Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Monday, 28 August 2017

CHAPTER 13; PULAU DEWATA

Minggu, 3 Januari 2016
Setelah pada malam harinya kami baru bisa tidur jam 12 malam (itu pun setelah kami membuat keputusan yang tepat dengan memindahkan semua barang-barang dan sepeda kami ke pos pantau polisi dan selanjutnya tidur di sofa yang ada di pos pantau tersebut) karena didalam masjid situasi sudah tidak memungkinkan bagi kami berdua untuk beristirahat, para pengurus masjid masih melangsungkan rapat (yang sebenarnya sudah usai dari tadi) dan duduk-duduk, merokok, serta makan di tempat yang tadinya disediakan oleh takmir masjid sebagai tempat beristirahat kami, bahkan saat saya bolak-balik mengangkuti semua barang bawaan kami dari masjid ke pos polisi tidak ada satu pun dari para ustad dan kyai itu yang bertanya, mereka sudah asyik sendiri dengan kelompoknya, ya sudahlah toh bagi kami yang hanya menumpang untuk semalam ini dimanapun dan bagaimanapun tempat yang kami jadikan persinggahan sementara ini tidaklah masalah selama kami bisa beristirahat dengan aman.

Pak Sucitno, salah seorang petugas polisi yang malam itu sedang bertugas seakan menjadi perpanjangan tangan dari Sang Pencipta untuk membantu kami yang sudah letih ini, dengan baiknya Beliau menjaga semua barang kami yang diletakkan didalam ruangannya, sesekali ia pun mengecek pos tempat kami beristirahat, memastikan bahwa kami benar-benar aman dan dapat beristirahat dengan nyaman. Sungguh suatu ironi karena ternyata rasa kemanusiaan tersebut justru kami dapatkan dari seseorang yang dengan ikhlasnya membantu orang lain tanpa ia harus memamerkan atau mencitrakan dirinya sebagai seorang ahli agama, padahal tepat di belakang pos tersebut ada sebuah bangunan Masjid yang besar dan megah dengan sekelompok orang yang katanya “ahli ilmu agama” sedang berkumpul di dalamnya tetapi mereka hanya merasa "hidup" untuk kelompoknya sendiri saja, maka tidaklah mengherankan jika saat ini semakin banyak generasi muda yang enggan untuk bersilaturahmi ke masjid karena dari pihak pengurus masjid sendiri tidak berusaha merangkul mereka dengan cara yang luwes, mereka seakan membuat dinding abstrak yang membatasi dan hanya mau berbaur dengan kelompok mereka sendiri atau dengan orang-orang yang berpenampilan atau memakai atribut layaknya seorang ahli agama, padahal dari apa yang pernah saya baca dan saya mengutip dari salah seorang Kyai yang juga pernah menjadi Pemimpin dan Guru Bangsa ini, Beliau mengatakan bahwa Agama Islam itu datang ke Indonesia bukan untuk merubah budaya leluhur kita menjadi budaya arab, bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’, ‘bapak’ jadi ‘abi, ‘ibu’ jadi ‘umi’ dan seterusnya, kita pertahankan apa yang menjadi karakter dan milik kita, karena yang harus kita serap adalah ajarannya, bukan budaya arabnya.

Sekitar pukul 04.30 WIB kami sudah terbangun karena mendengar suara ramai di parkiran depan masjid yang kini terlihat dipenuhi oleh bus-bus berisi rombongan karyawisata yang berhenti untuk beristirahat sejenak, kami pun mulai mempacking semua panniers ke atas sepeda masing-masing, setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih ke Pak Sucitno kami pun mulai melanjutkan gowes lagi.

Bersepeda di pagi hari dalam keadaan belum mandi membuat badan kami jadi agak kedinginan, ditambah lagi faktor kurang tidur yang membuat kepala jadi sedikit berat, namun mengingat jarak ke Pelabuhan Ketapang hanya tinggal sedikit lagi maka kami pun tetap melanjutkan perjalanan walau mengayuh dengan perlahan. Laut sudah mulai terlihat di sisi kiri jalan, beberapa penanda starting poin bagi wisatawan yang ingin menyeberang ke Pulau Tabuhan menggunakan perahu banyak dijumpai disekitar wilayah Bangsri ini, namun karena kami mengejar waktu untuk sampai di pelabuhan penyeberangan yang menuju Pulau Bali di Ketapang maka kami pun memutuskan untuk melewatkan berwisata ke Pulau Tabuhan.

Tak berapa lama kemudian sampailah kami di Pantai Watudodol, tepat di pinggir jalannya terdapat sebuah pos yang pada bagian atasnya terdapat patung seorang penari, banyak orang yang berhenti untuk berfoto dengan mengambil latar belakang patung penari tersebut, dari sini pun pelabuhan penyeberangan dan kapal-kapal ferry sudah mulai terlihat



Sebelum mulai menyeberang kami pun memutuskan untuk membeli beberapa minuman dan makanan sebagai bekal perjalanan diatas kapal sekaligus mengantisipasi jika setibanya di Pulau Bali nanti harga-harga menjadi lebih mahal, karena sebagai sebuah Pulau yang menjadi destinasi wisata berkelas dunia tentunya harga-harga apapun itu setidaknya mungkin akan lebih tinggi daripada di Pulau Jawa.

Begitu memasuki Pelabuhan Ketapang kami kemudian ikut mengantri bersama kendaraan roda dua lainnya, tiket masuk yang harus kami keluarkan sebesar Rp 16.000,- untuk 2 orang sudah termasuk sepeda-sepeda kami. Di dalam kapal ferry sepeda kami sandarkan tepat dibawah tangga, beberapa orang yang juga ikut menyeberang tampaknya penasaran dan bertanya darimana asal kami ketika mereka melihat banyaknya barang bawaan yang ada diatas sepeda kami




Setelah sepeda terparkir dengan aman kami pun kemudian menuju ke ruang tunggu penumpang yang ada dibagian atas dan memilih kursi yang dekat dengan bagian lambung kapal supaya bisa melihat pemandangan dengan jelas, di kejauhan Pulau Bali sudah mulai terlihat, akhirnya babak baru petualangan goweswisata.blogspot.co.id akan segera dimulai.



Butuh waktu sekitar 1 jam untuk menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk. Sebenarnya sempat ada rasa takut pada diri kami berdua sebelum mulai menyeberang ke Pulau Bali, karena setelah keluar dari Pulau Jawa maka saat itulah kami dihadapkan pada tantangan baru, dimana perbedaan budaya, kultur dan aktivitas masyarakat setempat akan lebih terasa, terlebih karena kami tidak mempunyai saudara atau kenalan lagi di daerah tersebut, tetapi ya sudahlah, toh petualangan goweswisata.blogspot.co.id ini juga sudah dimulai sejak kami meninggalkan Yogyakarta, dan niat kami juga baik sehingga kami yakin Sang Pencipta juga akan senantiasa melindungi kami berdua dan yang terpenting adalah karena kami memiliki harapan bahwa selalu ada petualangan baru untuk dibuat :)

Goodbye Java Island



Akhirnya usai sudah petualangan bersepeda kami di Pulau Jawa, saatnya bersiap menulis lembaran baru petualangan bersepeda goweswisata di Pulau Bali


Akhirnya kapal kami berlabuh juga di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kesan pertama begitu menginjakkan kaki di pulau dewata ini adalah panas banget cuacanya. Dengan cuaca yang super panas seperti ini ditambah lagi kami belum mandi seharian rasanya badan terasa lengket dan beraroma nano-nano, akhirnya kami pun pergi ke Kantor Polsek Jembrana yang berada tidak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk, disana kami pun meminta ijin kepada polisi yang ada di meja jaga untuk menumpang mandi.


Setelah selesai mandi badan jadi terasa segar lagi, kini saatnya mulai menyusuri ruas jalan di Bali. Hal yang saat ini menjadi perhatian kami adalah mencari warung makan muslim, karena di Pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu maka menu makanan seperti babi guling dan lainnya pun merupakan hal yang lumrah, oleh karena itulah sebagai penganut agama Islam kami harus pintar mencari dan memilih warung makan yang menyediakan menu halal, untunglah kini di sepanjang jalan dari Gilimanuk ke Negara sudah banyak tersedia warung makan muslim dan Masjid, hal ini mungkin karena banyak pendatang dari Situbondo dan Banyuwangi yang sekarang bermukim dan membuka usahanya di sekitar wilayah ini


Untuk harga makanan di Bali lebih baik kalian bertanya dulu sebelum memesan, kami pun juga bertanya ini itu sebelum memesan, mencoba mencari kombinasi menu dan harga yang sesuai dengan budget kami, sedangkan untuk porsinya jangan bandingkan dengan porsi makanan di Jogja yang berlimpah, disini ukuran satu porsinya lebih irit jadi untuk kalian yang biasa makan dalam jumlah besar pasti bakal tetap merasa lapar hehe...

Setelah makan (dengan porsi yang irit) kami melanjutkan gowes lagi dengan mengambil rute Bali Selatan melalui Taman Nasional Bali Barat, walaupun sebutannya Taman Nasional tetapi ruas jalan yang melalui Taman Nasional ini terbilang cukup ramai dan di sisi kanan jalan juga terdapat beberapa kantor pemerintah, sehingga suasananya tidak sesunyi Taman Nasional Baluran yang ada di Banyuwangi



Disini kami banyak berpapasan dengan petouring dari Negara lain, salah satunya mister ini dari Spanyol


Kami pun sempat berhenti sejenak di salah satu Monumen yang ada di tengah-tengah perlintasan rute jalan taman nasional ini untuk mengambil beberapa foto dengan membayar seikhlasnya. Puas berfoto-foto lanjut gowes lagi dan tidak berapa lama kemudian setelah keluar dari area Taman Nasional Bali Barat ini kami langsung disambut dengan kontur jalan yang naik-turun dan cukup sempit, sehingga kami harus ekstra waspada terutama karena rute ini juga banyak di lalui oleh bus, truk, dan kendaraan pribadi.




Menempuh medan tanjakan dibawah terpaan sinar matahari yang terik dan waktu yang terasa berjalan cepat sekali (karena sekarang kami mengikuti waktu Indonesia bagian Tengah sehingga kini waktu menjadi 1 jam lebih awal dibanding sebelumnya ketika kami masih berpatokan kepada waktu Indonesia bagian Barat) membuat persediaan air di botol-botol minum kami menjadi cepat habis, akhirnya sekitar pukul 5 sore (dengan matahari yang masih bersinar cerah seperti jam 3 sore WIB) kami pun memutuskan untuk mencari tempat beristirahat dan menyudahi gowes hari ini. Hotel Jati yang berada di Jalan Udayana tepat disamping Kantor Samsat pun menjadi pilihan kami (karena setelah bertanya-tanya ternyata ada kamar dengan harga sewa yang masih terjangkau budget kami yaitu sebesar Rp 75.000,-/malam dengan fasilitas kamar mandi dalam, 2 tempat tidur, kipas angin, dan tv serta mendapat sarapan pagi), setidaknya sesekali bolehlah kami memanjakan diri sejenak mengingat selama sekitar 12 hari perjalanan ini kami sudah berhemat cukup banyak sehingga karena budget masih memungkinkan, kami pun sepakat untuk beristirahat dan memanfaatkan proses recovery secara maksimal di tempat ini, kami tidak mau memaksakan atau menyiksa diri dikarenakan selain petualangan kami masih panjang, kami juga berpikir bahwa faktor kesehatan sangat penting dan dibutuhkan selama perjalanan kami nantinya. Setelah menyelesaikan semua proses administrasi, unpacking semua barang-barang ke dalam kamar dan memarkir sepeda-sepeda kami tepat di depan kamar, selanjutnya tinggal mandi dan beristirahat sebelum besoknya mulai merencanakan agenda petualangan goweswisata berikutnya di Pulau Bali ini




Pengeluaran hari ini :
- belanja alfamart = Rp 17.500,-
- 2 tiket ferry = Rp 16.000,-
- tiket masuk monumen = Rp 10.000,-
- 2 porsi nasi + sop = Rp 12.000,-
- 2 porsi nasi campur = Rp 10.000,-
- penginapan 2 hari Hotel Jati = Rp 150.000,-

Total : Rp 215.500,-

Total jarak tempuh hari ini :50,61km

No comments:

Post a Comment