami pun sempat mengambil dokumentasi serta diundang untuk beristirahat sejenak di rumah salah seorang warga yang kebetulan rumahnya terbuat dari kayu dan bernuansa tradional, sehingga menarik untuk di foto


Pertanyaan seperti darimana, kemana, dan bagaimana kami bisa saling bertemu tampaknya menjadi pertanyaan standar, beberapa pertanyaan yang bersifat agak pribadi juga ditanyakan oleh warga lokal, seperti apakah kami pasangan, apakah saya guidenya, apakah ia memiliki suami atau anak, dan lainnya, beberapa bahkan mencoba menawarkan pasangan untuk Gene LOL


Setelah sempat beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan gowes lagi menuju lokasi Jembatan Gantung, hari ini angin bertiup sangat kencang sekali, sehingga kami menjadi agak lambat karena kami gowes melawan arah angin





Setibanya di Jembatan Gantung lagi-lagi hal konyol kami lakukan, bukannya mengambil foto mengenai pemandangan sekitar jembatan gantung, kami malah saling mengambil foto ketika kami saling memotret (mungkin jika ada orang yang melihat akan berpikir kami kurang kerjaan)




Akses menuju lokasi Jembatan Gantung ini sebenarnya sudah lumayan bagus dan mudah, sayangnya ada beberapa oknum warga lokal yang seakan meihat kami berdua sebagai turis dan berharap kami akan memberi uang jika berfoto dengan mereka, no..no..we don't have a reason to give you money, sangat disayangkan mental-mental seperti inilah yang terkadang menjadi kendala ketika kita ingin mempromosikan suatu wilayah namun kelakuan masyarakat sekitarnya ada yang seperti pengemis atau terlalu berpikiran materialisme

Disepanjang perjalanan pulang pun Gene meminta saya menerjemahkan kata-kata seperti "I have a husband, i don't have a reason, dan lainnya" ke dalam bahasa Indonesia, untuk memudahkan jika nantinya ia melanjutkan perjalanannya di Indonesia, dan juga untuk mencegah orang berlaku tidak baik terhadap dirinya.

Ya mempelajari bahasa lokal memang baik dan berguna, namun Gene, setidaknya jangan menghapal dengan bersuara terlalu keras saat kita bersepeda atau berhenti di Lampu merah ok (bayangkan saja saat berhenti di traffic light atau ketika melewati jalan desa yang lumayan ramai tiba-tiba ia berkata dengan lantang "saya punya suami", ohhhh noooo, peoples are staring to us (especially me, because they think we're just getting married) LOL



Day 4

Hari ini adalah hari perpisahan kami, Gene akan melanjutkan perjalannya menuju Gunung Bromo, kemudian ke Bali, Lombok, Sumbawa, dan Pulau Komodo. kami start sekitar pukul 08.15 WIB melalui rute Blok O hingga tembus ke Prambanan, dari situ kami tinggal melewati jalan Jogja-Solo hingga kemudian tiba di Kota Solo, dimana salah seorang teman lainnya sudah siap untuk menyambut Gene dan menawarkan tempat untuknya beristirahat selama di Solo


Di sepanjang perjalanan ketika saya menemani Gene ke Solo pun ada hal konyol yang terjadi, jadi ceritanya ketika kami sedang gowes tiba-tiba ada warga lokal wanita yang mengendarai motor tiba-tiba menyapa kami, dan seketika langsung mengoceh mengajak ngobrol kepada kami dengan 3 bahasa yang dicampur-campur (bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris) otomatis saya pun juga bingung, karena saya tidak bisa berbahasa Jawa hehe... apalagi Gene, akhirnya ketika kami berhenti untuk sarapan soto, wanita ini pun terus bercerita dengan tiga bahasa tadi sembari meminta kami mendengarkan ia bernyanyi ketika ia memutar lagu Jawa di telepon cellularnya, akhirnya Gene pun tertawa, dan saya pun tertawa karena saya menertawakan Gene yang tertawa karena tidak mengerti apa yang diucapkan oleh wanita ini, jadi kami semua saling tertawa karena tidak nyambung satu sama lain LOL


Akhirnya kami pun tiba di Kota Solo, dan menunggu sampai rekan host di Solo datang untuk menjemput Gene, yah perpisahan pasti akan selalu terjadi karena adanya pertemuan, tapi paling tidak pertemuan saya dengan Gene yang walaupun terjadi hanya dalam waktu singkat namun banyak memberi cerita dan hal-hal konyol yang kami lakukan selama pertemuan ini, kami mungkin pada dasarnya masing-masing adalah seorang solo cyclist, tapi menyenangkan juga ketika kami punya waktu untuk berbagi sejenak tentang cerita kami dan hal-hal menarik lainnya


Sampai jumpa lagi Gene, semoga suatu saat kita dapat bertemu lagi, you're my rock and roll guest :P dan terimakasih sudah menjadi teman gowes yang mengasyikkan, dan ya selalu menarik dan mengasyikkan untuk berteman dengan orang-orang baru yang berbeda negara-bahasa-kelas sosial-budaya-usia, dan apapun itu tidak menjadi penghalang dalam pertemanan kita, itulah cara kita berkembang dan memaknai hidup serta kehidupan