Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Tuesday, 24 October 2017

CHAPTER 17; GWK-TANJUNG BENOA

Sabtu, 9 Januari 2016
Setelah pada hari sebelumnya kami bersepeda keliling kota secara singkat sambil memetakan pola orientasi kota dan lokasi-lokasi obyek wisatanya maka dihari kedua di Denpasar ini kami memutuskan untuk sejenak off from the bicycle dan memilih untuk berwisata dengan menggunakan moda transportasi umum yang ada di Bali (sesekali menikmati menjadi turis hehe…).

Sebelumnya kami telah diberitahu oleh Bli Krisna bahwa di Bali (Denpasar) ada bus seperti trans jakarta atau trans jogja, masyarakat sekitar biasa menyebutnya bus sarbagita, bus dengan warna biru ini memiliki beberapa shelter pemberhentian, mirip sekali dengan trans jogja, bahkan ukuran busnya juga sama, sayangnya jumlah armadanya masih sangat sedikit (mungkin juga karena mayoritas warga Bali lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil). Sehingga walaupun hari ini adalah hari sabtu atau weekend namun jumlah penumpang yang menggunakan bus sarbagita tetap saja sangat sedikit, alasan lain mengapa masyarakat Bali enggan menggunakan bus sarbagita ini menurut kami adalah karena sistem pembayarannya yang tidak efektif, sistem pembayaran bus sarbagita ini masih belum menggunakan kartu yang terintegrasi untuk semua trayeknya sehingga setiap kali kita berganti shelter atau ketika turun dari bus dan menunggu di shelternya untuk berganti bus sarbagita trayek lainnya maka kita harus membayar lagi, sistem yang sedikit-sedikit harus bayar lagi ini lah yang membuat pengeluaran biaya transport menjadi lebih mahal, seandainya saja sistemnya dibuat seperti trans jogja yang menggunakan kartu terintegrasi dan kita hanya membayar sekali saja termasuk untuk berpindah trayek bus asalkan kita tidak keluar dari shelternya (keluar dari shelter pun terkadang tidak apa-apa, misalnya untuk ke toilet atau beli minum lalu kemudian kembali lagi ke shelter, itupun petugas jaganya masih memaklumi dan mengizinkan) mungkin masyarakat Bali akan beralih menggunakan bus sarbagita ini daripada harus terjebak kemacetan dengan kendaraan pribadinya masing-masing


Kali ini bus sarbagita yang kami naiki mengarah langsung ke GWK (Garuda Wisnu Kencana) yaitu sebuah monumen berbentuk patung berukuran raksasa yang menggambarkan sosok Dewa Wisnu sedang menunggangi burung Garuda, jika pembuatannya sudah selesai maka ukuran patung ini digadang-gadang akan mengalahkan patung liberty di Amerika, namun hingga saat ini pembuatannya belum rampung juga. Selain melihat patung Garuda Wisnu Kencana tersebut para pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali yang digelar di panggung yang ada disekitar lokasi patung



Satu hal yang membuat kami mengurungkan niat untuk masuk melihat patung GWK berukuran raksasa serta menyaksikan pementasan tari tradisional tersebut adalah selain patungnya juga belum jadi, juga dikarenakan faktor harga tiket masuknya, maklumlah bagi kami berdua harga tiket masuknya lumayan mahal sedangkan perjalanan kami juga masih panjang, masih banyak tempat-tempat yang kami tuju dan tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itulah kami menggunakan skala prioritas dalam mengatur dan mengalokasikan budget anggaran perjalanan ini, rasanya sayang untuk mengeluarkan biaya yang tergolong besar hanya untuk melihat sesuatu yang merupakan buatan manusia sedangkan masih banyak obyek wisata lainnya yang bisa kami kunjungi dengan biaya yang jauh lebih murah, beberapa bahkan gratis


Harga tiket masuk GWK per Januari 2016

Lokal dewasa : Rp 60.000,-
Lokal anak-anak : Rp 50.000,-

Asing dewasa/anak : Rp 100.000,-



Dan jika kalian ingin menggunakan latar patung GWK atau menyewa lokasi tersebut untuk pemotretan profesional maka kalian akan dikenakan biaya tambahan lagi, tetapi walaupun kami tidak jadi masuk dan melihat patung GWK tersebut secara langsung, kami tetap dapat berfoto dengan miniatur patung tersebut yang berada tidak jauh dari gerbang masuk (tak ada rotan akar pun jadi :))



Selepas dari GWK kami pun berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan feeder sarbagita (sejenis mobil Elf berwarna silver) yang mempunyai 2 trayek, yaitu menuju Tanjung Benoa, dan trayek satu lagi menuju Uluwatu, kami pun memilih untuk pergi ke Tanjung Benoa saja yang akhir-akhir ini sempat menjadi heboh dengan proyek reklamasi pantainya yang kontroversial karena mendapat tentangan dari para aktivis lingkungan. Dengan harga tiket angkot sebesar 3ribu rupiah per orang dan hanya kami berdua saja yang menjadi penumpangnya maka perjalanan kali ini serasa sedang naik angkutan travel pribadi hehe... kontur jalan yang naik turun dan seperti biasa dengan cuaca Bali yang sangat panas membuat kami bersyukur bahwa hari ini kami mengambil keputusan untuk berkeliling dengan menggunakan moda transportasi umum dan bukannya bersepeda


Sesampainya di Tanjung Benoa kami kemudian diturunkan dekat dengan Pantai Pandawa, pantai ini penuh dengan perahu-perahu milik warga lokal yang disewakan untuk berkeliling, beberapa dari mereka juga menawarkan kepada kami untuk ke pulau penyu dengan tarif 150ribu rupiah, dan tak hanya itu saja, disini kalian juga bisa menyewa motor boat atau sekedar berekreasi sambil naik banana boat, bagi yang ingin berlibur ke Tanjung Benoa dengan budget yang memadai jangan kuatir ada banyak penginapan disini (tetapi kebanyakan adalah Hotel bintang 3 keatas hehe...) sedangkan alfamart dan indomart juga cukup banyak disini





Akhirnya kami pun hanya berjalan kaki menyusuri bibir pantai Tanjung Benoa, kami tidak menyewa perahu untuk berkeliling ataupun pergi ke pulau penyu, selain karena faktor budget tadi juga karena kami kuatir jika kesorean dan angkot feeder sudah tidak ada lagi, karena jika angkot feeder sudah tidak ada maka opsi satu-satunya untuk kembali ke Denpasar hanyalah dengan menggunakan taksi yang biayanya sudah pasti mahal, oleh karena itu begitu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore kami pun bergegas untuk segera mencari dan menunggu angkutan feeder sarbagita tersebut, dan ternyata saat pulang kami pun kembali naik angkot feeder dengan supir yang sama seperti saat berangkat (supir angkotnya mikir kali ya ni orang-orang cepet amat maen di pantainya)

Dengan rute yang sama seperti saat kami berangkat, kini kami pun kembali berganti angkutan setibanya di GWK, dan mulai menunggu bus sarbagita untuk nantinya kami akan turun di alun-alun nol km lagi, setidaknya kini kami jadi merasakan dan tahu mengapa sangat sedikit warga Bali yang menggunakan moda transportasi umum dan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadinya masing-masing, problem yang sama juga terjadi hampir diseluruh kota-kota besar lainnya di Indonesia, selain karena masih minimnya jumlah armada transportasi umum, daya jangkaunya yang belum merata, juga karena jam operasionalnya yang terbatas, sehingga ketidakpuasan masyarakat pengguna moda tranportasi umum itulah yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh beberapa pihak dengan menyediakan fasilitas kredit dan rental kendaraan dengan harga yang murah sehingga “dagangan” mereka laris manis, sedangkan dari sisi konsumen pada akhirnya mereka hanya menikmati kenyamanan semu dikarenakan mereka sendiri justru terjebak dengan tagihan bunga kredit, biaya operasional perawatan kendaraan dan kemacetan lalu lintas yang ditimbulkan dari lingkaran roda permasalahan sistem transportasi seperti ini, entahlah apakah mereka menyadarinya atau tidak tetapi hal-hal seperti itu kini perlahan mulai merubah wajah Bali terutama bagian kotanya menjadi kota dengan lalu lintas yang semrawut dan semakin macet dari tahun ke tahun.

Pengeluaran hari ini :

- 2 botol air 1,5L = Rp 7.000,-
- 5 botol teh javana = Rp 15.000,-
- belanja swalayan tiara = Rp 31.500,-
- transport bus sarbagita kota-GWK = Rp 14.000,-
- 2 porsi nasi campur + es batu = Rp 13.000,-
- transport feeder GWK-Tanjung Benoa pp = Rp 12.000,-
- transport bus sarbagita GWK-Kota = Rp 7.000,-
- 2 porsi nasi+tempe orek+kentang = Rp 14.000,-

Total = Rp 113.500,-

Tuesday, 10 October 2017

CHAPTER 16; KETIKA TRADISIONAL DAN MODERN BERTEMU

Jumat, 8 Januari 2016
Selamat Pagi Kota Denpasar :) Akhirnya sampai juga kami di Kota ini, huff… siapa sangka jika petualangan yang awalnya hanya berupa sebuah ide gila ini pada akhirnya bisa terealisasi juga, bagi kami berdua hal ini terasa lebih istimewa lagi dikarenakan pada dasarnya kami berdua bukanlah seorang pesepeda touring yang kawakan, yah setidaknya hal ini membuktikan bahwa petualangan seperti ini sebenarnya juga bisa dilakukan oleh siapa saja selama ada niat, semangat, kemauan untuk terus belajar, dan usaha yang konsisten untuk mewujudkannya (faktor dana tentunya juga akan menentukan namun hal tersebut bersifat relatif karena tergantung bagaimana kita mengaturnya sesuai gaya perjalanan kita masing-masing).

Baiklah karena hari ini merupakan hari pertama kami berada di Kota Denpasar maka kami pikir lebih baik hari ini kami manfaatkan dengan bersepeda keliling kota saja dulu, ada beberapa alasan mengapa kami memilih untuk bersepeda keliling kota di hari pertama ini, antara lain karena hari ini merupakan Hari Jumat maka bagi saya pribadi tentunya waktu akan terpotong di siang hari untuk melakukan Ibadah Sholat Jumat, selain itu dengan bersepeda keliling kota setidaknya saya dapat belajar memetakan orientasi bentuk kotanya secara fleksibel tanpa bergantung kepada sarana transportasi umum (yang saya yakin pasti hanya akan melalui rute jalan raya utama saja), nah dengan menggunakan sepeda maka daya jelajah kami tentunya bisa menjangkau lokasi-lokasi yang tidak dilalui oleh tranportasi umum tadi.

Oya pada petualangan hari ini kami juga ditemani sekaligus dipandu oleh seorang teman pesepeda asli Bali yang sekaligus juga menjadi si empunya rumah yang kami tempati selama berada di Denpasar ini, yaitu Bli Khrisna, dan salah satu resiko jika memandu kami berdua adalah harap bersabar jika terdengar seruan "eh stop dulu sebentar, mau foto", maklum karena kapan lagi kami punya kesempatan seperti ini, sehingga mumpung kami sekarang sedang berada disini maka setiap ada momen yang unik langsung saja difoto dulu hehe... mungkin itu jugalah yang membuat waktu perjalanan petualangan goweswisata kami menjadi lambat :)

Sambil mengayuh sepeda menyusuri ruas jalan di Kota Denpasar ini saya selalu berpikir dan bertanya dalam hati, mengapa banyak orang, baik lokal maupun mancanegara yang berbondong-bondong selalu menjadikan Pulau Bali sebagai destinasi wisata utama mereka? Apa yang menjadikan Pulau Bali begitu populer dan terkenal hingga sampai ke level Internasional? Jika kita melihat di brosur-brosur wisata tentang Pulau Bali maka kita akan melihat bahwa kebanyakan berisi gambar-gambar keindahan panorama alamnya terutama Pantai dan keunikan budaya tradisionalnya yang hingga kini masih tetap bertahan ditengah derasnya gelombang modernisasi yang melanda Kota-kota besar yang ada di Indonesia, budaya tradisional tersebut seakan mampu melebur dengan modernisasi yang ada dengan baik tanpa saling menghilangkan identitasnya masing-masing, hal yang terjadi justru perpaduan unsur tradisional dan modern tersebut seakan menciptakan suatu identitas tersendiri dimana ketika masyarakat awam luar Bali melihatnya maka mereka akan langsung mengetahui bahwa hal itu merupakan gaya atau identitas dari Masyarakat Pulau Bali, Salah satu contohnya adalah di Kota Denpasar ini yang notabene merupakan salah satu dari Kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia, di Denpasar kita dapat melihat cerminan suasana khas perkotaan yang ditandai dengan banyaknya bangunan bertingkat, pusat-pusat perbelanjaan yang megah, gedung-gedung perkantoran, kemacetan lalu-lintas, dan hal-hal tipikal lainnya layaknya kota besar lain di Indonesia, namun walaupun begitu kita masih dapat mengenali karakter kota ini, bahwa kota ini merupakan kota yang ada di Pulau Bali, berbeda dengan Jakarta yang sudah kehilangan identitas masyarakat asli kotanya (Betawi) dan benar-benar menjelma menjadi bentuk identitas baru masyarakat kota megapolitan.



Dan identitas atau karakter masyarakat Pulau Bali yang tertuang dalam penataan orientasi Kota Denpasar itu sendiri tidak hanya dapat kita lihat dari bentuk fisik semata saja, melainkan ada ambience atau suasana khas yang terbentuk yang secara tidak langsung menegaskan bahwa ini adalah suasana khas Bali, sehingga saat kita berada di Kota Denpasar ini kita tidak akan teringat atau membandingkannya dengan suasana khas perkotaan Kota besar lainnya di Indonesia (bagi saya pribadi ketika saya berada di Denpasar ini saya langsung paham dan tidak membandingkannya dengan suasana kota lain, karena karakter Kota Denpasar ini seakan sudah menegaskan bahwa ini adalah sebuah kota di Pulau Bali, berbeda ketika kami berada di Gempol dan Bangil dimana seketika kami langsung teringat dengan suasana Kota Bekasi dan Tangerang), dan hal ini merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk membangun dan mempertahankan identitas atau karakter asli masyarakat setempat dan kemudian merangkum semua unsur tersebut kedalam penataan sebuah kota besar dimana biasanya hal itu cenderung rentan terhadap gempuran pengaruh budaya luar, namun setidaknya itu bukanlah hal yang tidak mungkin karena Kota Denpasar dan masyarakat Pulau Bali secara keseluruhan telah membuktikan bahwa mereka mampu untuk tetap memegang teguh tradisi dan budayanya bahkan mampu bersinergi dengan modernisasi yang ada hingga pada akhirnya hal tersebut justru menjadi magnet pesona pariwisata Pulau ini


Tujuan kami yang pertama adalah menuju ke Alun-alun yang berada di titik nol km Kota Denpasar, suasana di Alun-alun ini seperti halnya di Alun-alun kota lainnya sangat ramai karena merupakan ruang terbuka publik, disini suasananya penuh dengan masyarakat yang berolahraga ataupun yang hanya sekedar duduk-duduk saja. Alun-alun yang berada tepat di depan rumah dinas Gubernur Bali ini memang memiliki suasana yang nyaman sebagai tempat berinteraksi antar warganya, dengan jalur pedestrian yang lebar, bersih dan teduh oleh rindangnya pepohonan serta adanya taman bermain untuk anak-anak kecil, jalur batu untuk refleksi kaki, bangku-bangku taman, hingga papan catur berukuran besar menjadikan kota ini mampu untuk memanusiakan warganya melalui penyediaan fasilitas publik yang nyaman dan aman, beberapa pecalang (penjaga keamanan tradisional Bali) juga tampak hilir mudik memantau dan memastikan situasi cukup aman bagi para pengunjung








Puas berkeliling alun-alun kami kemudian lanjut gowes lagi, kali ini tujuannya adalah menuju ke Pantai Kuta yang merupakan salah satu Obyek Wisata Pantai yang paling popular di Pulau Bali, ya wisata pantai memang merupakan salah satu daya tarik Pulau Bali, banyak wisatawan dari seluruh dunia yang datang mengunjungi Pulau Bali ini karena ingin menikmati keindahan pantai-pantainya.

Hanya dengan menyisiri ruas jalan terluar di pulau Bali saja kita sudah dapat melihat keindahan dari pantai-pantai tersebut, mau dimulai dari rute utara maupun selatan semua sama menariknya dengan keunikannya masing-masing, selain pantai sebenarnya Bali juga memiliki wilayah pegunungan dan suasana pedesaan namun sepertinya wilayah pantai masih menjadi alasan dan destinasi utama seseorang ketika berkunjung ke Bali

Untuk menuju ke Pantai Kuta kami hanya tinggal mengikuti Bli Krisna saja yang menjadi pemandu kami, karena dengan rute yang belok-belok membuat kami agak susah mengingat jalannya, tapi tenang saja karena papan petunjuk arah menuju ke Pantai Kuta juga cukup banyak dan mudah untuk diikuti sehingga kalian tidak perlu takut tersesat

Berkeliling Bali seperti ini memang lebih enak dengan menggunakan sepeda atau motor, karena jika kalian menggunakan mobil pribadi maka siap-siap saja untuk terjebak kemacetan, ditambah lagi akses untuk menuju ke beberapa spot wisata harus melalui jalan kecil yang seringkali hanya satu arah


Dan memang sepertinya sangat jarang orang-orang yang ada di Bali beraktivitas dengan berjalan kaki (kebanyakan justru turis asing yang senang berjalan kaki), mayoritas dari mereka lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, baik itu mobil maupun motor, hal ini menjadikan kondisi trotoar yang dibuat dengan cukup rapi ini menjadi sia-sia karena jarang digunakan oleh pejalan kaki, kebanyakan trotoar yang ada pada akhirnya malah sudah beralih fungsi dijadikan parkir kendaraan atau tempat berjualan oleh pedagang kaki lima.


Begitu mulai memasuki daerah Pantai Kuta suasananya sudah seperti di Australia karena saking banyaknya turis asing yang berseliweran, beberapa bahkan sambil membawa papan surfing. Cafe, bar, dan tempat penjualan souvenir khas Bali tampak memenuhi dan berderet sepanjang jalan, sayangnya dengan lebar ruas jalan yang tergolong kecil ini terlihat semakin semrawut karena dipinggirnya penuh oleh parkir motor sehingga kendaraan lain yang melalui jalan ini menjadi sedikit tersendat (mungkin akan lebih nyaman jika ruas jalan ini disterilkan dari kendaraan bermotor, dan hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki dan pesepeda saja)


Kami juga sempat mengambil foto di lokasi bekas ledakan bom Bali yang dulu sempat menghebohkan dan menarik perhatian dunia dikarenakan banyaknya korban tewas yang berasal negara lain dikarenakan dahsyatnya ledakan tersebut, untuk mengenang peristiwa ledakan bom bali tersebut kini dibuatlah monumen ground zero berisi nama-nama korban tewas beserta asal negara mereka sebagai penghormatan dan pengingat serta berharap peristiwa teror keji tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.


Disekitar kawasan ground zero ini juga terdapat kawasan lain yang menjadi magnet para traveler baik lokal maupun manca, terutama bagi mereka yang berbudget rendah atau minim, yaitu kawasan poppies lane, ya kawasan ini tak ubahnya seperti daerah Jalan Jaksa di Jakarta atau Jalan Prawirotaman di Yogyakarta karena biasanya bagi mereka yang mencari penginapan murah meriah di pusat kota Pulau Bali pasti akan langsung menuju ke kawasan ini, dan jika pintar menawar atau sedang beruntung maka penginapan seharga Rp 100.000,- per malam bisa kalian dapatkan disini, lumayan kan apalagi jika mengingat lokasinya yang sangat strategis dan dekat dengan Pantai Kuta

Pantai Kuta, salah satu pantai yang paling populer di Bali karena dengan pasir pantai yang halus serta ombak yang cukup tinggi menjadikan pantai yang paling dekat dengan pusat kota ini menjadi incaran para surfer dan wisatawan pecinta pantai lainnya, untuk masuk ke pantai ini kalian tidak dipungut bayaran alias gratis, kecuali jika kalian ingin menumpang mandi di toilet umum yang tersedia barulah ditarik bayaran. Oya sedikit saran jika kalian berkunjung ke pantai ini namun sedang malas bermain air maka cobalah membawa hammock karena disini ada banyak batang-batang pohon besar yang bisa kalian gunakan untuk memasang hammock, asyik bukan tidur-tiduran di atas hammock sambil dinaungi rimbunnya dedaunan serta semilir angin pantai :)



Mungkin salah satu hal yang sedikit mengganggu di pantai ini adalah kehadiran penjual-penjual souvenir seperti topi, kain Bali, serta penjual jasa pembuatan tattoo yang terkadang cukup memaksa dan terus mengikuti, untunglah kebanyakan dari penjual-penjual tersebut hanya merecoki wisatawan asing, sedangkan untuk wisatawan lokal sepertinya tidak dihiraukan oleh mereka (mungkin karena mereka sudah hapal dengan tabiat wisatawan lokal yang biasanya kalau menawar pasti kebangetan hehe...)


Karena ombak di wilayah Pantai Kuta ini cukup tinggi maka beberapa kali petugas penjaga pantai (life guard) berkeliling memantau dan mengingatkan para wisatawan yang sedang berenang supaya tidak terlalu ke tengah, jika kalian ingin belajar surfing maka pantai ini sangat cocok karena selain ramai, ketinggian dan kuat arusnya pun relatif masih aman untuk pemula




Kami pun tidak berlama-lama di Pantai Kuta karena setelah ini masih ada tujuan lainnya untuk hari ini yaitu daerah Legian dan pantai di Seminyak, dan karena hari ini adalah hari Jum'at maka saya pun mencari Masjid dulu untuk menunaikan ibadah Jum'at
Selepas ibadah Jum'at kini waktunya untuk meneruskan perjalanan, daerah Legian dan pantai di wilayah Seminyak pun menjadi target berikutnya. Oya sebelum ke wilayah Seminyak kami pun sempat ditraktir nasi campur ayam betutu oleh Bli Krisna, katanya kami harus mencoba mencicipi makanan khas Bali ini, terimakasih Bli :) jujur saja ini pertama kalinya bagi kami mencoba ayam betutu, untung saja Bli Krisna sebelumnya mengingatkan kami tentang pedasnya sambal mentah yang disediakan sehingga kami tidak mengambil terlalu banyak, maklum karena di Jawa, terutama wilayah Jogja sambalnya cenderung manis hehe :) kalau tidak diberitahu entahlah mungkin yang ada nantinya kami gowes sambil menahan sakit perut

Di Pantai Seminyak suasananya ternyata lebih "wow" lagi, bukan apa-apa, karakter pantainya sebenarnya hampir mirip dengan Pantai Kuta hanya di Seminyak ombaknya lebih tenang, nah yang bikin "wow" itu karena disini bertebaran Hotel-hotel berkelas dan pastinya bertarif super (mungkin harga sewa kamar dan fasilitasnya per malam sama dengan pengeluaran perjalanan kami sebulan hehe... kapan ya kami dapat sponsor kaya gitu, Amin dulu saja semoga doanya dikabulkan)




Bar dan cafe juga bertebaran di sepanjang pantai ini, jika wisatawan asing kebanyakan memesan bir dingin atau ice juice untuk mengobati dahaganya akibat terik dan panasnya sinar matahari disini, maka bagi kami yang notabene "orang kampung dengan budget terbatas" ini cukuplah dengan sebotol dingin teh javanna yang kami beli di minimarket sebelumnya, memang susah kalau seleranya sudah kadung "ndeso", sekalinya main ke tempat elit pasti bingung nyari tempat yang jual teh atau air mineral dengan harga murah
Di pantai Seminyak ini yang paling menarik untuk dijadikan obyek foto adalah deretan kursi dan payung pantai yang banyak disediakan oleh pemilik Bar (masa iya motretin turis yang sedang berjemur, yang ada malah dapat “tanda tangan” di pipi), asal tahu saja biaya sewa kursi dan payung tersebut berkisar 50 ribuan, sehingga jika kita benar-benar ingin bersantai duduk atau tiduran di kursi tersebut dan dinaungi teduhnya payung sambil memesan sebotol minuman layaknya turis maka setidaknya kita harus merogoh kocek sebesar Rp 200.000,- (jumlah yang cukup berarti bagi traveler irit seperti kami)






Setelah puas berfoto-foto, berjalan menyusuri pantai, serta beristirahat sejenak tahu-tahu jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, hmmm... cepat sekali waktu berlalu padahal matahari masih bersinar dengan terik seperti matahari jam 2 siang WIB, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali pulang sebelum kesorean.

Sampai jumpa Pantai Seminyak, semoga suatu saat kami bisa kembali berkunjung kesini lagi :)


Kondisi lalu lintas di Bali sepertinya memang sudah terlanjur semrawut sehingga pada akhirnya semua orang menganggap kondisi tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi bagi kami berdua rasanya cukup mumet dan jengkel ketika melihat taksi yang suka berhenti mendadak, motor yang naik ke trotoar dan terkadang melawan arah, motor dan mobil yang sangat suka mengklakson seakan tidak mau mengalah atau mengantri, namun inilah dinamika konsekuensi dari pertumbuhan sebuah Kota besar, terlebih kota tersebut telah menjadi destinasi wisata populer sehingga pada akhirnya pembangunan fisik terus digencarkan tanpa memperhatikan atau mengimbanginya dengan pembangunan karakter, etika, dan budi pekerti manusianya. Semoga saja sebelum semuanya terlambat masyarakat disini mulai menyadari ada permasalahan krusial yang sedikit demi sedikit mulai membesar dan mengkristal menjadi faktor kebiasaan yang kedepannya justru akan menjadi problematika bagi masyarakat Bali sendiri

Pengeluaran hari ini :

- Belanja Indomart = Rp 27.000,-

Total = Rp 27.000,-

Total jarak tempuh hari ini : 32,26km

Wednesday, 4 October 2017

CHAPTER 15; SOKA-TABANAN-BADUNG-DENPASAR

Kamis, 7 Januari 2016
Tidak seperti di penginapan kami sebelumnya, kali ini di Hotel Kita tempat kami menginap tadi malam tidak ada layanan sarapan gratis yang disediakan oleh pihak Hotel (wes larang ora entuk panganan), oleh karena itulah pada hari ini kami sengaja berangkat lebih pagi sekitar jam 7 untuk menghindari sengatan sinar matahari yang sangat panas di Pulau Bali ini, terlebih rute kami hari ini akan melewati daerah Tabanan yang menurut beberapa orang yang kami tanya akan ada lebih banyak lagi tanjakan terjalnya (dan di peta pun terlihat jika wilayah Tabanan menunjukkan kontur yang lebih berbukit) ya sudahlah hadapi saja pelan-pelan sambil berdoa nanti juga tahu-tahu sudah kelewat (upaya menghibur diri)

Dan benar saja, baru juga keluar dari area penginapan kami sudah langsung dihadapkan pada kontur jalan yang menanjak, awalnya hanya berupa tanjakan-tanjakan landai namun lambat laun mulailah karakter tanjakan yang sebenarnya, berkelok-kelok, turun-naik dan menikung serta masih ditambah dengan ramainya kondisi lalu-lintas pagi ini, bus dan truk serta beberapa kendaraan pribadi melintas dengan sangat cepat dan nyaris mepet dengan kami yang melaju seperti siput ini.



Hanya ada di Bali :)


Dengan kondisi lalu-lintas yang seperti ini tak ayal terkadang membuat kami harus berjalan kaki menuntun sepeda dikarenakan kecilnya sisi ruas jalan yang kami gunakan, bagi kami berdua faktor keselamatan jauh lebih penting daripada nekat memaksakan diri untuk tetap mengayuh sambil dipepet kendaraan-kendaraan bermotor ini, terutama kendaraan yang berbadan besar karena setiap kali mereka melewati kami dengan cepat maka hempasan anginnya membuat kami susah menjaga keseimbangan sembari menanjak, disini kemampuan shifting dan penggunaan ratio gear yang tepat akan sangat membantu sekali


Di sebuah tanjakan yang menikung tajam bahkan ada peristiwa kecelakaan tunggal yang sepertinya baru saja terjadi, sebuah truk besar yang tidak kuat menanjak akhirnya malah mundur kembali dan menabrak sebuah pos pantau polisi, untunglah tidak ada korban jiwa, namun akibat peristiwa tersebut arus lalu lintas disekitarnya pun sempat menjadi tersendat. Setelah melewati tanjakan tersebut kami pun sempat beristirahat sejenak sembari sarapan, saatnya mengisi energi dulu karena tanjakan berikutnya masih banyak dan panjang-panjang.



Untunglah ketika mendekati daerah Tabanan kini telah dibuat jembatan-jembatan untuk menggantikan jalan lama yang konturnya seperti roller coaster, dengan adanya jembatan tersebut setidaknya dapat mempersingkat dan mempermudah pengguna jalan yang melewatinya karena kini mereka tidak harus naik-turun menempuh tanjakan-tanjakan yang terjal, dengan adanya jembatan tersebut maka sekarang kontur jalannya menjadi datar (Alhamdulillah)


Hingga akhirnya mulailah terlihat penampakan "oase" berikutnya yaitu minimarket-minimarket modern ketika kami memasuki wilayah Desa Bajera dan Mranggi, disini kami langsung menambah stock perbekalan berupa minuman dingin yang terasa begitu segar saat mengaliri tenggorokan kami yang sangat dahaga ini, setidaknya minuman dingin tersebut sangat membantu menambah stamina kami untuk terus melanjutkan gowes menghadapi tanjakan-tanjakan berikutnya.

Sedikit demi sedikit 25km pertama sejak kami start dari Pantai Soka mulai terlewati, setidaknya kini jarak ke Kota Denpasar sudah mulai mendekat hingga akhirnya kami sampai juga di sebuah pertigaan yang memisahkan arah menuju Tabanan Kota dan arah menuju Denpasar-Tanah Lot, begitu memasuki rute di wilayah yang bernama Kediri ini suasana khas perkotaan pun mulai terasa, ditandai dengan semakin banyaknya minimarket-minimarket modern dan deretan pertokoan yang ada disepanjang jalan


Saya pun mengabari teman saya yang berada di Denpasar (ia adalah seorang pesepeda juga dan sering membantu serta menjadikan salah satu ruangan dirumahnya sebagai tempat persinggahan atau peristirahatan sementara bagi para petouring sepeda yang melalui wilayah Bali), saya memberitahunya jika sebentar lagi kami akan segera tiba di Daerah Denpasar, namun karena ia masih berada di kantornya maka ia pun menyarankan saya setibanya nanti di Denpasar untuk langsung saja menuju ke rumahnya di daerah Monang-maning supaya kami dapat beristirahat dan bersih-bersih. Untunglah kontur jalan dari wilayah Kediri menuju Denpasar ini sudah lumayan datar jika dibandingkan dengan wilayah Tabanan sebelumnya, setidaknya kini kami dapat melanjutkan gowes dengan lebih santai

Lepas dari wilayah Kediri kami kemudian mulai memasuki wilayah Ubung, disini kondisi lalu lintasnya jauh lebih ramai daripada wilayah sebelumnya, disisi kiri dan kanan jalan banyak dipenuhi hiasan berupa patung-patung, di setiap perempatan, pertigaan, hingga traffic light selalu ada patung-patung berukuran cukup besar, hampir sama dengan dimensi ukuran manusia sebenarnya, bahkan detail dari patung-patung tersebut mulai dari mata, otot-otot tubuh, ekspresi hingga pakaiannya benar-benar dibuat dengan detail sekali, kami juga melewati salah satu ruas jalan dimana disepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh penjual gerabah, patung, seni ukir, dan perlengkapan ibadah umat Hindu, sekilas ruas jalan tersebut mirip dengan yang ada di daerah Muntilan dekat Candi Borobudur atau daerah Kasongan di Yogyakarta






Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang, setelah mengisi perut di salah satu warung makan muslim serta bertanya seputar arah jalan, ternyata si penjual yang kebetulan ternyata juga berdomisili di daerah Monang-maning tersebut akhirnya membuat coretan denah kasar serta patokan-patokannya di atas selembar kertas dan memberikannya kepada kami supaya tidak tersesat, untunglah jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi, dengan mengikuti petunjuk dari peta buatan si pemilik warung makan tersebut akhirnya tibalah kami di daerah Monang-maning dan setelah bertanya kepada beberapa orang dimana lokasi alamat yang diberikan oleh teman saya sebelumnya kini sampailah kami di rumah Beliau, setelah bersalaman dengan keluarganya kami kemudian dipersilahkan untuk beristirahat di ruang yang biasa digunakan juga oleh beberapa petouring bersepeda lainnya saat mereka sedang mengunjungi Pulau Bali

Setelah seharian penuh berjibaku dengan tanjakan dan panasnya terik matahari, ditambah lagi dengan semrawutnya kondisi lalu lintas di Pulau Bali ini, kini saatnya kami meluruskan kaki dan bersih-bersih supaya badan kembali segar serta tak lupa beristirahat sebelum besoknya kami mulai menjelajah dan berkeliling melihat keunikan dari sebuah kota destinasi wisata bertaraf dunia ini, jangan lupa ikuti terus cerita petualangan goweswisata.blogspot.co.id berikutnya ya :)

Pengeluaran hari ini :

- 9 botol teh javana = Rp 27.000,-
- 2 porsi sarapan = Rp 14.000,-
- 1 botol aqua 1,5L = Rp 6.000,-
- 1 botol ichi ocha = Rp 2.500,-
- 1 botol aqua 1,5L = Rp 4.900,-
- 2 porsi makan siang + teh = Rp 20.000,-
- belanja indomart = Rp 9.600,-
- pulsa simpati = Rp 11.500,-
- kartu internet 2Gb = Rp 60.000,-
- 2 botol teh javana = Rp 4.740,-
- plastik sampah = Rp 16.220,-
- pasta gigi = Rp 5.600,-
- 2 sabun cair = Rp 4.000,-
- 2 porsi nasi soto ayam = Rp 20.000,-

Total = Rp 206.060,-

Total jarak tempuh hari ini : 45,87km