Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Wednesday, 27 May 2015

Curug Banyunibo, Pajangan, Bantul

(26/05/15) Berawal dari keinginan untuk gowes tapi tidak tahu mau kemana hehe…ditambah lagi startnya juga rada siangan sekitar jam 08.00 WIB (gara-gara bingung nyari tujuan jadi paginya sambil sarapan sekalian googling dulu mencari lokasi-lokasi unik yang medannya minim tanjakan) sampai akhirnya disepakatilah kalau tujuan goweswisata kali ini yaitu ke Curug Banyunibo yang berada di Dusun Kabrokan Kulon, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY

Dan seperti biasa partner gowes saya kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan saya sendiri (gowes romantis ahaayy), Dari hasil googling sebelumnya saya menemukan patokan rute menuju lokasi Curug Banyunibo yang kurang lebih sama dengan rute menuju Desa Krebet yang terkenal sebagai Desa Wisata kerajinan batik kayu

Peta menuju Lokasi Curug Banyunibo, Pajangan, Bantul


Dari Basecamp goweswisata yang berada di Gedongkuning kami bersepeda menuju arah Plengkung Gading (alun-alun selatan), dari traffic light Plengkung Gading masih lurus ke Barat hingga Pojok Beteng kemudian belok ke kiri melalui Jalan Bantul sampai Ringroad Selatan, kemudian dari Ringroad Selatan kami lalu berbelok ke kanan hingga tiba di traffic light berikutnya yang ada papan petunjuk arah menuju Desa Wisata Krebet kemudian belok kiri melewati rel kereta pabrik gula madukismo ke arah Sempu

Kereta wisata yang menggunakan rel peninggalan lori pembawa tebu dari Pabrik Gula Madukismo


Selepas Kantor Polisi Sektor Kasihan dan Pemakaman Bukit Sempu, ikuti saja jalan utama sampai tiba di pertigaan yang tengahnya ada pohon beringin, setelah itu belok kiri menuju ke Desa Wisata Krebet

Belok kiri di pertigaan ini


Nah berhubung setelah ini rutenya lumayan membingungkan belok-belok maka saya kemudian berpatokan kepada GPS dari googlemaps, intinya sih cukup ikuti jalan utama yang nantinya akan mulai menanjak melewati perkebunan pohon jati sampai akhirnya ketemu perempatan dengan penunjuk arah menuju Kedung Pengilon, bedanya jika ke Kedung Pengilon kita belok ke kanan, maka untuk menuju ke Curug Banyunibo kita ambil arah lurus, di rute ini kondisi medan mulai berubah dari yang awalnya aspal kemudian berubah menjadi batu kerikil lepas


Patokannya jika kalian bingung tinggal tanya saja kepada penduduk sekitar arah menuju Curug Banyunibo atau Curug Pulosari (karena keduanya berdekatan), dan nantinya rute yang berkerikil ini pun berubah lagi menjadi jalan setapak cor

Ikuti saja penunjuk arah menuju Curug Pulosari ini


Kondisi jalan setapak cor nya lumayan bikin tangan menjadi pegal menahan getaran (maklum fork rigid dan bawa pannier pula)



Disini mulai minim petunjuk arah sehingga lebih baik bertanya saja kepada warga sekitar. Berbicara tentang warga disekitar sini ada beberapa hal yang saya rasa kurang nyaman, yaitu mengapa penduduk sekitar menganggap bahwa seakan semua orang yang datang berkunjung lalu bertanya mengenai arah lokasi curug adalah orang luar Jogja yang notabene diidentikkan sebagai orang kaya (mampu secara materi financial), sehingga di beberapa percakapan saat kami bertanya mengenai arah lokasi kemudian dijawab dengan kata-kata yang seakan merujuk “secara halus” kepada adanya imbalan materi, dan rupanya hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang tua saja tetapi bahkan hingga anak kecil, hufff…sepertinya pengaruh negatif acara televisi yang menayangkan tentang kehidupan serba materi mulai membawa pola pikir hedonis walaupun untungnya tidak semua warga seperti itu (mungkin hanya kebetulan saja kami bertemu dengan “oknum” masyarakat dengan pola pikir seperti itu, saya jadi teringat dengan “oknum” seperti itu juga saat melakukan goweswisata ke lokasi Jembatan Gantung Selopamioro)

Lanjut mengenai patokan rute, setelah bertanya sana-sini akhirnya kami menemukan juga penanda arah menuju Curug Banyunibo, tepat di pertigaan sebelum masuk ke lokasi Curug tersebut


Oya jika kalian membawa kendaraan (apapun itu) jangan kuatir telah disediakan lokasi parkir kendaraan di salah satu pekarangan rumah warga, cukup parkir dan titipkan kendaraan kalian disini

Sebaiknya hargailah peraturan yang berlaku di tempat ini


Sempat terpikir mengapa sepeda juga dilarang dibawa masuk hingga ke dekat lokasi Curug? Ini hanyalah opini saya tetapi saya rasa hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga keindahan dan meminimalkan kerusakan pada bebatuan curug, karena biasanya para goweser punya semacam “tradisi” untuk berfoto dengan sepedanya dan mengangkatnya hingga ke bebatuan curug atau bahkan menceburkan sepedanya, jadi ya lebih baik kita juga menghargai peraturan yang ada di tempat ini, lagipula kalian juga datang berkunjung ke tempat ini untuk menikmati keindahannya kan? Jadi lebih baik kita menyikapinya dengan bijak dan bersama-sama menjaga keindahan dan kelestarian tempat ini

Dan inilah Curug Banyunibo tersebut


Secara bentuk dan jenis batuan yang ada, tempat ini mempunyai karakteristik yang sama seperti yang terdapat di Kedung Tolok


Berhati-hatilah jika kalian ingin mendekat ke bebatuan curug karena lumut yang ada di bebatuan dapat membuat kalian terpeleset, lebih baik lepaskan alas kaki




Karena kami datang saat musim hujan telah berlalu maka aliran air di Curug Banyunibo ini tidak terlalu deras




Yang menarik bagi saya dan juga mungkin bagi kalian yang mempunyai jiwa petualang adalah kalian dapat memanjat hingga ke bagian atas Curug dengan berpegangan kepada tali yang diikatkan di pohon-pohon, hal ini dikarenakan pada beberapa pijakan berupa bebatuan yang licin oleh tanah basah (tetap berhati-hati ya)


Naiknya lebih mudah daripada turunnya, tapi tetap seru hehe…


Pemandangan dari atas curug


Pada bagian atas curug kalian juga harus ekstra hati-hati karena selain bebatuan yang licin oleh lumut, juga karena tidak adanya pembatas pada bagian tebing curug, sehingga kalau sampai terpeleset bisa runyam urusannya



Menjelang siang, sekitar pukul 13.30 WIB saatnya kami beranjak pulang karena perjalanan masih lumayan jauh, sekaligus mengingat-ingat rute yang tadi kami lewati (hampir semua jalan setapak di setiap percabangan terlihat sama semua bentuknya di mata saya)

Tips jika Ingin berkunjung ke lokasi ini ;

- Hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja, untuk kendaraan roda empat apalagi bus hingga saat ini belum ada aksesnya, paling minim kalian bisa parkir di lokasi yang sekiranya memungkinkan saja lalu lanjut trekking
- Tidak ada retribusi masuk selain retribusi parkir
- Fasilitas pendukung seperti warung dan toilet telah tersedia (sayangnya selain hari libur kebanyakan fasilitas tersebut tutup)
- Bagi yang membawa anggota keluarga yang masih kecil harap diawasi faktor keamanannya
- Tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan vandalisme corat-coret di sekitar lokasi (memangnya kalian manusia purba yang menulis di batu?), tidak melakukan perbuatan asusila serta menjaga tutur kata selama di lokasi

Nikmatilah perjalanan kalian karena kalian menyukainya, bukan karena mengharapkan pengakuan dari orang lain, karena ini adalah petualanganmu bukan petualangan mereka, jadi tunggu apa lagi saatnya mengeksplor keindahan bumi nusantara ini, salam goweswisata :)

Belik Kayangan

(30/04/15) Sebenarnya perjalanan ke Belik Kayangan ini saya lakukan pada akhir bulan lalu, jadi post kali ini terhitung late post lagi hehe…:)

Pada petualangan goweswisata kali ini saya hanya ditemani oleh pasangan saya saja, mungkin memang sudah menjadi kebiasaan saya ketika melakukan petualangan goweswisata lebih nyaman jika hanya diikuti oleh sedikit orang, karena jujur saja terkadang saya merasa kurang nyaman dan kurang bebas untuk bereksplorasi di sepanjang perjalanan jika harus tergabung dalam grup atau komunitas sepeda berjumlah besar, dengan jumlah peserta yang sedikit maka otomatis sedikit pula saya harus menghadapi perbedaan pendapat saat menentukan waktu beristirahat, berhenti dimana saja, rute serta waktu start maupun pulang.

Kami mengawali start sekitar pukul 07.00 WIB menuju ke Barat melalui Jalan Godean hingga tiba di perempatan Kenteng-Nanggulan, karena kami sudah sering melalui rute ini maka kondisi rute pun sudah kami hafal mengenai dimana saja titik-titik keramaian lalu-lintas dan wilayah mana yang mulai sepi dari hingar-bingar perkotaan

Peta menuju lokasi Belik Kayangan


Tiba di perempatan Kenteng-Nanggulan kayuhan masih terus berlanjut, lurus saja ke arah Barat. Kondisi aspal yang halus dan hamparan persawahan di sisi kiri dan kanan jalan seakan memanjakan mata kami, tetapi herannya nafas saya terasa semakin sesak setiap kali melewati jalan ini, padahal medan menanjak yang kami hadapi selepas jembatan patung sapi tidaklah terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan tanjakan-tanjakan lainnya yang pernah saya lalui seperti tanjakan Patuk dan tanjakan Kalikuning, di tempat ini aspalnya terasa lengket sekali dengan ban sehingga tanjakan yang seharusnya mudah ini menjadi terasa berat (entahlah mungkin hanya perasaan saya saja) dan masih ditambah lagi dengan kelembaban yang tinggi yang berasal dari hamparan persawahan

Dari jembatan patung sapi tersebut rute menanjak masih harus dilalui sekitar 500m lagi hingga nantinya tiba di pertigaan (jika lurus maka kita akan melewati jembatan krapyak dan menghadapi tanjakan ringin yang aduhay sekali hehe…), tetapi kita tidak akan mengambil arah lurus, melainkan belok ke kanan, ikuti jalan saja sampai nantinya melihat ada jalan masuk kecil di sisi kiri tepat berada di seberang Masjid


Dari jalan masuk tersebut kondisi rute mulai sedikit berbatu, tetapi suara aliran air sungai sudah mulai terdengar, pertanda lokasi Belik Kayangan sudah mulai dekat


Dan akhirnya




Untungnya aliran air sungai Kayangan cukup jernih kali ini walaupun malam sebelumnya hujan turun cukup deras mengguyur wilayah Yogyakarta. Setelah memarkir sepeda-sepeda kami di tempat yang aman, maka saatnya bermain air di aliran sungai kayangan ini :)



Belik Kayangan atau sering juga disebut Tebing Kayangan, karena disini ada sebuah tebing vertikal bersudut 90° yang mirip dengan tebing dalam serial kera sakti (sun go kong) dalam mencari kitab suci ke arah barat (bedanya disini kami tidak mencari kitab suci melainkan mencari lokasi wisata hehe…) biasa digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat ciblon atau berendam saat melakukan ritual-ritual pada perayaan tradisi Jawa


Inilah tebing yang menjadi icon dari tempat ini




Kombinasi dari aliran sungai yang jernih dan segar, pepohonan yang rimbun, serta udara yang bebas polusi benar-benar membuat tempat ini pantas disebut sebagai Kayangan (dalam mitologi sebutan Kayangan merupakan tempat peristirahatan Dewa-dewa)




Karena kami berkunjung bukan pada hari libur maka tempat ini pun terasa sepi, sangat damai dan tenang, hanya ada beberapa warga lokal yang mencari batu di sepanjang aliran sungai (sejak tersiar kabar penemuan batu akik bernilai tinggi di aliran sungai Progo dan beberapa aliran sungai lainnya di Yogyakarta maka membuat beberapa orang kemudian berbondong-bondong beralih profesi menjadi pemburu batu akik, semoga apa yang mereka lakukan tidak sampai merusak keindahan alam maupun ekosistem yang ada di sepanjang aliran sungai dan lokasi ini)


Semoga aliran sungai ini dapat terus jernih dan bebas dari limbah polusi ulah manusia


Dan mulailah sesi foto-foto konyol mumpung sepi


Karena asyik bermain air dan menenangkan pikiran di tempat ini tanpa terasa hari sudah semakin siang, saatnya kami harus bersiap beranjak untuk pulang karena perjalanan ke pusat kota masih lumayan jauh (dan panas pastinya)


Setidaknya kini kami mulai bisa memetakan lokasi-lokasi menarik di sekitar Jogja yang bisa dijadikan alternatif destinasi gowes maupun berlibur bagi kalian semua, terkadang bahkan saat kami melakukan petualangan goweswisata maka sebuah tempat yang menarik tidak lagi menjadi tujuan utama kami, karena perjalanan itu sendiri sudah merupakan sebuah petualangan dan yang terpenting adalah bagaimana semua perjalanan ini mampu membawa perubahan yang positif bagi pola pikir dan cara pandang kami terhadap hidup dan kehidupan

Sunday, 17 May 2015

Bikecamping @Embung Nglanggeran

(14/05/15) Bulan Mei tahun ini sepertinya menjadi bulan favorit saya, mengapa? karena di Bulan Mei tahun ini ada banyak tanggal merahnya dengan kata lain saatnya liburan ayyeeeyyy….:)

Setelah melihat kalender ternyata ada waktu libur yang lumayan panjang dan asyik yaitu dari tanggal 14-17 Mei (sebenarnya tanggal 15 nya sih hari kejepit nasional, tapi ya sudahlah bablas saja anggap saja libur hehe…) nah berhubung waktu 4 hari yang tersedia untuk liburan itu sangat memuaskan maka enaknya merencanakan agenda gowes kemana ya? Setelah dirembuk bersama maka diputuskan kalau agenda goweswisata kali ini adalah mengadakan Bikecamping lagi, tetapi Bikecamping kemana? Hmmmm… jika pada bikecamping sebelumnya kami sudah pernah mencoba wilayah utara (Kali kuning) dan wilayah Selatan (Pantai Glagah Indah) maka sekarang saatnya mencoba wilayah Timur, setelah browsing di internet tentang camping ground di Yogyakarta, khususnya yang ada di wilayah Timur maka kami pun menemukan lokasi yang rasanya sesuai dan kebetulan kami juga belum pernah kesana, baiklah tujuan bikecamping kali ini berarti adalah di Embung Nglanggeran, tepatnya berada di Padukuhan Nglanggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Propinsi DIY, koordinat GPS (S7°50'50.0" E110°32'48.0")

Sebelum hari-H, kami pun mulai mempersiapkan lagi perlengkapan camping untuk dipacking kedalam pannier dan tidak lupa juga mengecek kondisi sepeda. Setelah semua dirasa cukup maka saatnya beristirahat dan bersiap untuk memulai perjalanan esoknya

Peserta bikecamping kali ini hanyalah kami berdua saja (saya dan pasangan saya, Agitya Andiny) dikarenakan rekan-rekan yang lain kebetulan sedang sibuk dengan agenda liburannya masing-masing

Mengawali start sekitar jam 06.30 WIB dari Basecamp Goweswisata di Gedongkuning, kami mengambil rute melalui Jalan Jogja-Wonosari. Rute awal yang cenderung flat membuat perjalanan ini terasa santai hingga akhirnya tanpa terasa kami sudah tiba di trafficlight yang tepat berada sebelum memulai medan menanjak menuju Bukit Hargodumilah alias Bukit Bintang hingga Patuk nantinya

Saatnya bersiap, tanjakan sudah menanti


Sejak pagi sudah banyak bus-bus wisata dan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil yang melintasi jalur ini, sepertinya libur panjang kali ini juga dimanfaatkan oleh orang-orang untuk berwisata ke daerah Gunungkidul (terlebih sejak mulai banyaknya publikasi di media-media tentang berbagai potensi wisata yang terdapat di wilayah Gunungkidul), dengan kondisi lalu-lintas yang cukup ramai ini maka kami harus ekstra hati-hati saat menggowes ditambah lagi beban dari keseluruhan pannier yang kami bawa menjadikan medan tanjakan ini terasa semakin berat

Kurang lebih seperti inilah penampakan “kendaraan tempur” kami


Setelah gowes melalui medan tanjakan (dan banyak istirahatnya hehe…), sampailah kami di Pos Polisi Patuk, dititik ini kami beristirahat dan makan siang dulu sembari mengumpulkan energi untuk nanti menghadapi tanjakan berikutnya. Setelah beristirahat sekitar 1 jam maka saatnya lanjut gowes lagi, dari perempatan Pos Polisi Patuk kami berbelok ke kiri mengikuti penunjuk arah menuju Gunung Api Purba melewati Desa Ngoro-oro dimana terdapat banyak tower-tower relay pemancar milik beberapa stasiun televisi

Beristirahat lagi sejenak di pelataran sebuah Masjid


Sampai juga di titik lokasi tower-tower relay pemancar


Tampak Gunung Api Purba sudah terlihat dari lokasi sekitar tower


Berhubung viewnya bagus maka adegan foto-foto narsis pun dilakukan hehe…(terimakasih ya buat bapak pekerja bangunan yang sudah berbaik hati membantu memotret kami berdua)


Tidak jauh dari lokasi tower-tower ini nantinya kita akan menemui pertigaan UPT Puskesmas, nah belok ke kanan jika ingin menuju ke Gunung Api Purba (disekitar pertigaan ini juga ada obyek wisata lainnya yaitu Jurug Gedhe, arahnya belok ke kiri masuk menuju jalan kecil cor)

Medannya masih harus menanjak lagi euy


Untungnya penunjuk arahnya cukup jelas di setiap belokan sehingga kita tinggal mengikuti saja arah yang ditunjukkan. Sesampainya di Gunung Api Purba tampak parkiran kendaraan pribadi dan bus wisata sudah memadati tempat ini (dilokasi ini sebenarnya juga terdapat camping ground, hanya saja karena lokasinya yang berada di atas gunung dan mempertimbangkan faktor kesulitan membawa sepeda dengan semua panniernya, maka kami memutuskan menuju ke lokasi camping ground yang berada di Embung Nglanggeran saja karena lokasinya yang dibawah serta memungkinkan untuk membawa sepeda hingga ke lokasi camping groundnya)


Setelah membayar tiket masuk dan ijin untuk camping (untuk hari biasa dikenakan tarif 15rb/orang, sedangkan untuk hari libur seperti long weekend kali ini dikenakan tarif 20rb/orang) kami pun masih harus berjalan menuntun sepeda sejauh 800 meter (karena kontur medannya yang masih rusak parah, menanjak, dan susah untuk gowes)

Serius ini papan rambunya? OMG…speechless seketika


Sambil mendorong sepeda lalu istirahat, dorong lagi istirahat lagi, akhirnya sampai juga kami di tempat yang “agak” mendatar, untungnya pemandangan sekitar yang bagus di sepanjang perjalanan menjadi obat rasa lelah kami menuju kesini



Dan untuk menuju ke lokasi camping groundnya tentu saja….masih harus menanjak lagi hehe (ketawa stress), tetapi sepertinya dari pihak pengelola yang berjaga di pos retribusi sudah memberitahukan kepada petugas lainnya mengenai kedatangan kami yang mengendarai sepeda dan hendak camping, sehingga setibanya kami di titik ini ada seorang petugas yang membantu kami mendorong sepeda (salut untuk koordinasi dari pihak pengelola untuk membantu para pengunjung tempat ini, dan tidak “meremehkan” kedatangan kami-kami yang hanya bersepeda), bahkan kami juga diberitahu lokasi sekretariatnya (tidak jauh dari tempat parkir kendaraan bermotor) jika kami ingin beristirahat, mencari makan, atau sekedar mencharger ponsel

Lokasi camping ground berada di titik teratas dari area embung, tetapi kita juga diperbolehkan untuk mendirikan tenda di dekat gazebo-gazebo yang berada di sekitar lokasi embung, kami pun kemudian memilih untuk mendirikan tenda di titik teratas saja yang memang sudah khusus disediakan sebagai lokasi camping


Saat kami mulai mendirikan tenda ada beberapa pengunjung lainnya yang bertanya tentang prosedur ijin camping serta ketersediaan rental peralatan camping di tempat ini (berarti informasi seputar fasilitas camping ground masih kurang terpromosikan di tempat ini, sayang sekali padahal lokasi dan fasilitas pendukung yang tersedia seperti toilet, tempat makan, dan listrik sudah cukup memadai)


Bahkan beberapa pengunjung juga berfoto dengan latar belakang tenda dan sepeda-sepeda kami hehe…


Menjelang pukul 19.00 WIB kerumunan pengunjung yang semula memadati obyek wisata Embung Nglanggeran ini berangsur-angsur berkurang, dari keterangan petugas di lapangan rata-rata pengunjung mulai ramai datang sejak pagi hari untuk mengambil pemandangan sunrise hingga senja untuk mengambil suasana sunset, setelah itu mereka pulang

Untungnya kali ini cuaca cukup bersahabat (tidak seperti waktu kami bikecamping di Pantai Glagah Indah dahulu), selain itu keberadaan pohon dan bebatuan besar juga cukup melindungi tenda kami dari angin, untuk penerangan pun jangan kuatir karena lampu taman yang ada di sekitar camping ground dan embung juga dinyalakan sehingga tidak terlalu gelap, baiklah saatnya beristirahat dulu, selamat malam :)


(15/05/15) Selamat pagi semua :) sayangnya langit tampak berawan sejak semalam sehingga milky way dan pemandangan sunrise menjadi tidak terlihat, tapi tidak apa-apa karena kami memang bukan sunrise dan sunset hunter, lagipula ada pemandangan lainnya yang tidak kalah menakjubkan dari sunrise yaitu lautan kabut yang menyelimuti desa-desa yang berada di bawah lokasi Embung Nglanggeran

Segarnya udara pagi yang bebas polusi


Lautan Kabut yang menyelimuti disekitar lokasi Embung Nglanggeran



Indahnya hidup ini, suasana yang tenang, kicau burung dan udara segar, pemandangan yang indah, it’s paradise



Suasana disekitar lokasi ini memang masih sangat alami terbukti dari burung-burung yang beterbangan bebas, kami bahkan mengamati banyak burung-burung berwarna biru (entahlah apa namanya) yang saling berkejaran dan bermain bebas diantara pepohonan

Kalimat-kalimat bijak pepatah Jawa yang banyak terdapat di sekitar lokasi


Mumpung masih sepi belum ada pengunjung, maka saatnya melakukan foto-foto konyol



Love is everywhere even during our cycling trip


Abaikan handuk yang masih nempel di kepala :)


Sekarang saatnya berjalan-jalan mengitari Embung Nglanggeran


Sekedar informasi tambahan bahwa Embung adalah istilah yang biasa digunakan oleh orang Jawa untuk menyebut kolam atau telaga buatan yang berfungsi sebagai sarana pengairan, begitupun halnya dengan Embung Nglanggeran ini, sejak diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 19 Februari 2013 lalu, embung yang dulunya merupakan sebuah bukit bernama Gunung Gandu ini kemudian dipotong lalu dikeruk untuk dijadikan telaga buatan yang kemudian digunakan untuk mengairi kebun buah yang ada di sekitarnya, untuk sumber air dari embung ini selain berupa tadah hujan juga berasal dari mata air Sumber Sumurup yang berada di Gunung Nglanggeran

Panorama embung nglanggeran di pagi hari dengan lautan kabut yang berada disekitarnya



Didalam embung ini juga terdapat ikan-ikan nila kecil, oleh karena itu pengunjung tidak diperbolehkan untuk mandi, berenang, dan melempar apapun kedalam embung, sehingga cukup dengan menikmati pemandangan dan suasana sekitar embung saja sudah mengasyikkan kok (kalau mau membuat foto-foto romantis atau pre wedding dengan pasangan juga bisa)

Gazebo-gazebo yang ada disekitar embung sebagai tempat beristirahat pengunjung






Embung dengan latar belakang Gunung Api Purba


Semakin siang maka pengunjung sudah mulai berdatangan, saatnya kami mulai beres-beres untuk melanjutkan perjalanan pulang, setidaknya bikecamping kali ini berjalan dengan lancar, sukses dan aman. Setelah urusan packing beres dan tidak lupa mandi dulu supaya segar di perjalanan, kini saatnya pulang dan merencanakan petualangan goweswisata berikutnya

Berfoto dulu sebelum pulang


Sebenarnya masih banyak obyek wisata lainnya di sekitar lokasi ini, suatu saat kami pasti akan kembali lagi dan menjelajahinya satu persatu


Terimakasih sudah mengikuti petualangan goweswisata kali ini, ayo saatnya ciptakan petualanganmu sendiri