Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Wednesday, 27 May 2015

Belik Kayangan

(30/04/15) Sebenarnya perjalanan ke Belik Kayangan ini saya lakukan pada akhir bulan lalu, jadi post kali ini terhitung late post lagi hehe…:)

Pada petualangan goweswisata kali ini saya hanya ditemani oleh pasangan saya saja, mungkin memang sudah menjadi kebiasaan saya ketika melakukan petualangan goweswisata lebih nyaman jika hanya diikuti oleh sedikit orang, karena jujur saja terkadang saya merasa kurang nyaman dan kurang bebas untuk bereksplorasi di sepanjang perjalanan jika harus tergabung dalam grup atau komunitas sepeda berjumlah besar, dengan jumlah peserta yang sedikit maka otomatis sedikit pula saya harus menghadapi perbedaan pendapat saat menentukan waktu beristirahat, berhenti dimana saja, rute serta waktu start maupun pulang.

Kami mengawali start sekitar pukul 07.00 WIB menuju ke Barat melalui Jalan Godean hingga tiba di perempatan Kenteng-Nanggulan, karena kami sudah sering melalui rute ini maka kondisi rute pun sudah kami hafal mengenai dimana saja titik-titik keramaian lalu-lintas dan wilayah mana yang mulai sepi dari hingar-bingar perkotaan

Peta menuju lokasi Belik Kayangan


Tiba di perempatan Kenteng-Nanggulan kayuhan masih terus berlanjut, lurus saja ke arah Barat. Kondisi aspal yang halus dan hamparan persawahan di sisi kiri dan kanan jalan seakan memanjakan mata kami, tetapi herannya nafas saya terasa semakin sesak setiap kali melewati jalan ini, padahal medan menanjak yang kami hadapi selepas jembatan patung sapi tidaklah terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan tanjakan-tanjakan lainnya yang pernah saya lalui seperti tanjakan Patuk dan tanjakan Kalikuning, di tempat ini aspalnya terasa lengket sekali dengan ban sehingga tanjakan yang seharusnya mudah ini menjadi terasa berat (entahlah mungkin hanya perasaan saya saja) dan masih ditambah lagi dengan kelembaban yang tinggi yang berasal dari hamparan persawahan

Dari jembatan patung sapi tersebut rute menanjak masih harus dilalui sekitar 500m lagi hingga nantinya tiba di pertigaan (jika lurus maka kita akan melewati jembatan krapyak dan menghadapi tanjakan ringin yang aduhay sekali hehe…), tetapi kita tidak akan mengambil arah lurus, melainkan belok ke kanan, ikuti jalan saja sampai nantinya melihat ada jalan masuk kecil di sisi kiri tepat berada di seberang Masjid


Dari jalan masuk tersebut kondisi rute mulai sedikit berbatu, tetapi suara aliran air sungai sudah mulai terdengar, pertanda lokasi Belik Kayangan sudah mulai dekat


Dan akhirnya




Untungnya aliran air sungai Kayangan cukup jernih kali ini walaupun malam sebelumnya hujan turun cukup deras mengguyur wilayah Yogyakarta. Setelah memarkir sepeda-sepeda kami di tempat yang aman, maka saatnya bermain air di aliran sungai kayangan ini :)



Belik Kayangan atau sering juga disebut Tebing Kayangan, karena disini ada sebuah tebing vertikal bersudut 90° yang mirip dengan tebing dalam serial kera sakti (sun go kong) dalam mencari kitab suci ke arah barat (bedanya disini kami tidak mencari kitab suci melainkan mencari lokasi wisata hehe…) biasa digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat ciblon atau berendam saat melakukan ritual-ritual pada perayaan tradisi Jawa


Inilah tebing yang menjadi icon dari tempat ini




Kombinasi dari aliran sungai yang jernih dan segar, pepohonan yang rimbun, serta udara yang bebas polusi benar-benar membuat tempat ini pantas disebut sebagai Kayangan (dalam mitologi sebutan Kayangan merupakan tempat peristirahatan Dewa-dewa)




Karena kami berkunjung bukan pada hari libur maka tempat ini pun terasa sepi, sangat damai dan tenang, hanya ada beberapa warga lokal yang mencari batu di sepanjang aliran sungai (sejak tersiar kabar penemuan batu akik bernilai tinggi di aliran sungai Progo dan beberapa aliran sungai lainnya di Yogyakarta maka membuat beberapa orang kemudian berbondong-bondong beralih profesi menjadi pemburu batu akik, semoga apa yang mereka lakukan tidak sampai merusak keindahan alam maupun ekosistem yang ada di sepanjang aliran sungai dan lokasi ini)


Semoga aliran sungai ini dapat terus jernih dan bebas dari limbah polusi ulah manusia


Dan mulailah sesi foto-foto konyol mumpung sepi


Karena asyik bermain air dan menenangkan pikiran di tempat ini tanpa terasa hari sudah semakin siang, saatnya kami harus bersiap beranjak untuk pulang karena perjalanan ke pusat kota masih lumayan jauh (dan panas pastinya)


Setidaknya kini kami mulai bisa memetakan lokasi-lokasi menarik di sekitar Jogja yang bisa dijadikan alternatif destinasi gowes maupun berlibur bagi kalian semua, terkadang bahkan saat kami melakukan petualangan goweswisata maka sebuah tempat yang menarik tidak lagi menjadi tujuan utama kami, karena perjalanan itu sendiri sudah merupakan sebuah petualangan dan yang terpenting adalah bagaimana semua perjalanan ini mampu membawa perubahan yang positif bagi pola pikir dan cara pandang kami terhadap hidup dan kehidupan

2 comments:

  1. pengen sepedahan ke tempat ini ...
    tebing dan sungainya kombinasi yang ajibb

    ReplyDelete
  2. @bersapedahan : silahkan berkunjung dan mengeksplor keindahan yang ada di Yogyakarta :)

    ReplyDelete