Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Monday, 28 August 2017

CHAPTER 13; PULAU DEWATA

Minggu, 3 Januari 2016
Setelah pada malam harinya kami baru bisa tidur jam 12 malam (itu pun setelah kami membuat keputusan yang tepat dengan memindahkan semua barang-barang dan sepeda kami ke pos pantau polisi dan selanjutnya tidur di sofa yang ada di pos pantau tersebut) karena didalam masjid situasi sudah tidak memungkinkan bagi kami berdua untuk beristirahat, para pengurus masjid masih melangsungkan rapat (yang sebenarnya sudah usai dari tadi) dan duduk-duduk, merokok, serta makan di tempat yang tadinya disediakan oleh takmir masjid sebagai tempat beristirahat kami, bahkan saat saya bolak-balik mengangkuti semua barang bawaan kami dari masjid ke pos polisi tidak ada satu pun dari para ustad dan kyai itu yang bertanya, mereka sudah asyik sendiri dengan kelompoknya, ya sudahlah toh bagi kami yang hanya menumpang untuk semalam ini dimanapun dan bagaimanapun tempat yang kami jadikan persinggahan sementara ini tidaklah masalah selama kami bisa beristirahat dengan aman.

Pak Sucitno, salah seorang petugas polisi yang malam itu sedang bertugas seakan menjadi perpanjangan tangan dari Sang Pencipta untuk membantu kami yang sudah letih ini, dengan baiknya Beliau menjaga semua barang kami yang diletakkan didalam ruangannya, sesekali ia pun mengecek pos tempat kami beristirahat, memastikan bahwa kami benar-benar aman dan dapat beristirahat dengan nyaman. Sungguh suatu ironi karena ternyata rasa kemanusiaan tersebut justru kami dapatkan dari seseorang yang dengan ikhlasnya membantu orang lain tanpa ia harus memamerkan atau mencitrakan dirinya sebagai seorang ahli agama, padahal tepat di belakang pos tersebut ada sebuah bangunan Masjid yang besar dan megah dengan sekelompok orang yang katanya “ahli ilmu agama” sedang berkumpul di dalamnya tetapi mereka hanya merasa "hidup" untuk kelompoknya sendiri saja, maka tidaklah mengherankan jika saat ini semakin banyak generasi muda yang enggan untuk bersilaturahmi ke masjid karena dari pihak pengurus masjid sendiri tidak berusaha merangkul mereka dengan cara yang luwes, mereka seakan membuat dinding abstrak yang membatasi dan hanya mau berbaur dengan kelompok mereka sendiri atau dengan orang-orang yang berpenampilan atau memakai atribut layaknya seorang ahli agama, padahal dari apa yang pernah saya baca dan saya mengutip dari salah seorang Kyai yang juga pernah menjadi Pemimpin dan Guru Bangsa ini, Beliau mengatakan bahwa Agama Islam itu datang ke Indonesia bukan untuk merubah budaya leluhur kita menjadi budaya arab, bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’, ‘bapak’ jadi ‘abi, ‘ibu’ jadi ‘umi’ dan seterusnya, kita pertahankan apa yang menjadi karakter dan milik kita, karena yang harus kita serap adalah ajarannya, bukan budaya arabnya.

Sekitar pukul 04.30 WIB kami sudah terbangun karena mendengar suara ramai di parkiran depan masjid yang kini terlihat dipenuhi oleh bus-bus berisi rombongan karyawisata yang berhenti untuk beristirahat sejenak, kami pun mulai mempacking semua panniers ke atas sepeda masing-masing, setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih ke Pak Sucitno kami pun mulai melanjutkan gowes lagi.

Bersepeda di pagi hari dalam keadaan belum mandi membuat badan kami jadi agak kedinginan, ditambah lagi faktor kurang tidur yang membuat kepala jadi sedikit berat, namun mengingat jarak ke Pelabuhan Ketapang hanya tinggal sedikit lagi maka kami pun tetap melanjutkan perjalanan walau mengayuh dengan perlahan. Laut sudah mulai terlihat di sisi kiri jalan, beberapa penanda starting poin bagi wisatawan yang ingin menyeberang ke Pulau Tabuhan menggunakan perahu banyak dijumpai disekitar wilayah Bangsri ini, namun karena kami mengejar waktu untuk sampai di pelabuhan penyeberangan yang menuju Pulau Bali di Ketapang maka kami pun memutuskan untuk melewatkan berwisata ke Pulau Tabuhan.

Tak berapa lama kemudian sampailah kami di Pantai Watudodol, tepat di pinggir jalannya terdapat sebuah pos yang pada bagian atasnya terdapat patung seorang penari, banyak orang yang berhenti untuk berfoto dengan mengambil latar belakang patung penari tersebut, dari sini pun pelabuhan penyeberangan dan kapal-kapal ferry sudah mulai terlihat



Sebelum mulai menyeberang kami pun memutuskan untuk membeli beberapa minuman dan makanan sebagai bekal perjalanan diatas kapal sekaligus mengantisipasi jika setibanya di Pulau Bali nanti harga-harga menjadi lebih mahal, karena sebagai sebuah Pulau yang menjadi destinasi wisata berkelas dunia tentunya harga-harga apapun itu setidaknya mungkin akan lebih tinggi daripada di Pulau Jawa.

Begitu memasuki Pelabuhan Ketapang kami kemudian ikut mengantri bersama kendaraan roda dua lainnya, tiket masuk yang harus kami keluarkan sebesar Rp 16.000,- untuk 2 orang sudah termasuk sepeda-sepeda kami. Di dalam kapal ferry sepeda kami sandarkan tepat dibawah tangga, beberapa orang yang juga ikut menyeberang tampaknya penasaran dan bertanya darimana asal kami ketika mereka melihat banyaknya barang bawaan yang ada diatas sepeda kami




Setelah sepeda terparkir dengan aman kami pun kemudian menuju ke ruang tunggu penumpang yang ada dibagian atas dan memilih kursi yang dekat dengan bagian lambung kapal supaya bisa melihat pemandangan dengan jelas, di kejauhan Pulau Bali sudah mulai terlihat, akhirnya babak baru petualangan goweswisata.blogspot.co.id akan segera dimulai.



Butuh waktu sekitar 1 jam untuk menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk. Sebenarnya sempat ada rasa takut pada diri kami berdua sebelum mulai menyeberang ke Pulau Bali, karena setelah keluar dari Pulau Jawa maka saat itulah kami dihadapkan pada tantangan baru, dimana perbedaan budaya, kultur dan aktivitas masyarakat setempat akan lebih terasa, terlebih karena kami tidak mempunyai saudara atau kenalan lagi di daerah tersebut, tetapi ya sudahlah, toh petualangan goweswisata.blogspot.co.id ini juga sudah dimulai sejak kami meninggalkan Yogyakarta, dan niat kami juga baik sehingga kami yakin Sang Pencipta juga akan senantiasa melindungi kami berdua dan yang terpenting adalah karena kami memiliki harapan bahwa selalu ada petualangan baru untuk dibuat :)

Goodbye Java Island



Akhirnya usai sudah petualangan bersepeda kami di Pulau Jawa, saatnya bersiap menulis lembaran baru petualangan bersepeda goweswisata di Pulau Bali


Akhirnya kapal kami berlabuh juga di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kesan pertama begitu menginjakkan kaki di pulau dewata ini adalah panas banget cuacanya. Dengan cuaca yang super panas seperti ini ditambah lagi kami belum mandi seharian rasanya badan terasa lengket dan beraroma nano-nano, akhirnya kami pun pergi ke Kantor Polsek Jembrana yang berada tidak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk, disana kami pun meminta ijin kepada polisi yang ada di meja jaga untuk menumpang mandi.


Setelah selesai mandi badan jadi terasa segar lagi, kini saatnya mulai menyusuri ruas jalan di Bali. Hal yang saat ini menjadi perhatian kami adalah mencari warung makan muslim, karena di Pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu maka menu makanan seperti babi guling dan lainnya pun merupakan hal yang lumrah, oleh karena itulah sebagai penganut agama Islam kami harus pintar mencari dan memilih warung makan yang menyediakan menu halal, untunglah kini di sepanjang jalan dari Gilimanuk ke Negara sudah banyak tersedia warung makan muslim dan Masjid, hal ini mungkin karena banyak pendatang dari Situbondo dan Banyuwangi yang sekarang bermukim dan membuka usahanya di sekitar wilayah ini


Untuk harga makanan di Bali lebih baik kalian bertanya dulu sebelum memesan, kami pun juga bertanya ini itu sebelum memesan, mencoba mencari kombinasi menu dan harga yang sesuai dengan budget kami, sedangkan untuk porsinya jangan bandingkan dengan porsi makanan di Jogja yang berlimpah, disini ukuran satu porsinya lebih irit jadi untuk kalian yang biasa makan dalam jumlah besar pasti bakal tetap merasa lapar hehe...

Setelah makan (dengan porsi yang irit) kami melanjutkan gowes lagi dengan mengambil rute Bali Selatan melalui Taman Nasional Bali Barat, walaupun sebutannya Taman Nasional tetapi ruas jalan yang melalui Taman Nasional ini terbilang cukup ramai dan di sisi kanan jalan juga terdapat beberapa kantor pemerintah, sehingga suasananya tidak sesunyi Taman Nasional Baluran yang ada di Banyuwangi



Disini kami banyak berpapasan dengan petouring dari Negara lain, salah satunya mister ini dari Spanyol


Kami pun sempat berhenti sejenak di salah satu Monumen yang ada di tengah-tengah perlintasan rute jalan taman nasional ini untuk mengambil beberapa foto dengan membayar seikhlasnya. Puas berfoto-foto lanjut gowes lagi dan tidak berapa lama kemudian setelah keluar dari area Taman Nasional Bali Barat ini kami langsung disambut dengan kontur jalan yang naik-turun dan cukup sempit, sehingga kami harus ekstra waspada terutama karena rute ini juga banyak di lalui oleh bus, truk, dan kendaraan pribadi.




Menempuh medan tanjakan dibawah terpaan sinar matahari yang terik dan waktu yang terasa berjalan cepat sekali (karena sekarang kami mengikuti waktu Indonesia bagian Tengah sehingga kini waktu menjadi 1 jam lebih awal dibanding sebelumnya ketika kami masih berpatokan kepada waktu Indonesia bagian Barat) membuat persediaan air di botol-botol minum kami menjadi cepat habis, akhirnya sekitar pukul 5 sore (dengan matahari yang masih bersinar cerah seperti jam 3 sore WIB) kami pun memutuskan untuk mencari tempat beristirahat dan menyudahi gowes hari ini. Hotel Jati yang berada di Jalan Udayana tepat disamping Kantor Samsat pun menjadi pilihan kami (karena setelah bertanya-tanya ternyata ada kamar dengan harga sewa yang masih terjangkau budget kami yaitu sebesar Rp 75.000,-/malam dengan fasilitas kamar mandi dalam, 2 tempat tidur, kipas angin, dan tv serta mendapat sarapan pagi), setidaknya sesekali bolehlah kami memanjakan diri sejenak mengingat selama sekitar 12 hari perjalanan ini kami sudah berhemat cukup banyak sehingga karena budget masih memungkinkan, kami pun sepakat untuk beristirahat dan memanfaatkan proses recovery secara maksimal di tempat ini, kami tidak mau memaksakan atau menyiksa diri dikarenakan selain petualangan kami masih panjang, kami juga berpikir bahwa faktor kesehatan sangat penting dan dibutuhkan selama perjalanan kami nantinya. Setelah menyelesaikan semua proses administrasi, unpacking semua barang-barang ke dalam kamar dan memarkir sepeda-sepeda kami tepat di depan kamar, selanjutnya tinggal mandi dan beristirahat sebelum besoknya mulai merencanakan agenda petualangan goweswisata berikutnya di Pulau Bali ini




Pengeluaran hari ini :
- belanja alfamart = Rp 17.500,-
- 2 tiket ferry = Rp 16.000,-
- tiket masuk monumen = Rp 10.000,-
- 2 porsi nasi + sop = Rp 12.000,-
- 2 porsi nasi campur = Rp 10.000,-
- penginapan 2 hari Hotel Jati = Rp 150.000,-

Total : Rp 215.500,-

Total jarak tempuh hari ini :50,61km

Sunday, 20 August 2017

CHAPTER 12; SITUBONDO-BALURAN-WONGSOREJO

Sabtu, 2 Januari 2016
Kemeriahan suasana pergantian tahun kali ini akhirnya berakhir sudah, di awal tahun 2016 ini kami pun kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan bersepeda menuju kearah Timur Indonesia, perasaan berdebar antara penasaran, gembira, dan cemas semua bercampur menjadi satu sehingga sangat susah untuk dijelaskan, karena mulai dari titik ini dan terus menuju kearah Timur kami sudah tidak mempunyai sanak famili dan teman-teman yang kami kenal lagi, semua akan menjadi hal yang baru dan asing, oleh karena itulah kami pun bersiap untuk menghadapi tantangan berikutnya dengan membuka pikiran kami untuk menerima hal-hal baru dari orang-orang baru yang ke depannya akan kami jumpai.

Sebelumnya kami memanfaatkan waktu selama enam hari di Situbondo ini dengan beristirahat, bersih-bersih menyortir barang-barang bawaan yang tidak terpakai, menunggu kiriman paket, serta merapikan file-file hasil dokumentasi di sepanjang perjalanan, kami pun tidak lupa tetap menjaga stamina dengan sesekali melakukan gowes santai berkeliling kota sambil berkunjung ke rumah saudara-saudara saya yang berdomisili di Situbondo, maklum saja setelah sebelumnya rutinitas kami banyak dihabiskan untuk bersepeda dan jika tiba-tiba selama 6 hari kami hanya bersantai-santai tidak bersepeda sama sekali daripada nantinya badan menjadi "kaget" maka kami pun tetap melakukan aktivitas olahraga ringan (bersepeda dan berjalan kaki), oleh karena itu setelah semua kiriman paket kami datang maka kami pun memutuskan untuk secepatnya kembali melanjutkan perjalanan goweswisata ini sebelum kami benar-benar terlena dengan zona nyaman

Seperti yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya ketika kita akan berpamitan atau melepas salah satu anggota keluarga yang akan bepergian jauh, maka ketika kami sedang mempacking barang-barang, bulik saya juga terlihat repot menyiapkan bekal makanan untuk perjalanan kami, dan karena hari ini adalah Hari Sabtu serta masih bernuansa libur tahun baru dimana semua anggota keluarga pada hari ini berada di rumah, maka semuanya juga ikut sibuk bertanya kira-kira apa yang kami butuhkan untuk bekal nanti. Sepertinya mereka malah lebih cemas daripada kami berdua yang menjalani petualangan ini secara langsung.

Setelah berpamitan (dan juga berfoto bersama untuk kenang-kenangan) kami pun berangkat meninggalkan kediaman bulik saya pukul 07.00 WIB. Kondisi lalu lintas Kota Situbondo pada hari Sabtu pagi ini terlihat agak lenggang, mungkin karena sebagian warganya masih kelelahan setelah begadang pada malam pergantian tahun 2015-2016 ini

Kondisi lalu lintas yang cukup sepi ini pun secara tidak langsung menguntungkan kami berdua karena kami bisa lebih cepat dan bebas melaju sambil sesekali menghindari lubang dan tambalan jalan yang ada di sisi kiri, kira-kira sekitar pukul 09.00 WIB pun kami sudah sampai di wilayah Asem bagus, disini kami beristirahat sebentar di pinggir jalan sambil menyantap bekal sarapan yang tadi disiapkan oleh bulik saya.

Selepas wilayah Asem bagus kami kemudian melewati daerah Banyu putih, hingga kemudian tibalah saatnya kami memasuki area Taman Nasional Baluran.


Dari titik inilah tantangan bermula, kondisi jalan yang awalnya hanya datar-datar saja kini mulai menanjak, selain itu jangan berharap ada minimarket disepanjang area Taman Nasional Baluran karena disepanjang rute ini yang ada hanya pepohonan di sisi kiri dan kanan, oleh karena itu jika kalian ingin berkunjung atau hanya sekedar melewati wilayah Baluran ada baiknya pastikan bekal makanan dan minuman yang kalian bawa cukup, tapi tetap ingat ya untuk tidak membuang sisa sampah kalian secara sembarangan ke jalanan.



Selain itu sebaiknya hindari melewati rute ini jika sudah terlalu sore atau kemalaman, selain karena kalian tidak dapat menikmati pemandangan, rute di sepanjang wilayah ini juga rawan kecelakaan dikarenakan tidak adanya penerangan lampu jalan. Maka dari itu sebaiknya kalian melewati rute ini pada pagi atau siang hari karena kalian dapat melihat pemandangan seperti deretan pepohonan disepanjang jalan, savanna atau padang rumput, Gunung baluran, dan beberapa ekor monyet yang melintas di jalan, dan jika kalian merasa lelah maka kalian juga dapat beristirahat di pos-pos perhutani yang banyak tersebar dibeberapa titik di sepanjang jalan ini, satu-satunya yang perlu kalian waspadai saat beristirahat di wilayah Baluran adalah banyaknya ulat-ulat kecil yang melata dan bergantungan di dahan-dahan pohon, walau terdengar sepele namun keberadaan ulat-ulat terutama yang bergantungan menjuntai di dahan-dahan pepohonan cukup mengganggu perjalanan kami, karena selain kami harus berkonsentrasi menghindari lubang-lubang dan tambalan jalan, kami juga harus menghindari ulat-ulat bulu yang bergantungan tersebut.



Cuaca yang saat itu panas terik ketika kami sedang menghadapi medan menanjak juga cukup menyiksa, terlebih karena pos-pos perhutani yang tadinya kami perkirakan bisa untuk beristirahat ternyata dalam keadaan kosong semua, tidak ada satupun petugas perhutani yang berjaga di pos tersebut, satu-satunya pos perhutani yang ada petugas penjaganya hanyalah pos yang berada disamping pos pantau polisi (itupun tidak ada petugas polisi yang berjaga di pos pantaunya, sepertinya pos pantau tersebut juga tidak setiap hari difungsikan)


Untunglah di pos perhutani yang ada petugas jaganya tersebut kami diberitahu bahwa setelah pos tersebut kondisi jalannya sudah mulai menurun (Alhamdulillah) dan kira-kira 3km lagi maka selesai sudah rute area Taman Nasional Baluran, berganti dengan daerah pemukiman penduduk.

Ternyata benar apa yang dibilang petugas perhutani tersebut, kondisi jalan mulai didominasi turunan, hanya sesekali saja terdapat tanjakan. Kami pun sempat beristirahat lagi di obyek wisata Waduk Bajulmati namun hanya sebentar saja mengingat kami harus sudah keluar dari rute Taman Nasional Baluran ini sebelum waktu Ashar



Sekitar pukul 3 sore akhirnya kami sudah berhasil keluar dari wilayah Baluran dan memasuki Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di daerah Wongsorejo. Sebenarnya rencana awal kami adalah mencari tempat beristirahat untuk nanti malam di Kantor Polsek Wongsorejo namun setibanya kami di Kantor Polsek Wongsorejo dan menemui petugas di meja jaga ternyata jawabannya berbelit-belit, dengan dalih kasihan kepada kami jika menginap di Polsek Wongsorejo nantinya kami tidak dapat melihat pemandangan apa-apa karena di wilayah Wongsorejo ini tidak ada yang dapat dilihat, mereka malah menganjurkan kepada kami untuk meneruskan perjalanan sampai Polsek Ketapang supaya kami bisa melihat pemandangan laut (sedangkan jarak menuju Polsek Ketapang tersebut masih 27km lagi, hallo pak polisi masih sehat?)


Mereka mengatakan "lanjut sedikit lagi saja mas, sudah dekat kok tinggal 27km lagi atau malah bisa sekalian nyebrang ke Bali", jalannya hanya lurus saja kok tidak ada hutan atau tanjakan lagi. Intinya mereka tidak ingin kami menumpang di kantor mereka entahlah mengapa, padahal di kantor-kantor polsek sebelumnya sambutan dan penerimaan dari para petugas polisi terhadap kami sangat ramah dan hangat dan merekalah yang menyarankan kepada kami untuk beristirahat di kantor polisi di sepanjang perjalanan kami supaya aman.

Total jarak tempuh hari ini yang tercatat di cyclocomp sepeda saya sudah menunjukkan angka 69,97km, jika masih harus menempuh 27km lagi maka perjalanan hari ini akan menjadi perjalanan yang paling menyakitkan. Selain karena sebelumnya kami sudah diterpa terik mentari dan menghadapi medan tanjakan, masih ditambah lagi dengan berat beban sepeda dan pannier-pannier kami, selain itu arus lalu-lintas yang semakin ramai juga menjadi masalah dan sangat berbahaya untuk bersepeda di kegelapan malam, maka dari itu saya tetap tidak mengerti apa yang ada di pikiran bapak-bapak polisi di meja jaga Kantor Polsek Wongsorejo tersebut dengan mengatakan jaraknya sudah dekat sekitar 27km lagi, seandainya mereka merasakan atau menempuh sendiri jarak yang sudah kami lalui tadi dengan bersepeda tentu mereka akan mengerti bahwa yang kami butuhkan untuk malam ini adalah ruang untuk beristirahat, bukan untuk melihat pemandangan

Tidak ada tanjakan lagi? hmmm...sepertinya mereka mengatakan hal seperti itu karena mereka menempuh rute tersebut dengan menaiki kendaraan bermotor, jika saja mereka menempuhnya dengan bersepeda maka perubahan elevasi kontur jalan sekecil apapun akan sangat terasa, tanjakan-tanjakan kecil tetap saja harus kami lalui, jika kondisi badan kami fit maka tanjakan-tanjakan seperti ini tidaklah menjadi masalah namun dengan kondisi badan yang letih seperti ini maka tanjakan-tanjakan tersebut menjadi terasa berat, sambil memaksakan diri untuk terus mengayuh sepeda secara perlahan akhirnya begitu melihat Masjid kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sekalian menunaikan ibadah Sholat Ashar

Masjid Jami Baiturrahim Wongsorejo, Masjid besar ini terletak tepat disamping pos pantau polisi, ketika kami bertanya kepada polisi di pos pantau tersebut kira-kira bolehkah kami menumpang beristirahat semalam di pos tersebut, oleh pak polisi kami malah dianjurkan untuk menginap dan beristirahat saja di dalam Masjid, karena Masjid tersebut kadang juga digunakan oleh rombongan peziarah dari daerah lain untuk menginap, kami pun kemudian diajak untuk bertemu dengan takmir masjid tersebut

Setelah bertemu dan menjelaskan maksud dan tujuan kami, kami pun dipersilahkan oleh takmir Masjid tersebut untuk menginap satu malam, kami juga ditunjukkan tempat untuk menaruh sepeda dan barang-barang kami, serta tempat dimana kami bisa tidur nantinya. Sepeda kami letakkan di luar masjid tidak lupa kami kunci, sedangkan semua barang bawaan kami letakkan dibawah tangga masjid, dan yang membuat kami sedikit heran dan bingung adalah tempat kami tidur yang berada tepat disamping bedug (dan ternyata bedug tersebut masih difungsikan setiap kali adzan, nah bayangkan apa yang akan terjadi besok subuh) padahal ketika saya berkeliling tadi saya sempat melihat ada satu spot tersembunyi dipojokan yang cukup nyaman untuk beristirahat serta tidak mengganggu aktivitas atau pergerakan dari para Jemaah Masjid

Ternyata penderitaan hari ini belumlah berakhir, cobaan berikutnya adalah ternyata malam ini ada rapat pengurus masjid yang diadakan tepat di depan bedug (otomatis kami harus menunggu rapat tersebut selesai dulu baru kami bisa tidur), akhirnya kami pun terpaksa menunggu di dekat tangga masjid hingga jam 11 malam (sedangkan besok subuh kami harus dan pasti terbangun karena suara bedug) ditambah lagi di luar sedang turun hujan sehingga sepeda-sepeda kami terpaksa kebasahan

Seandainya saja tadi takmir masjid mengatakan "maaf tapi tidak boleh menginap di masjid", hal tersebut mungkin lebih baik bagi kami, setidaknya kami masih punya sisa waktu satu jam lagi untuk mencari tempat beristirahat lainnya daripada seperti ini, dari yang awalnya mengatakan “bisa” tapi kenyataannya kami masih harus menunggu hingga larut malam untuk bisa beristirahat, sedangkan besoknya kami masih harus melanjutkan perjalanan bersepeda ini lagi

Akhirnya karena rasa kesal, lelah, dan bosan menunggu rapat pengurus Masjid yang tidak selesai juga (padahal sudah jam 12 malam), kami pun menuju ke pos pantau polisi yang berada di samping masjid, untungnya karena hari ini dan sepekan kedepan masih berlangsung kegiatan operasi pengamanan malam Natal dan Tahun Baru maka disamping pos pantau polisi tadi juga di bangun tenda terpal yang diperuntukkan jika sewaktu-ada kejadian darurat seperti kecelakaan. Kami pun bertanya kepada petugas yang malam ini berjaga untuk menumpang beristirahat di pos pantau tersebut, kami kemudian menceritakan seluruh kronologi kejadian hari ini sampai mengapa akhirnya kami terpaksa menumpang beristirahat di pos pantau ini, untunglah oleh petugas yang malam ini berjaga kami pun akhirnya diperbolehkan untuk tidur di dalam pos pantau tersebut, akhirnya semua barang-barang bawaan kami yang sebelumnya kami letakkan di bawah tangga Masjid pun kami pindahkan satu persatu kedalam pos pantau polisi tersebut (bahkan saat saya hilir mudik memindahkan barang-barang bawaan kami pun, beberapa pengurus Masjid yang “katanya rapat” tersebut sama sekali tidak menghiraukan, mereka tetap saja asyik merokok dan ngobrol ngalor-ngidul sesamanya, tidak ada yang bertanya apalagi menyapa walaupun melihat), sepeda-sepeda pun akhirnya kami pindahkan dan masukkan kedalam tenda terpal yang ada disamping pos pantau.


Malam ini akhirnya lagi-lagi saya terpaksa tidur ayam alias sebentar-sebentar terjaga ketika ada suara, karena saya harus sambil mengawasi Agit, barang-barang bawaan, serta sepeda-sepeda kami. Saat tanpa sengaja terbangun sambil melirik jam saya akhirnya mengetahui bahwa “rapat pengurus Masjid” tersebut baru benar-benar usai sekitar pukul 3 dini hari (untunglah kami tidak jadi menginap di Masjid tersebut, bayangkan berapa lama kami harus menunggu ketidakjelasan seperti itu barulah kami bisa beristirahat), sempat terbersit pemikiran lucu bahwa alangkah sayangnya saat ini banyak orang yang ramai-ramai memperindah Masjid atau membangun Masjid yang megah namun pada akhirnya Masjid tersebut menutup dirinya dari orang-orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), mereka enggan membuka pintunya sebagai tempat bernaung atau beristirahat bagi orang yang membutuhkan hanya karena takut jika barang-barang didalam masjidnya hilang, rusak atau kotor. Dari pengalaman saya sepanjang perjalanan ini maka semakin besar atau bagus Masjid tersebut justru akan semakin sulit untuk dimasuki atau digunakan sebagai tempat beristirahat sementara, hal yang berbeda terjadi pada sebuah masjid kecil, surau atau langgar di pedesaan yang malah lebih terbuka dalam membantu siapapun yang saat itu membutuhkannya terlepas dari apapun agamanya, karena dalam hal membantu sesama manusia tidak selalu memerlukan alasan bukan?

Sejauh ini selepas Kota Situbondo ke arah Banyuwangi belum ada kesan yang menyenangkan bagi kami terhadap kota ini, baik pemandangannya (kecuali Baluran) maupun perilaku warganya (yang sebagian besar kami jumpai sangat "susah tersenyum", padahal senyum itu ibadah bukan?)

Ya sudahlah setidaknya hari ini menjadi pelajaran bagi kami kedepannya bahwa terkadang dalam hidup ini tidak semua hal akan berjalan mulus-mulus saja, terkadang pasti ada cobaan yang datang atau ada 1 hari dimana kita merasa bahwa pada hari itu semua terasa sulit dan menyakitkan, dan hal itu membuat kita bertanya kepada Sang Pencipta “Tuhan mengapa saya terus diuji?” dan mungkin Tuhan akan menjawab sambil tersenyum “Karena engkau mampu”. Sebuah jawaban yang sederhana seperti yang tertulis dalam Kitab Suci bahwa manusia tidak akan diberi cobaan melebihi apa yang sanggup dipikulnya, dan juga supaya kita belajar bahwa satu chapter yang buruk dalam hari atau hidupmu bukanlah merupakan akhir dari seluruh kisah perjalanan tersebut. Dan satu pelajaran lagi bahwa berbuat baiklah kepada sesamamu, karena ketika engkau berbuat baik kepada sesamamu maka orang lain tidak akan bertanya apa agamamu, darimana sukumu, seberapa kaya dirimu, atau apa latar belakang pendidikanmu, karena bagaimana cara kalian memperlakukan seseorang secara tidak langsung akan menunjukkan kualitas diri kalian yang sebenarnya sebagai manusia

Pengeluaran hari ini :
- 2 botol es-tee = Rp 9.000,-
- 6 botol teh javana = Rp 11.700,-
- 4 botol ichi ocha = Rp 10.000,-
- 2 bungkus nasi telor = Rp 8.000,-

Total = Rp 38.700,-

Total jarak tempuh hari ini : 71,55km

Tuesday, 15 August 2017

GUNUNG TIGO DAN GUNUNG KRINJINGAN



(13/08/2017)
Sektor pariwisata di Propinsi DIY nampaknya kini semakin menggeliat, hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya spot-spot wisata baru yang bermunculan yang kebanyakan berawal dari hasil swadaya masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata yang ada di wilayahnya masing-masing.

Saat ini sudah tak terhitung lagi jumlah spot-spot wisata baru yang bertebaran hampir merata di seluruh pelosok dan Kabupaten Propinsi DIY ini, sebagian besar bahkan mungkin belum terdata oleh Suku Dinas Pariwisata Pemda DIY walaupun tempat tersebut sudah dibuka untuk masyarakat umum.

Kabupaten Kulonprogo yang mempunyai julukan “the jewel of java” pun tak luput memaksimalkan setiap potensi wisata yang dimilikinya, Kabupaten yang posisinya berada di sebelah Barat Kota Jogja ini seakan tidak mau ketinggalan dengan Kabupaten-kabupaten lainnya dalam mengembangkan sektor pariwisatanya, untuk itulah pada post goweswisata.blogspot.co.id kali ini saya akan mencoba menggali potensi wisata tersembunyi apa saja yang ada di balik kemegahan pesona jejeran pegunungan Menoreh ini.

Pada petualangan goweswisata.blogspot.co.id kali ini saya sudah mempersiapkan diri dengan melakukan technical check sepeda sebelum berangkat, dikarenakan rute dan kontur jalan yang nantinya akan saya hadapi bakal didominasi oleh tanjakan-tanjakan yang memiliki derajat kemiringin yang cukup membuat dengkul terasa ngilu dan paha terasa kencang.

Kali ini saya melakukan penjelajahan seorang diri dengan pertimbangan lebih bebas menikmati perjalanan. Mengawali start sekitar pukul 07.00 WIB saya mengambil rute melalui Tugu Jogja terus ke arah Barat melewati Jalan Godean, ini merupakan rute yang sudah sering saya lalui setiap kali saya melakukan nyekar ke makam keluarga, rutenya hanya lurus saja ke arah Barat dan cenderung flat sampai melewati Jembatan Sungai Progo hingga kemudian tibalah kita di perempatan Kenteng-Nanggulan (terminal kenteng), dari perempatan terus saja lurus ke Barat, di sepanjang sisi jalan juga sudah terdapat papan petunjuk arah menuju obyek-obyek wisata apa saja yang ada di sekitar Menoreh ini antara lain curug bendo, kedung ratmi, belik kayangan, gunung lanang, goa kiskenda, dan lainnya (namun jangan senang dulu karena jarak menuju spot-spot wisata tersebut masih cukup jauh)

Tantangan baru dimulai di km 27, setelah melewati papan nama Dusun Tileng, disini sebaiknya kalian mulai mempersiapkan diri dan kendaraan (apapun jenis kendaraan yang kalian gunakan) karena kontur jalan berikutnya akan terus menanjak (dan tidak ada SPBU)

Perlahan saya mulai melakukan shifting menggunakan grainy gear alias gowes ngicik, selain karena derajat kemiringannya yang menyebalkan, sepeda serta beban di pannier yang saya bawa juga cukup menguras tenaga oleh karena itu saya tidak mau memforsir seluruh stamina saya diawal perjalanan ini karena lokasi yang saya tuju masih cukup jauh.

Kira-kira pada 1,5km awal tanjakan saya bertemu dengan rombongan goweser lainnya berjumlah 4 orang yang berasal dari Gamping, kami pun saling menyapa dan menanyakan tujuan masing-masing, mereka menjawab hendak mencoba sekuatnya saja rute ini, sedangkan saya sendiri menjawab entahlah karena jujur saja saya pun tidak tahu apa saja yang ada di sepanjang rute ini, satu-satunya tempat yang pernah saya datangi pada perjalanan goweswisata terdahulu hanyalah sampai di titik spot puncak Moyeng yang berada kira-kira 2 km dari titik awal tanjakan

Sambil beristirahat di pinggir jalan mereka lalu bertanya saya berasal dari komunitas sepeda apa, saya pun menjawab bahwa saya tidak bergabung dengan komunitas sepeda apapun karena saya lebih menikmati gowes sendirian seperti ini, karena saat sendiri seperti ini saya bisa lebih bebas menikmati perjalanan sambil melakukan kontemplasi diri, “Tapi yo opo ra mangkel mas nek ngepit dewe’an, ra ono kancane nggo ngobrol-ngobrol?”, Tanya salah seorang dari mereka, “nek butuh konco nggo ngobrol yo sak ketemune wae neng dalan Mas, sopo wae, mbuh goweser opo dudu ra masalah”, jawab saya, Ya mereka bertanya apa saya tidak takut atau bosan ketika gowes sendirian menuju tempat yang tidak pernah dilalui sebelumnya, hanya bertualang seorang diri tanpa ada teman ngobrol, bagi saya pribadi berbincang-bincang dengan orang lain bisa saya lakukan disepanjang perjalanan ini, terkadang saya berbincang dengan pemilik warung disaat saya beristirahat, atau kepada petani ketika saya bertanya arah, dan masih banyak lagi orang-orang yang saya ajak berbincang ketika saya melakukan petualangan seorang diri seperti sekarang ini, setidaknya walaupun bertualang seorang diri tapi saya tidak pernah merasa kesepian

Setelah saya rasa cukup beristirahat, saya pun berniat kembali melanjutkan perjalanan, “kalian mau ikut lanjut?”, Tanya saya kepada 4 orang goweser tadi, “monggo duluan saja Mas, ngko tak susul, masih kesel dengkul’e”, jawab mereka, sebuah jawaban yang pada akhirnya tidak pernah terlaksana karena hingga saya tiba di tujuan, mereka pun tidak pernah terlihat dan menyusul, mungkin pada akhirnya mereka berhenti di Puncak Moyeng karena titik itulah yang paling dekat dengan tempat mereka beristirahat tadi lalu mereka kembali pulang, sedangkan saya masih meneruskan perjalanan tanpa tujuan, hanya mengikuti rute ini saja karena didorong oleh rasa penasaran “apa ya yang ada di atas sana?”.

Beberapa kali saya berhenti mengayuh dan melanjutkan perjalanan dengan mendorong sepeda, kombinasi antara mengayuh dan mendorong ini saya lakukan berulangkali tergantung kontur jalan, untunglah selain bersepeda saya juga suka berjalan kaki sehingga bagi saya kegiatan mendorong sepeda sambil berjalan kaki ini tidaklah terlalu menyiksa.

Disepanjang rute ini saya juga melihat ada beberapa kendaraan bermotor (mobil) yang tidak kuat menanjak sehingga harus diganjal bannya supaya tidak mundur, sepertinya kasus seperti ini sering terjadi karena di beberapa titik ada beberapa orang yang berjaga sambil membawa pengganjal ban, bahkan motor pun ada yang sambil zig-zag jalannya atau menggeber gasnya supaya kuat menanjak, untunglah kendaraan saya hanyalah sepeda kayuh sehingga maju atau tidaknya saya hanya tergantung kepada stamina dan semangat saya saja


Papan petunjuk berikutnya (lokasinya masih jauh lagi)


Beberapa pengguna kendaraan bermotor bahkan ada yang sampai melongokan kepalanya keluar dari jendela mobilnya hanya untuk memastikan bahwa saya benar-benar menggunakan sepeda melalui rute ini, sebagian lagi hanya memberi senyum dan acungan jempol (mungkin mereka berpikir ada saja orang “gila” yang membawa sepeda touring dengan bebannya melewati rute menanjak seperti ini)

Di sepanjang rute ini saya juga melihat banyak masyarakat yang melakukan kerja bakti membersihkan lingkungannya serta memasang gapura dan umbul-umbul dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan RI ke-72 yang akan jatuh pada tanggal 17 Agustus nanti.

“Piyamba’an Mas? Bade tindak pundi?’, Tanya beberapa warga yang melihat saya mengayuh, mendorong, dan menuntun sepeda, “hanya jalan-jalan saja bu”, jawab saya sambil tersenyum, entahlah mereka percaya atau tidak karena ya kali hari gini ada orang yang jalan-jalan sambil mendorong sepeda membawa beban melalui medan menanjak hehe…

Tetapi berkat gaya bertualang seperti inilah pada akhirnya saya bisa menangkap detail perjalanan dan berinteraksi dengan orang-orang yang saya temui selama perjalanan ini, selama tidak dibawa kesal maka seberat apapun perjalanannya kita akan lebih menikmati detail yang ada, salah satunya seperti menemukan spot wisata yang baru saja dilaunching belum lama ini


Bahkan pemandangan yang ada di sepanjang sisi jalan pun tak kalah indahnya dengan spot-spot wisata yang sudah lebih dulu dikelola secara professional



Hingga akhirnya sampailah saya di sebuah pertigaan, untunglah ada papan penunjuk arah sehingga kita tinggal memutuskan hendak menuju kemana


Beberapa penunjuk arah lokasi obyek wisata yang ada di sekitar wilayah ini, banyak kan? Membuktikan bahwa semakin sulit rute yang kita lalui pada akhirnya akan membawa kita menuju kepada lokasi yang indah, mungkin sama halnya dalam hidup ini bahwa semakin sulit tantangan yang kita hadapi dalam hidup namun jika kita berhasil menyelesaikannya dan tidak menyerah maka yakinlah semua itu akan membawa kita kepada hasil yang manis (proses tidak akan mengkhianati hasil)


Sepertinya daftar yang ada masih akan bertambah lagi kedepannya seiring dengan bermunculannya spot-spot wisata baru, beberapa spot wisata lain yang berada tidak jauh satu sama lainnya dan masih dalam satu rute antara lain : (dari yang terjauh hingga terdekat perempatan kenteng, dari Kota Jogja menuju lokasi-lokasi tersebut kurang lebih 27 – 40 km)

- Wisata Tebing Gunung Gajah
- Hutan Pinus
- Kedung Pedut
- Curug Kembang Soka
- Grojogan Mudal
- Goa Kiskenda
- Gunung Lanang
- Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan
- Gunung Bolong, Gunung Pawon, Gunung Manten
- Watu Blencong
- Watu Tumpang
- Goa Kidang Kencana
- Grojogan Sewu
- Curug Setawing
- Goa Maria Lawangsih
- Puncak Watu Jendhul
- Puncak Moyeng
- Curug Bendho
- Kedung Ratmi
- Belik Kayangan


Dari pertigaan tadi saya lalu mengambil arah ke kanan menuju arah Goa Kiskenda, hingga setelah pasar nanti akan ada pertigaan lagi seperti ini



Disini saya lalu mengambil arah lurus menuju Goa Kiskenda dan Kedung Pedut, dan setelah melewati beberapa tanjakan akhirnya sampailah saya di spot wisata ini, yaitu Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan (dari basecamp goweswisata menuju lokasi ini berjarak sekitar 34 km).

Sambil beristirahat dan memesan segelas es teh manis di warung yang berada tepat di seberang akses masuk Gunung Tigo, saya lalu bertanya kepada Ibu pemilik warung mengenai obyek wisata Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan ini, menurutnya spot wisata Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan ini baru saja dipersiapkan pada pertengahan bulan puasa 2017 lalu (kira-kira awal Juli 2017), dan sampai tulisan ini saya buat proses pembangunan fasilitas yang akan dipersiapkan juga masih berlangsung, dengan kata lain berarti kali ini saya lagi-lagi menemukan spot wisata baru yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum, hmmm… sepertinya menarik untuk di ulas, baiklah saya pun lalu memutuskan untuk menyudahi petualangan goweswisata.blogspot.co.id hari ini dengan membahas tentang obyek wisata Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan


Seperti bisa kita lihat pada banner petunjuk yang berada tepat disamping akses masuknya, obyek wisata Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan ini menawarkan fasilitas berupa jalur trekking, Taman yang ada di bagian puncak gunung, spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit dan matahari terbenam, spot untuk kalian berfoto selfie dan spot-spot lain yang instagram-able, serta wisata religi, berikut ini akan saya bahas satu persatu.

Begitu kita mulai masuk maka kita akan langsung disuguhi dengan jalur trekking yang telah dibuka dan dibersihkan


Namun begitu kita tiba dipersimpangan maka jalurnya akan berubah dan menanjak seperti ini


Sebenarnya jika kita mengambil kearah kiri (bukan jalur yang menanjak) maka kita juga bisa melihat Sendang Manten, berupa sebuah cerukan yang menjadi tempat penampungan air, mengenai asal-usul namanya mengapa disebut Sendang Manten entahlah, saya pun tidak begitu tahu

Dan jika kita mengambil jalur yang menanjak menuju ke Puncak Gunung Tigo ini maka pastikan kalian mengenakan alas kaki yang sesuai karena medannya berupa jalan tanah yang sebagian masih licin dan belum dirapikan (kedepannya masih akan dibuat fasilitas bambu dan tali tambang untuk pegangan, juga akan dilengkapi dengan papan penunjuk arah)


Begitu kita tiba di puncaknya kita dapat melihat panorama jejeran pegunungan menoreh, Kota Yogya, hingga perbatasan Purworejo dari atas ketinggian, dan mengapa dinamakan Gunung Tigo karena gunung ini mempunyai tiga puncak, jadi selain di Sumatra ternyata di Propinsi DI Yogyakarta ini, tepatnya di Desa Sebolong, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo juga terdapat sebuah tempat wisata yang bernama Gunung Tigo.

Di bagian puncak gunung ini juga disediakan tiga spot yang cocok bagi kalian yang suka ber-selfie ria, masing-masing spot diletakkan di setiap puncaknya, dari puncak Gunung Tigo dan Gunung Krinjilan ini kalian juga bisa melihat Gunung Lanang yang sudah lebih dulu dibangun dan populer, dari atas sini ternyata ketinggian puncak gunung lanang masih kalah tinggi jika dibandingkan dengan puncak Gunung Tigo ini, oya dahulu Gunung Tigo, Gunung Krinjilan, dan Gunung Lanang merupakan satu kesatuan, namun seiring adanya pembukaan dan pembangunan akses jalan raya maka akhirnya gunung ini pun dibelah hingga akhirnya Gunung lanang terpisah dan berdiri sendiri

Spot selfie pertama




Puncak gunung lanang bisa dilihat dari spot ini



Spot selfie kedua


Spot selfie ketiga


Dari spot selfie ketiga ini kita bisa melihat panorama gunung-gunung lain yang belum dimaksimalkan potensi wisatanya antara lain seperti Gunung bolong yang mempunyai lubang yang cukup besar dan menembus kedua sisinya maka dari itu dinamakan gunung bolong, namun sayangnya gunung tersebut belum dibuka untuk spot wisata dan bagian lubangnya masih tertutup oleh pepohonan. Selain itu juga ada Gunung Pawon (bahasa Jawa; Pawon = Dapur) dinamakan seperti itu karena katanya gunung ini juga mempunyai lubang dimana jika digambarkan sirkulasi lubangnya akan menyerupai sebuah tungku, kemudian ada Gunung Manten, kita juga bisa melihat tebing Gunung Gajah dari kejauhan, hutan pinus, area kedung pedut, hingga perbatasan Kota Purworejo




Sedangkan untuk wisata religinya dikarenakan pada puncak Gunung Tigo ini juga terdapat sebuah Makam yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai petilasan Makam Eyang Tegopati, selain itu tempat ini juga diyakini merupakan salah satu tempat persinggahan dari Dewi Rantamsari.


Pada masyarakat Jawa terutama yang hidup di desa-desa, hal-hal klenik seperti fenomena metafisika, mitos, legenda, dan cerita rakyat masih banyak dipercaya. Hal-hal seperti itu tumbuh berdampingan dengan budaya masyarakat setempat, dan secara tidak langsung juga mempunyai andil dalam membentuk sebuah tatanan pola kehidupan masyarakat dan menciptakan kearifan lokal yang hingga kini masih dipertahankan.

Mengenai siapakah Eyang Tegopati dan bagaimana awal mula dibukanya Gunung Tigo ini menjadi spot wisata baru ternyata semuanya masih berhubungan dengan sejarah Tanah Jawa, berikut kisahnya yang saya ringkas dari hasil perbincangan dengan Mas Bayu yang menjadi pemrakarsa dan penanggung jawab obyek wisata Gunung Tigo ini serta hasil dari perbincangan dengan beberapa warga masyarakat sekitar, selain itu juga saya lengkapi dengan sumber sejarah dari buku “Babad Tanah Kendal” karya Ahmad Hamam Rochani, 2003.

Alkisah dahulu ketika belum ada pusat pemerintahan Kota Yogyakarta, Tanah Jawa ini masih diperintah oleh Sultan Agung dari Mataram, dari sekian banyak prajurit yang dimilikinya ada beberapa orang yang ia anggap terbaik, antara lain Tumenggung Tegopati (yang makamnya berada di puncak Gunung Tigo), Tumenggung Singokerti (konon makamnya berada di Jawa Timur), Tumenggung Singowongso, dan Tumenggung Bahurekso.

Dalam rangka menghadapi penjajahan oleh kolonial terkadang mereka harus berpindah-pindah tempat supaya pergerakan mereka tidak terdeteksi oleh musuh. Gunung Tigo kebetulan adalah salah satu lokasi yang dahulu mereka gunakan untuk bertemu dan menyusun siasat untuk menghadapi penjajah.

Pada suatu ketika Sultan Agung menyuruh salah seorang prajuritnya yaitu Tumenggung Bahurekso untuk menjemput seorang gadis dari Desa Kalisalak untuk dipersuntingnya menjadi selir, atas titah Raja maka berangkatlah Tumenggung Bahurekso menuju Desa Kalisalak, setibanya ia di Desa Kalisalak ia pun mencari gadis yang dimaksud yang bernama Dewi Rantamsari, saat bertemu ia pun menjelaskan maksud kedatangannya dan tujuannya menjemput Dewi Rantamsari atas perintah Sultan Agung yang menginginkannya untuk dijadikan sebagai selir.

Dewi Rantamsari pun menolak “Duhai kisanak sungguh aku tidak mau dipersunting olehnya, lebih baik aku menikah denganmu daripada dipersunting sebagai selir oleh sang Raja”, Tumenggung Bahurekso pun menjadi bingung, di satu sisi ia merasa benih-benih cinta telah tumbuh dalam hatinya kepada Dewi Rantamsari, namun disisi lain ia tidak mungkin mengkhianati perintah Raja, Dewi Rantamsari pun menyarankan kepada Tumenggung Bahurekso untuk menjemput gadis lain yang lebih cantik dari dirinya untuk dipersunting oleh Raja menggantikan dirinya, Mendengar usul tersebut Tumenggung Bahurekso pun merasa gembira karena setidaknya ia mendapatkan cintanya namun tidak mengecewakan Rajanya dengan mengganti calon selirnya dengan calon lain yang lebih cantik maka berangkatlah ia menjemput gadis lain yang disarankan oleh Dewi Rantamsari.

Setelah menjemput gadis lain untuk dijadikan selir Sultan Agung ia pun kembali menghadap Sultan Agung, namun betapa kecewanya Sultan Agung ketika mengetahui bahwa gadis yang dibawa oleh Tumenggung Bahurekso tersebut ternyata bukanlah Dewi Rantamsari, ia pun tidak jadi mempersunting gadis tersebut dan menyuruhnya untuk kembali ke desanya serta memberi imbalan materi sebagai modal usahanya, sedangkan sang Dewi Rantamsari sendiri ternyata akhirnya menikahi Tumenggung Bahurekso hingga melahirkan seorang putra yaitu Raden Mas Sulamjono. Sultan Agung pun berniat membalas kekesalannya kepada Tumenggung Bahurekso dengan menyuruhnya membuka suatu wilayah hutan yang terkenal berbahaya dan angker karena dipenuhi binatang buas dan lelembut, namun akhirnya hal tersebut berhasil diselesaikan oleh Tumenggung Bahurekso.

Alasan lain mengapa Sultan Agung sangat menginginkan Dewi Rantamsari adalah ia percaya bahwa Dewi Rantamsari merupakan penjelmaan dari Dewi Nawangsari yang merupakan adik dari Dewi Nawangwulan (ingat legenda Jaka Tarub), sehingga ia berkeyakinan bahwa jika ia menikahi seorang Dewi atau bidadari maka kekuasaannya akan langgeng dan keturunannya akan disegani.
Dikisahkan akhirnya Nawangwulan berhasil kembali ke kahyangan setelah menemukan selendang bidadarinya yang dicuri dan disembunyikan oleh Jaka Tarub, namun ternyata di Kahyangan ia di tolak oleh bidadari-bidadari lainnya karena mereka menganggap Nawangwulan sudah bukan lagi bagian dari mereka disebabkan ia telah menikahi manusia dan memliki anak, satu-satunya yang merasa iba dan menerima Nawangwulan adalah Dewi Nawangsari, namun Nawangwulan yang merasa dikucilkan pada akhirnya memilih untuk terjun ke Laut Selatan dan belajar untuk menaklukkan lelembut-lelembut yang menguasai Pantai Selatan Jawa hingga akhirnya ia menjadi penguasa Laut Selatan (pada versi lain disebutkan juga bahwa penguasa Laut Selatan adalah Dewi Kandita), kepergian Dewi Nawangwulan tentu saja membuat Dewi Nawangsari merasa sedih namun Nawangwulan yang kini telah menjadi penguasa Laut Selatan beberapa kali masih menemui Dewi Nawangsari sambil berpesan untuk tidak mencemaskan dirinya, ia kemudian menyuruh Dewi Nawangsari untuk terjun ke kali opak serta mulai belajar untuk mengendalikan lelembut yang berdiam di Kali opak seperti halnya dirinya ketika menaklukkan lelembut Laut Selatan, hingga akhirnya Dewi Nawangsari pun menjadi penguasa Laut utara dan menitis atau menjelma kembali menjadi Dewi Rantamsari.

Walau telah menjelma menjadi manusia kembali namun Dewi Rantamsari pun berulangkali masih dikunjungi oleh Nawangwulan, Nawangwulan sering menasehati Rantamsari ketia ia mendapat masalah, bahkan karena saking seringnya dikunjungi dan lebih mendengar nasehat dari Nawangwulan ketimbang mendengar nasehat dari suaminya sendiri pada akhirnya membuat Tumenggung Bahurekso menjadi kesal sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah walaupun sebenarnya Dewi Rantamsari sendiri merasa sedih dan berat hati karena ia masih sangat mencintai Tumenggung Bahurekso.

Setelah menjanda kecantikan dari Dewi Rantamsari ternyata tidak serta merta sirna, ia masih saja terlihat cantik dan awet muda sehingga membuat banyak kaum lelaki tertarik untuk mendekati dan melamarnya, namun semua lamaran tersebut ditolak secara halus oleh Dewi Rantamsari, karena kecantikannya yang seakan abadi itulah maka Dewi Rantamsari sering disebut juga dengan sebutan Dewi Lanjar, dan karena ia masih sangat mencintai Tumenggung Bahurekso maka sampai kapanpun ia memutuskan untuk membantu dan menjaga keturunan-keturunannya ketika mereka dalam kesulitan terlebih di masa perang melawan penjajahan pihak kolonial.

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Tanah Jawa yang sebagian besar masih sangat mempercayai adanya mitos-mitos atau larangan tentulah tidak mengherankan jika kita sering melihat diselenggarakannya upacara-upacara atau ritual tertentu yang bertujuan meminta keselamatan, rasa bersyukur, perlindungan, maupun ketenangan dari roh para pendahulu atau nenek moyangnya, begitu pula yang terjadi pada masyarakat Desa sebolong ini, masyarakat disekitar sini terutama yang sudah sepuh masih banyak yang melakukan olah batin seperti meditasi atau bertapa, beberapa orang yang memang sudah sampai pada titik mencari ketenangan dalam hidupnya juga terkadang ada yang melakukan meditasi seperti itu hingga pada suatu ketika ada seseorang yang mendapat wangsit untuk merawat gunung Tigo ini, dalam bisikan wangsit tersebut berpesan bahwa jika mereka merawat dan menjaga Gunung ini maka kedepannya kelak gunung ini akan dapat membantu kehidupan generasi berikutnya, dilihat dari titik ini mungkin ada benarnya karena jika masyarakat menjaga alamnya maka alam pun pasti akan membalasnya dengan menjaga keseimbangan dari hubungan timbal-balik itu sendiri, dan jika manusia merusak alam maka alam pun pasti akan membalas ulah manusia tersebut melalui beragam bencana yang diakibatkan oleh terganggunya keseimbangan alam.

Dan setelah dirembukkan bersama oleh seluruh perangkat Desa maka akhirnya diputuskan untuk mulai merapikan dan mengelola kawasan sekitar Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan ini menjadi spot wisata dengan memberdayakan seluruh warganya menjadi kelompok sadar wisata, dimana semua pembangunan fasilitas merupakan hasil swadaya masyarakat, oleh karena itulah hingga kini semua pembiayaan pembangunan fasilitas yang ada masih mengandalkan kas masyarakat dan hasil sumbangan pengunjung, setidaknya jika tempat ini kemudian pada akhirnya berkembang menjadi destinasi wisata maka secara tidak langsung juga akan mengangkat perekonomian warga sekitarnya mungkin hal itulah yang secara tidak langsung tersirat dari pesan wangsit tersebut

Nah bagaimana apakah kalian tertarik untuk mengunjungi obyek wisata Gunung Tigo dan Gunung Krinjingan ini? selain menikmati panorama alam yang ada disekitarnya, disini kalian juga berkesempatan mempelajari sejarah masa lalu pada masa para Raja-raja masih memegang kekuasaan di Tanah Jawa dan korelasinya dengan fenomena yang terjadi di masa sekarang, karena bagaimana pun juga jangan sampai hanya karena alasan modernisasi maka kita melupakan sejarah yang seyogyanya menjadi landasan atau dasar dalam membangun jiwa manusianya

Satu hal lagi bagi kalian yang ingin mengunjungi tempat ini pastikan untuk tetap menjaga kebersihan disekitar lokasi ini ya, karena kalian datang tentunya ingin menikmati keindahan tempat ini kan? Jadi jangan membuang sampah sembarangan, mencorat-coret atau vandalism, dan merusak apapun yang ada di sekitar lokasi, seorang petualang yang baik tentunya hanya meninggalkan kenangan yang indah, dan hanya membawa pulang cerita atau dokumentasi. Selamat bertualang