Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Monday, 23 March 2015

Air Terjun Curug Siluwok

(19/03/15) Jika beberapa waktu yang lalu saya pernah membuat post tentang Air Terjun Curug Sidoharjo, maka pada petualangan goweswisata kali ini saya kembali mencoba menjelajahi potensi dan keindahan alam lainnya yang masih tersembunyi di sekitar wilayah Samigaluh, Kulonprogo

Petualangan goweswisata kali ini hanya diikuti oleh kami berdua saja (saya dan pasangan saya, Agitya Andiny). Mengawali start dari basecamp goweswisata sekitar pukul 06.00 WIB, kami menempuh rute yang sama seperti ketika saya waktu dulu berkunjung ke Curug Sidoharjo (baca juga post terdahulu; Air Terjun Curug Sidoharjo)

Melalui Jalan Godean terus kearah Barat hingga tiba di perempatan Kenteng-Nanggulan, kemudian belok ke kanan sampai tiba di traffic light perempatan Pasar Dekso, dari traffic light ini kami lalu mengambil arah kiri lurus saja ikuti jalan sampai nantinya tiba di gapura sisi kanan ada jalan kecil menuju arah Curug Sidoharjo

Peta menuju Lokasi Grojokan atau air terjun Curug Siluwok di Desa Keweron, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta




Keindahan alam yang terbentang di sepanjang perjalanan kami selepas perempatan traffic light Pasar Dekso


Jejeran perbukitan Menoreh dan hamparan persawahan milik warga seakan memanjakan mata kami di sepanjang perjalanan ini



Lokasi wisata lainnya yang terdapat di sepanjang perjalanan ini sepertinya cocok bagi kalian yang suka susur Goa, kalian bisa mencoba cave tubing di tempat ini, Goa Sriti (400 meter untuk menuju kesana tapi tanjakannya ehem…ehem..)


Keuntungan lainnya karena kami mengendarai sepeda adalah karena gaya bersepeda kami yang santai, tidak terlalu mengejar kecepatan (toh kami bukan atlet hehe…dan kalau terlalu cepat lalu apa yang mau di lihat? Angka speedometer? Lebih baik saya menikmati pemandangan di sepanjangan jalan saja) sehingga kami bisa melihat lebih detail apa saja yang ada di sepanjang jalur ini, salah satunya adalah kami menemukan “Grojokan atau air terjun mini” yang tidak bernama, sepintas jika dilihat dari pinggir jalan mungkin hanya terlihat seperti kucuran air biasa, tetapi saat saya melihat ke atasnya, wow ada curug yang lumayan indah dan tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan

Sepintas terlihat biasa saja dari pinggir jalan, sehingga jika kita berkendara terlalu cepat pastinya kita tidak akan menyadari keberadaan curug ini


Kami kemudian meminta izin dari pemilik rumah untuk memarkir sepeda, dan melanjutkan dengan trekking


Karena tidak ada jalan setapak menuju ke lokasi curug tersebut, dan satu-satunya jalan yang (menurut saya) bisa dilalui adalah dengan memanjat melalui pinggiran kandang kambing milik warga, maka itulah yang kami lakukan hehe…untungnya saya membawa sandal gunung

Dan inilah “Curug Mini” yang terletak di belakang kandang kambing tersebut (membuktikan sebuah ungkapan bahwa keindahan yang alami terkadang tersembunyi di balik sesuatu yang biasa saja, sehingga membutuhkan kemampuan melihat secara detail untuk menyingkap keindahan tersebut)



Kedung atau kolamnya juga tidak terlalu dalam tetapi licin, sangat nyaman dan segar untuk sekedar bermain air


Airnya juga masih sangat bersih dan dingin, terkadang hal sederhana seperti ini justru sulit kita dapatkan di perkotaan


Bisa sekalian buat bikin foto pre wedding hehe, alami, natural, tidak diatur-atur oleh fotografer, pokoknya sudah pasti benar-benar menceritakan kisah perjalanan kami tanpa settingan, dan gratis (kata terakhir ini selalu mempunyai magnet daya tarik tersendiri bagi saya)


Setelah puas bermain-main di Curug Mini tersebut, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada warga pemilik rumah, kami kemudian meminta izin untuk melanjutkan perjalanan kami


Setibanya di gapura penanda arah menuju Curug Sidoharjo, ikuti jalan saja yang naik-turun (banyakan naiknya) hingga nantinya tiba di pertigaan dimana ada papan penanda seperti ini


Jika ke kanan itu menuju ke arah Curug Sidoharjo, maka untuk menuju ke Curug Siluwok ambil ke arah sebaliknya yaitu ke kiri, ikuti jalan yang menanjak sekitar 100 meter nanti ada papan penanda arah menuju ke Curug Siluwok

Pemandangan yang menjadi penghibur di kala menanjak


Penanda arah yang masih swadaya masyarakat


Belok ke kanan dan ikuti jalan yang menanjak,cukup ikuti jalan utama yang terus menanjak saja


Karena derajat kemiringan tanjakan yang sungguh tidak manusiawi akhinya kami berinisiatif meminta izin kepada warga sekitar untuk memarkir sepeda kami di rumah salah seorang warga, dan selanjutnya akan kami teruskan dengan trekking saja

Foto ini dan berikutnya saat trekking saya dokumentasikan setelah kami pulang dari arah Curug Siluwok, karena saat menanjak membuat saya agak malas mengeluarkan kamera hehe…:)

Hujan yang turun sangat deras di perjalanan pulang


Ada cerita menarik dan berkesan yang saya dapatkan dari perjalanan ini, yaitu tentang betapa baik dan ramahnya warga yang berdomisili di sekitar wilayah ini, ketika kami hendak meminta izin kepada pemilik rumah untuk memarkir sepeda kami, serta-merta ia langsung menawarkan adakah yang bisa dibantu? Apakah kendaraan kami mengalami kerusakan? Dan hal tersebut secara spontan ia tawarkan tanpa sebelumnya melihat apakah kami mengendarai sepeda atau kendaraan lainnya, begitupun halnya ketika hujan tiba-tiba turun di saat kami masih berada di jalur trekking Curug Siluwok,saat itu saya sempat berpikir bahwa sepeda-sepeda yang tadi kami parkir pastinya basah kuyup oleh hujan, tetapi saat kami tiba di rumah warga tersebut untuk mengambil sepeda rupanya semua sudah dipindahkan ke tempat yang terlindung dari air hujan, sehingga sepeda, helm, dan peralatan kami lainnya tetap kering

Bagi kami hal-hal yang terlihat sederhana seperti itu seakan membuktikan bahwa masih ada kebaikan dan keramahan tanpa pamrih yang sejatinya merupakan identitas dari bangsa ini, yang sayangnya saat ini semakin tergerus oleh pengaruh negatif dari modernisasi dan kapitalisme, itulah hakikat kebaikan sejatinya, bukan karena mengharapkan sesuatu, karena jika melakukan kebaikan dengan dasar mendapat pamrih itu bukanlah berbuat kebaikan melainkan melakukan bisnis

Begitu pun setelah kami memarkir sepeda dan melanjutkan dengan berjalan kaki, saat menemui percabangan jalan berupa pertigaan, kami pun sempat bertanya tentang arah kepada salah seorang warga, dan saat ia tahu bahwa kami hendak menuju ke lokasi curug yang ternyata jaraknya masih cukup jauh dan menanjak, maka ia meminta salah seorang temannya untuk mengantar kami menggunakan sepeda motor, awalnya kami merasa bahwa jika jaraknya hanya sekitar 2km tidak apa-apa jika kami berjalan kaki karena bagi kami itu cukup dekat, tetapi karena temannya juga hendak menuju ke arah curug maka ia menawarkan untuk sekalian saja, akhirnya kami berboncengan bertiga sampai menuju titik parkir sebelum memasuki lokasi jalur trekking

Dari titik awal rute trekking hingga benar-benar sampai ke lokasi curug mungkin jaraknya masih sekitar 1 km melalui jalan tanah dan terkadang berbatu, penataan dan perbaikan jalur trekking masih terus dilakukan secara swadaya dan bergotong royong oleh warga sekitar setelah mereka usai mengerjakan kegiatan pertanian

Hujan deras dan kabut yang mulai turun saat kami pulang melalui jalur trekking



Jalan setapak di bibir jurang yang masih dalam tahap pengerjaan



Sampai akhirnya dari kejauhan kami mulai mendengar suara deburan air terjun dan mulai terlihat penampakan dari air terjun Curug Siluwok


Diatasnya pun juga terlihat masih ada air terjun lagi, tetapi belum ada jalan menuju kesana


Dan akhirnya sampailah kami di Air Terjun Curug Siluwok


Tampak beberapa warga sedang bergotong-royong membuat dan memperbaiki akses jalan menuju dan di sekitar lokasi Air Terjun Curug Siluwok


Untuk turun menuju ke lokasi airnya sementara masih harus memanjat bebatuan dan menuruni celah seperti ini


Air Terjun Curug Siluwok ini mempunyai ketinggian kurang lebih sama seperti Air Terjun Curug Sidoharjo, yang membedakan hanyalah di tempat ini masih lebih sepi dan kolamnya bisa digunakan untuk berenang


Dengan lokasi yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Curug Sidoharjo, hanya dibutuhkan beberapa perbaikan dan penataan fasilitas juga promosi atau publikasi maka kedepannya Curug ini diharapkan dapat membantu mengangkat perekonomian dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia warga sekitarnya


Dan tentunya bagi para wisatawan atau pengunjung pun diharapkan dapat bersikap bijaksana dalam menikmati keindahan alam dari tempat ini dengan tidak merusak (corat-coret), menjaga kebersihan (tidak buang sampah sembarangan) dan kealamian dari tempat ini, serta tidak melakukan perbuatan asusila ataupun hal negatif lainnya


Keindahan alam yang tersembunyi di balik perbukitan menoreh





Keceriaan anak-anak di sekitar wilayah ini saat menikmati bermain air, ya alam di sekitar mereka seakan telah menjadi tempat bermain dan berpetualang menemukan hal-hal baru yang menunggu untuk terungkap. Dan semoga kedepannya mereka tetap ingat dan menyadari bahwa antara manusia dan alam mempunyai ikatan yang saling membutuhkan sehingga tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan




Sebagai seorang penulis dari blog goweswisata, saya merasakan sendiri setelah melalui berbagai perjalanan bersepeda ini bagaimana pada akhirnya semua cerita perjalanan ini telah membawa perubahan terhadap pola pikir saya tentang arti hidup dan kehidupan

Mungkin saya belum pernah pergi ke suatu tempat yang orang-orang sering bilang sebagai “surga”, tetapi bagi saya secara pribadi “surga” bukanlah sekedar tempat atau lokasi saja, melainkan lebih dari itu, yaitu cara pandang kita, ya “surga” adalah state of mind, di saat saya merasa senang, kapanpun itu, dimanapun itu, dengan siapapun itu, maka saat itulah saya menemukan “surga” dalam hati dan pikiran saya, setiap orang mungkin mempunyai pemahaman dan kesenangan yang berbeda-beda, silahkan saja, tetapi bagi saya secara pribadi dalam setiap perjalanan ini saya melakukannya karena senang, termasuk ketika menulis semua catatan perjalanan ini itu pun saya lakukan karena saya merasa senang, tidak terikat dengan apa yang menjadi “standart kesenangan” versi orang lain, biarlah mereka menjalani apa yang disenanginya, karena perjalanan ini, ya gaya perjalanan ala goweswisata ini dengan segala warna-warninya (tidak terlalu peduli merk atau brand sepeda, banyak berhenti, foto-foto, tidak peduli target waktu, target kecepatan, kebanggaan akan jarak, dan lain-lain) telah membawa perubahan dalam diri saya untuk menikmati hidup :)

Selamat berpetualang dan temukan “surga” dalam hati dan pikiranmu


Note :
Terimakasih kepada seluruh warga Desa Keweron, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, DIY yang telah sangat ramah menerima dan membantu kami selama perjalanan ini
Kepada Mas Aji yang dengan sukarela mengantarkan dan memandu kami hingga tiba di Air Terjun Curug Siluwok

Monday, 16 March 2015

Kedung Tolok

(14/03/15), Kedung Tolok atau dahulunya sering disebut oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Curug Kajor atau Curug Siluk adalah tujuan tim goweswisata kali ini yang masih dalam misi mencari lokasi air terjun-air terjun tersembunyi di Yogyakarta hehe…:)

Jika biasanya untuk menuju ke lokasi air terjun kita butuh ekstra perjuangan menghadapi rute menanjak, namun pada tujuan goweswisata ke Kedung Tolok ini semua hal menakutkan tersebut tidak terjadi. Kondisi rute menuju ke tempat ini hampir 98% flat (aman pokoknya)

Nilai plus lainnya dari tempat ini adalah lokasinya yang ternyata tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja, mungkin hanya sekitar 23km saja, baiklah tanpa basa-basi silahkan nikmati cerita petualangan goweswisata kami ke Kedung Tolok :)

Peta menuju lokasi ini


Start yang awalnya direncanakan pukul 07.00 WIB seketika berubah mundur karena tiba-tiba jam 06.00 WIB hujan turun mengguyur Kota Yogyakarta (padahal saya sudah selesai siap-siap, hanya tinggal berangkat saja, terpaksa menunggu dulu jadinya), akhirnya kurang lebih pukul 07.30 WIB barulah hujan reda, hanya tersisa gerimis sangat kecil saja namun langit sudah mulai cerah dan matahari sudah terlihat menampakkan dirinya, baiklah saatnya berangkat

Dari basecamp goweswisata sepeda saya arahkan ke selatan melalui Gambiran menuju perempatan ringroad selatan (Terminal Bus Giwangan), dari Giwangan masih terus saja ke arah selatan sampai Pasar Imogiri, setelah melewati Pasar Imogiri di depan akan bertemu pertigaan (jika lurus ke arah makam raja-raja, ke kanan menuju SPN Selopamioro) ambil ke kanan sampai pertigaan berikutnya kemudian belok ke kiri menuju arah Selopamioro (sama seperti rute menuju Jembatan Gantung Selopamioro, lihat post terdahulu) ikuti jalan saja sambil melihat pemandangan persawahan warga yang terhampar di sepanjang sisi jalan

Tak berapa lama nanti kita akan sampai di Jembatan Siluk


Tepat setelah Jembatan Siluk akan bertemu percabangan jalan (pertigaan), kalau ke kanan ke arah Goa Cerme, sedangkan lurus menuju Selopamioro, ambil arah lurus ke arah Selopamioro


Terus saja sampai ketemu SD Siluk di sisi kanan jalan


Dari SD Siluk masih terus melewati jalan yang sedikit menanjak dan berbelok ke kanan, tidak jauh dari situ akan menemui percabangan jalan seperti ini


Ambil arah kanan, masuk ke Padukuhan Kajor Kulon dan ikuti jalan saja, nanti setelah turunan yang berbelok kita akan menjumpai masjid dan lapangan seperti ini di sisi kiri


Setelah masjid cukup ikuti jalan sampai pertigaan yang kedua (patokan mudahnya pertigaan yang berada tepat sebelum jalanan menanjak), kemudian belok ke kanan melalui jalan cor


Sampai nantinya melihat jembatan kecil di sisi kanan, lalu masuk menuju arah jembatan dan ikuti jalan cor lurus saja


Setelah mentok bukit, kemudian belok ke kiri dan lurus saja ikuti jalan sampai mentok



Dan akhirnya tadaaaaaaa…sampai deh di Kedung Tolok


Sewaktu kami kesini tempat ini masih sepi sekali, tidak ada pengunjung yang lainnya, mungkin karena tidak adanya penunjuk arah yang menginformasikan jika ada lokasi wisata air terjun di daerah ini, dan sepertinya memang kurang atau belum di promosikan, sehingga bagi orang-orang yang melalui atau menuju arah Selopamioro mereka biasanya hanya tahu mengenai Jembatan Gantung Selopamioro saja

Fasilitas yang ada di sekitar lokasi ini pun hanyalah area kecil untuk parkir kendaraan roda dua (dan sepertinya itu pun baru saja dibuat), tidak ada toilet umum, sehingga bagi kalian yang ingin basah-basahan atau main air maka untuk menggunakan toiletnya harus meminta ijin ke rumah warga setempat


Kedung Tolok mempunyai beberapa tingkatan (sekitar 3 tingkat), namun untuk menuju ke tingkat teratas belum ada jalannya, sehingga saya pun akhirnya hanya berkeliling hingga ke tingkat kedua saja


Air yang mengalir di Kedung ini juga cukup deras, entahlah apakah memang biasanya juga deras seperti ini ataukah disebabkan karena selama beberapa hari terakhir ini hujan selalu turun mengguyur kota Yogyakarta sehingga meningkatkan jumlah debit airnya




Untuk kedalaman kedung atau kolamnya sendiri di beberapa bagian berbeda-beda, di bagian pinggiran hanya sekitar sepaha orang dewasa, entahlah dengan bagian tengahnya, yang pasti lebih dalam sehingga bagi yang tidak bisa berenang harus berhati-hati


Tenang, masih alami dan sepi, suasana seperti inilah yang selalu saya cari :)


Setelah puas mendokumentasikan kedung yang berada di tingkat terbawah, saatnya mencoba memanjat menuju ke tingkat kedua. Kedung di tingkat kedua ini dinamakan Kedung Kempul


Treking menuju Kedung Kempul yang berada di tingkat kedua bisa melalui jalur di sisi kanan air terjun berupa jalan setapak tanah, namun harus tetap berhati-hati karena medan yang licin dan seperti ini


Kedung Kempul yang berada di tingkat kedua



Dari tingkat kedua ini kita bisa melihat derasnya aliran air yang mengucur dari tingkat teratas, sayangnya tidak ada jalan menuju kesana selain harus memanjat bebatuan yang licin


Cerukan-cerukan yang berada di tingkat kedua, airnya masih sangat bersih dan dingin lho



Kedung atau kolam yang berada di tingkat kedua ini juga cukup dalam, tidak begitu besar namun licin sehingga tidak aman untuk berenang, satu-satunya kolam yang bisa digunakan untuk berenang hanyalah kolam yang berada di tingkatan terbawah


Tips jika ingin berkunjung ke tempat ini :

- Lokasi ini bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan empat (untuk kendaraan roda empat harus agak berhati-hati karena di beberapa titik medan yang dilalui agak menyempit)
- Karena lokasinya yang masih tersembunyi dan promosi yang belum maksimal maka tidak ada biaya retribusi parkir maupun tiket masuk
- Bagi yang membawa sanak saudara yang masih kecil maka perlu pengawasan ekstra, karena derasnya aliran air di Kedung Tolok, serta di beberapa titik kolamnya mempunyai kedalaman yang cukup dalam
- Belum ada fasilitas toilet umum, sehingga untuk kegiatan bilas atau mandi bisa menggunakan toilet yang ada di rumah warga sekitar (minta ijin terlebih dahulu)
- Lebih baik membawa atau menggunakan sandal gunung karena batuan kedung yang licin
- Membawa makanan dan minuman sendiri, belum ada warung di sekitar lokasi
- Karena ketiadaan fasilitas tempat sampah di sekitar lokasi maka diharapkan membawa kantung plastik sendiri untuk menaruh sisa sampah yang kalian bawa, untuk berikutnya bisa di buang di tempat sampah milik warga sekitar (jangan buang sampah sembarangan)
- Tidak berbuat mesum
- Dan yang terpenting ingat bahwa vandalisme corat-coret tidak akan membuat kalian menjadi orang keren, itu bukanlah perbuatan keren melainkan perbuatan sangat bodoh, jika kalian ingin menjadi orang yang keren maka corat-coretlah di sebuah buku atau menulislah di blog dan buat tulisanmu menjadi hal yang dapat menginspirasi secara positif bagi orang lain

Seorang petualang sejati tidak akan pernah melakukan hal-hal yang dapat merusak keindahan alam, karena ia tahu bahwa antara dirinya dan alam terdapat sebuah ikatan yang saling membutuhkan, sehingga satu-satunya yang ia tinggalkan setelah mengunjungi suatu tempat hanyalah jejaknya, dan yang ia bawa dari tempat tersebut hanyalah berupa dokumentasi foto dan memori atau cerita mengenai perjalanannya

Sampai jumpa lagi dan nantikan petualangan goweswisata berikutnya :)