Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Saturday, 10 January 2015

Loro Blonyo

Di tahun 2015 ini tim kreatif goweswisata berencana menambahkan beberapa kategori baru pada blog, salah satunya yaitu kategori folklore atau cerita rakyat yang ada, tumbuh dan berkembang disekitar kita. Penambahan kategori folklore ini juga bertujuan supaya beberapa cerita rakyat, legenda, mitos sejarah lisan, pepatah, lelucon, kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, musik, maupun dongeng yang diajarkan oleh generasi terdahulu kita berupa pesan-pesan berdasarkan kearifan lokal tetap terjaga dan tidak hilang ditelan waktu, tentunya juga sekaligus mengajarkan kembali kepada kita akan pentingnya menjaga kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa ini sebagai ciri khas dan panduan dalam kehidupan antar sesama kedepannya yang lebih baik

Seiring perjalanan kami melakukan gowes wisata ke berbagai tujuan yang ada, tidak jarang kami menemukan dan mendengar cerita-cerita rakyat atau legenda yang mempunyai kaitan erat dengan lokasi yang kami datangi, beberapa bahkan baru kami dengar kisahnya setelah diceritakan ulang oleh warga lokal yang berdomisili di sekitar lokasi, cerita-cerita tersebut bahkan ikut berpengaruh terhadap budaya serta aktivitas sosial warga sekitar dan menyebar hingga pada akhirnya menjadi sebuah tradisi dalam kelompok masyarakat tersebut. Berikut ini adalah salah satu kisah folklore yang kami dapatkan, selamat mengikuti ceritanya…:)


Bagi mereka yang lahir dan besar di Jawa, serta tumbuh dalam lingkungan keluarga serta masyarakat dengan tradisi budaya Jawa yang kental tentu pernah mendengar nama atau kisah tentang Loro Blonyo. Ya, nama Loro Blonyo memang identik sekali dengan sosok patung sepasang pengantin jawa yang mengenakan busana tradisional (pakaian adat) Jawa

Berbeda dengan arca-arca yang ditemukan pada bangunan candi, maka seni patung tradisional ini mempunyai cerita, fungsi, bentuk serta cara penempatan tersendiri karena berkaitan dengan fungsi ritual yang tidak terlepas dari konteks kosmologi jawa. Patung ini biasanya ditemukan di rumah-rumah Jawa (Rumah Joglo). Masyarakat Jawa jaman dahulu percaya bahwa meletakkan patung Loro Blonyo di rumah mereka dapat memberikan pengaruh atau sugesti positif terhadap kehidupan berumah tangga

Cara penempatan patung Loro Blonyo di dalam rumah umumnya diletakkan pada senthong tengah, yaitu tempat yang dianggap sebagai bagian rumah paling sakral diantara bagian rumah lainnya pada suatu rumah joglo.Karena dianggap sakral pulalah pada senthong tengah biasanya juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan padi.

Penempatan patung Loro Blonyo selalu berpasangan (dwitunggal), hal tersebut dimaksudkan karena dalam kepercayaan orang jawa bertalian erat dengan konteks kepercayaan alam berupa keseimbangan. Di dalam konteks seni tradisi, Loro Blonyo ditempatkan di senthong tengah, karena di dalam senthong tengah terdapat unsur-unsur yang dianggap memiliki privacy tinggi sang pemilik rumah seperti dipan (tempat tidur yang berada dalam satu ruang bangunan dengan bentuk atap limasan yang disangga empat tiang utama, dilengkapi dengan kelambu) dan barang-barang pelengkap lainnya, tepat di depan dipan inilah patung Loro Blonyo diletakkan


Menurut sejarahnya, patung Loro Blonyo sudah ada sejak zaman kepemimpinan Sultan Agung di Kerajaan Mataram pada tahun 1476. Perwujudan hinduisme itu kemudian dimodifikasi agar lebih universal dan sesuai dengan kultur masyarakat setempat

Mulanya kepemilikan Loro Blonyo berkaitan erat dengan kultur dan tradisi di lingkungan Keraton. Oleh karena itulah hanya kalangan priyayi saja yang memilikinya. Di dalam rumah joglo, patung Loro Blonyo biasanya diletakkan dibagian tengah rumah,yaitu bagian yang dianggap sebagai wilayah pribadi pasangan suami dan istri

Namun seiring perkembangan jaman, patung Loro Blonyo yang merupakan bagian dari tradisi masa lalu itu kini beralih fungsi menjadi representasi sang pemilik rumah, sehingga bisa ditempatkan di luar kamar pribadi, ruang tamu, ruang keluarga, hingga sebagai aksesoris penghias interior ruangan. Bentuknya pun kini juga menjadi lebih bervariasi dengan beragam gaya dan ekspresi sehingga terlihat lebih luwes dan dinamis, tidak hanya kaku, namun tetap dalam wujud dan pakemnya sebagai pasangan pengantin

Kisah seputar Loro Blonyo


Berawal dari rasa kesepian Batara Guru di Khayangan, ia akhirnya menciptakan sosok seorang wanita cantik yang diberi nama Retno Dumilah. Karena kecantikan Retno Dumilah inilah pada akhirnya justru membuat Batara Guru jatuh cinta. Retno Dumilah yang sering disebut juga sebagai Dewi Sri tersebut menolak secara halus dengan cara mengajukan tiga syarat yang tak dapat dipenuhi oleh Batara Guru, namun hal tersebut justru membuat Batara Guru menjadi marah, ia mengira ada dewa lain yang menghalangi niatnya, oleh karena itu ia kemudian mengutus Kala Gumarang untuk menyelidikinya

Alih-alih menyelidiki, Sang utusan justru malah terpesona dan jatuh cinta kepada Dewi Sri, ia lantas mengejar Dewi Sri kemana pun sang dewi pergi. Dewi Sri pun menjadi marah, ia mengutuk Kala Gumarang menjadi seekor babi, namun meskipun telah berwujud babi, Kala Gumarang tetap mengejar Dewi Sri sampai ke dunia. Ditempat Dewi Sri tinggal saat di dunia (bumi) itu tumbuhlah tanaman padi dan tanaman lain yang tumbuh subur karena terkena cahaya kemilau dari sosok dan kesaktian sang dewi

Prabu Mangkuhan dari Kerajaan Medang yang melihat cahaya kemilau terpancar dari sosok wanita cantik itu pun menjadi terkesima. Ketika tahu jika wanita tersebut adalah Dewi Sri, Batara Wisnu kemudian menjelma manunggal (menjadi satu) dengan raga Prabu Mangkuhan dan mengambil Dewi Sri sebagai istrinya. Batara Wisnu yang mewujud sebagai Prabu Mangkuhan itu dikemudian hari oleh sebagian orang juga disebut sebagai Raden Sadono. Sementara itu rakyat kemudian memanfaatkan tanaman yang ditinggalkan oleh Dewi Sri, mereka memelihara serta menjaganya dari ancaman babi dan hama lainnya, oleh karena itulah dalam mitologi jawa, sosok Dewi Sri juga dianggap sebagai dewi padi atau dewi kesuburan, sedangkan Raden Sadono yang merupakan perwujudan dari Dewa Wisnu kemudian dianggap sebagai pemelihara kelestarian alam semesta. Keduanya merupakan suami-istri abadi yang menyandang misi ke dunia untuk menolong manusia menggapai kesejahteraan hidup

Versi lain ada yang menyebutkan bahwa Dewi Sri dan Raden Sadono sebenarnya adalah saudara kembar (kedhono-kedhini), keduanya saling mencintai dan berhasrat menikah namun tidak dapat terlaksana karena mereka merupakan saudara sekandung. Karena putus asa, Raden Sadono kemudian bunuh diri dengan harapan kelak dapat bereinkarnasi menjadi manusia lain supaya dapat menikah dengan Dewi Sri

Sepeninggal Raden Sadono, Dewi Sri hidup mengembara dan dikejar-kejar oleh Batara Kala, namun ia kemudian ditolong oleh para petani, untuk membalas jasa kepada para petani tersebut, dengan kesaktiannya Dewi Sri memberi para petani hasil sawah yang melimpah. Para petani pun membalas kebaikan sang dewi dengan cara mengabadikan sosok Dewi Sri dan Raden Sadono dalam bentuk patung sepasang pengantin yang duduk berdampingan

Oleh karena itu, dalam kehidupan masyarakat petani tradisional Jawa ditemukan peninggalan tradisi ritual dan pemberian sesaji disawah saat akan dimulai masa tanam hingga pasca panen. Konon tradisi bersih desa dan labuhan pun awalnya terkait dengan ritual tersebut. Upacara ritual itu (didalam maupun diluar rumah) dimaksudkan supaya mendapatkan hasil panen yang berlimpah dan terhindar dari mara bahaya

Prosesi ritual yang diadakan di dalam rumah tersebut biasanya ditandai dengan disediakannya sebuah ruang tetap yang disebut pasren (tempat memuja Dewi Sri), biasanya ruang yang digunakan adalah ruang tengah rumah keluarga.Dalam pasren ini terdapat dipan berkelambu lengkap dengan kasur, bantal, dan guling yang semuanya dihias dengan indah. Kemudian lampu robyong, hiasan burung garuda, klemuk tempat menyimpan bijian hasil pertanian, bokor kuningan berisi air dan bunga, kendi tanah liat, tempat meludah, cermin, dan sepasang patung pengantin Loro Blonyo

Sedangkan untuk prosesi ritual yang di luar rumah ditandai dengan ritual wiwit awal, dimulai sejak dari masa pratanam, prapanen, hingga pascapanen padi di sawah

Setiap benda yang digunakan merupakan perwujudan dari simbol-simbol dengan makna tersendiri, tidak terkecuali dengan patung sepasang pengantin Loro Blonyo, Lo-ro mempunyai arti dua atau sepasang, sedangkan Blonyo memiliki arti diurapi (disiram) dengan air bunga. Sehingga Loro Blonyo berarti sepasang pengantin yang beraroma semerbak wangi bunga. Patung pengantin pria melambangkan Raden Sadono (Batara Wisnu), sedangkan patung pengantin wanita melambangkan Dewi Sri

Makna lainnya, pasren (ruang untuk memuja Dewi Sri)) biasanya juga dibuat untuk dipakai sebagai tempat upacara panggih “temu pengantin”, midhodareni, dan siraman “pemandian” sebelum pasangan pengantin ditampilkan didepan umum saat resepsi. Melalui ritual tersebut diharapkan pasangan pengantin diberi kebahagiaan abadi, kehidupan berumah tangga yang langgeng, dan beranak banyak (subur).Hal itu berkaitan dengan filosofi Jawa yakni banyak anak banyak rejeki. Loro Blonyo kini juga ditemukan didalam kamar pengantin sebagai dekorasi pelaminan atau kelengkapan interior ruangan

Secara keseluruhan warna sepasang patung pada kulit adalah kuning keemasan dengan sedikit unsur coklat tua mencerminkan warna luluran khas manten jawa. Dilihat dari segi ekspresi, patung ini menggambarkan kepribadian sepasang penganten Jawa yang jika dilihat secara keseluruhan tampak elegan

Setidaknya berdasarkan cerita dan asal muasalnya, kita dapat mengambil nilai positif atau filosofi dari Loro Blonyo untuk kedepannya menerapkan nilai positif tersebut dalam kehidupan keseharian kita, terlebih di jaman yang serba mengagungkan nilai materi ini, dan mengingat kembali bahwa pernikahan itu selayaknya berdasarkan prinsip saling menghargai atau menyempurnakan satu sama lain, bukan sekedar mencari sosok yang sempurna untuk kita, karena tidak ada manusia yang sempurna, yang ada hanyalah kita diciptakan berpasangan untuk saling menyempurnakan satu sama lain :)

No comments:

Post a Comment