Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Monday, 12 March 2018

CHAPTER 30; THE VILLAGE WHERE THE SUN NEVER SHINE

Sabtu, 06 Februari 2016 – Minggu, 07 Februari 2016

Di hari Sabtu yang juga merupakan hari ke 52 petualangan bersepeda goweswisata.blogspot.co.id ini selama seharian penuh kami hanya berdiam di rumah Mbak Henni yang menjadi host kami selama berada di Kota Bima ini. Ngapain saja? Ga bosan? Kok ga jalan-jalan? Inginnya sih begitu tapi apalah daya karena jadwal untuk hari ini adalah mencuci semua pakaian kotor yang sudah menumpuk sejak start perjalanan kami mulai dari Plampang sampai tiba di Kota Bima, selesai mencuci dan menjemur kini tinggal menunggu semuanya kering, sambil menunggu seperti ini mah enaknya sekalian tidur siang hehe...setidaknya waktu seharian penuh ini harus dioptimalkan untuk mencicil semua "pekerjaan rumah" kami.

Dan akhirnya memasuki hari ke 53 (Minggu, 07/02/2016), sekarang semua pakaian yang kemarin kami cuci akhirnya sudah kering dan wangi, rasanya mengawali hari ini sungguh menyenangkan karena bisa mengenakan pakaian yang sudah bersih dan wangi (mengingat terkadang kami harus terus mengenakan pakaian yang sama selama berhari-hari dikarenakan belum menemukan waktu dan tempat yang pas untuk mencuci dan bersih-bersih)

Mumpung kali ini ada tempat untuk menaruh sepeda dan semua barang-barang dikediaman Mbak Henni, maka hari ini kami berencana untuk berjalan kaki saja, berkeliling dan melihat suasana Kota Bima.

Kota Bima yang dikenal sebagai Kota Tepian Air karena wilayahnya berada dekat dengan perairan (laut dan pelabuhan) sebenarnya cukup memungkinkan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki atau bersepeda, dengan jarak antar pusat keramaian satu dengan yang lainnya tidak terlalu jauh sungguh mengherankan jika mayoritas masyarakat disini tidak suka berjalan kaki, padahal menurut kami dengan berjalan kaki seperti ini banyak detail yang bisa dilihat, namun entahlah sepertinya memang sudah menjadi "gaya hidup" yang lazim dan umum di hampir semua wilayah yang sudah kami lewati jika perlahan tapi pasti mulai ada ketergantungan pada setiap orang untuk menggunakan motor kemana pun mereka pergi (sekalipun jarak atau tujuannya terhitung dekat dan tidak membawa barang-barang berat, selain itu juga karena alasan "faktor prestise atau gaya")

Dari tempat kami menginap di rumah Mbak Henni kebetulan lokasinya juga sangat strategis, begitu keluar ke jalan besar sudah langsung berhadapan dengan GOR (namun anehnya lahan yang ada dekat dengan GOR justru dijadikan pangkalan truk sehingga secara tidak langsung menurut kami jadi sedikit mengurangi keindahan GOR itu sendiri)

Jika kita berjalan terus ke arah Barat maka kita akan menuju ke Alun-alun Kota Bima, sekilas bentuk Alun-alunnya mirip dengan Alun-alun di Kota Magelang, lengkap dengan patung kudanya (bedanya hanya di Magelang patung kudanya lengkap dengan penunggangnya, sedangkan disini yang ada hanya patung kudanya saja), oya yang unik di Alun-alun Kota Bima ini adalah ada sebuah ring tinju, ya kalian tidak salah baca dan saya juga tidak salah mengetik, tetapi disini memang ada ring tinju tepat di Alun-alun kotanya, apakah Kota Bima ini terkenal dengan olahraga tinjunya atau merupakan daerah penghasil bibit atlet cabang olahraga tinju entahlah saya pun kurang tahu.

Tidak jauh dari Alun-alun tersebut terdapat sebuah bangunan yang bentuknya nyaris sama dengan bangunan Bale Putih (Wisma Daerah) yang ada di Kota Sumbawa, menurut cerita dahulu ketika Raja Sumbawa ingin melamar putri dari Kesultanan Bima maka salah satu syarat yang diajukan oleh Ayahanda sang putri adalah sang Raja harus membuat bangunan istana yang bentuknya sama persis dengan yang ada di Bima, oleh karena itulah kini di Kota Bima dan Kota Sumbawa keduanya memiliki bangunan istana yang bentuknya sama persis. Saat ini bangunan istana yang ada di Kota Bima sendiri telah dialih fungsikan menjadi Museum bernama Museum Asi Mbojo



Selain Museum dan Alun-alun, hal lain yang bisa kalian lihat diseputaran wilayah Kota Bima antara lain adalah bangunan Masjid Agung, daerah perniagaan, Pantai Lawata, Pantai Amahami, dan Pantai Kalaki yang lokasinya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki hehe… (mendingan naik sepeda saja kalau mau muter-muter sampai sini), selain itu jika kalian berkunjung ke pantainya maka kalian pun juga bisa menyewa perahu milik nelayan sekitar untuk menyeberang ke sebuah pulau kecil yaitu pulau kambing yang lokasinya berada tidak jauh dari pantai

Dan karena Kota Bima berada dekat dengan tepian air, maka tidaklah mengherankan jika disini banyak sekali terdapat penjual ikan segar, hasil tangkapan ikan di wilayah ini tergolong melimpah ruah sehingga harga ikan-ikan yang dijual pun juga cukup murah

Usai berjalan-jalan keliling kota kami pun kembali ke rumah Mbak Henni karena cuaca tampak mulai mendung, dan benar saja tidak lama kemudian hujan pun mulai turun, untunglah kami sudah tiba kembali di rumah

Kira-kira sekitar jam 2 siang ditengah gerimis kecil yang masih turun, kami diajak oleh Mbak Henni dan temannya untuk pergi ke suatu tempat melihat obyek wisata air terjun yang masih belum populer, hmmm...air terjun dan hujan sepertinya bukanlah kombinasi yang tepat karena dari pengalaman yang sudah-sudah sewaktu kami masih berada di Jogja, mengunjungi air terjun disaat cuaca hujan maka hampir bisa dipastikan warna air terjunnya akan berubah menjadi coklat karena bercampur dengan tanah yang terbawa oleh aliran air, bagaimana dengan air terjun yang ini? Entahlah tetapi kami tidak terlalu berekspetasi tinggi, kun fayakun saja :)

Bertujuh dengan menggunakan 3 sepeda motor kami pun kemudian menuju ke arah Bandara, dan tidak jauh dari Bandara tepatnya disebuah perempatan kami pun berbelok ke kiri, nah disinilah keseruan berawal.


Gerimis yang turun sejak siang tadi perlahan mulai berubah menjadi sedikit lebih deras, apakah karena faktor cuaca ataukah karena pengaruh dari kabut yang mulai turun menutupi bukit yang berada dihadapan kami entahlah, yang pasti masing-masing dari kami mulai berhenti untuk mengenakan jas hujan, namun karena Agit tidak membawa jas hujannya akhirnya saya pun menyuruhnya untuk mengenakan jas hujan milik saya supaya ia tidak sakit, untungnya saat itu saya juga membawa jaket cadangan dari Naturehike yang diberikan oleh salah satu rekan pendukung perjalanan kami yaitu Pindon Outdoor, jadi ya sudah lebih baik sekalian di tes lapangan saja secara langsung. Walaupun fungsi sebenarnya dari jaket ini bukanlah jas hujan melainkan jaket anti UV dan windstopper, namun untunglah sifat materialnya yang water repellent setidaknya cukup membantu melindungi pakaian didalamnya dari kondisi basah total, selain itu jaket yang mempunyai tudung kepala ini juga dapat melindungi kepala dari terpaan air hujan secara langsung, terimakasih kepada Pindon Outdoor yang telah mensupport perjalanan kami dengan menyediakan outdoor gear yang berkualitas, dengan dimensi packing jaket yang hanya sebesar genggaman tangan tampaknya jaket ini berguna untuk menjadi jaket darurat disaat-saat tertentu, tidak hanya sebagai jaket anti UV saja melainkan juga dapat digunakan sebagai windstopper dan perlindungan dari nyamuk saat harus beristirahat di tempat yang "kurang nyaman" seperti sewaktu kami tiba di Pelabuhan Pototano yang lalu

Selesai mengenakan jaket masing-masing, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menembus hujan, disinilah saya bersyukur bahwa kami ke tempat ini tidak dengan menggunakan sepeda melainkan dengan dibonceng menggunakan motor (lagipula sepeda hanya salah satu dari sekian banyak sarana transportasi yang ada, kami pun tidak akan memaksakan untuk bersepeda jika kondisi medannya tidak memungkinkan), karena disini kami harus melalui kontur jalan yang terus menanjak dan berliku serta tidak terlalu lebar, selain itu masih ditambah dengan guyuran hujan serta kabut yang mulai turun, oya jangan samakan suasana menanjak disini sama dengan suasana menanjak di Pulau Jawa yang setidaknya masih terdapat warung-warung di pinggir jalannya, disini suasananya lebih sepi, tidak ada warung sama sekali, rumah-rumah penduduk pun baru ada begitu memasuki Desa Kaboro itupun jumlahnya tidak terlalu banyak, rumah-rumah yang ada disekitar sini mayoritas masih berbentuk rumah-rumah panggung seperti rumah-rumah yang ada di desa nelayan





Semakin ke atas medan tanjakannya juga semakin curam dan berkelok-kelok, hawa dingin dari hujan serta kabut yang menerpa juga cukup membuat jemari tangan menjadi sedikit kebas dan kram, motor-motor kami terus dipacu sampai akhirnya tiba di batas akhir jalan aspal. Tampaknya tujuan kami ke air terjun Desa Teta ini pun harus dibatalkan karena kondisi medan dan debit airnya yang tidak memungkinkan untuk dikunjungi dengan pertimbangan faktor keamanan



Dari hasil perbincangan dengan teman-teman Mbak Henni saya baru mengetahui jika di desa ini masyarakatnya masih berbicara menggunakan bahasa Bima kuno, sehingga ketika kita berbicara mereka paham apa yang kita ucapkan tetapi tidak sebaliknya, kita semua tidak paham dengan struktur bahasa yang mereka gunakan

Selain itu dahulu kala di desa yang bernama Desa Teta ini, orang-orang sering menyebut desa ini sebagai desa dimana matahari tidak pernah bersinar dikarenakan kondisinya yang tidak pernah tersentuh sinar matahari secara langsung, menurut orang-orang tua jaman dahulu, sebelum jalan aspal ini dibuat, suasana di Desa Teta ini tertutup oleh pepohonan jati yang menjulang tinggi hingga daun-daunnya menutupi desa dibawahnya, selain itu dengan lokasinya yang berada di atas ketinggian lebih dari 1000mdpl juga menyebabkan kabut selalu turun menutupi wilayah ini setiap harinya, oleh karena itulah dikatakan bahwa sinar matahari tidak pernah bisa menembus wilayah desa ini

Kini setelah jalan aspal dibuat dan beberapa pohon telah dipangkas tetap saja sinar matahari tidak bisa lama menyinari wilayah desa ini, karena hampir setiap harinya kabut dan hujan selalu turun menutupi dan mengguyur desa ini




Untuk aktivitas sosial masyarakat di desa ini sendiri polanya kurang lebih hampir sama dengan suku anak dalam atau suku badui dalam, kebanyakan dari mereka hidup dengan cara beternak dan berladang, hanya sedikit dari mereka yang meneruskan untuk bersekolah, kebanyakan langsung bekerja membantu orangtuanya diladang sejak kecil.

Namun seiring zaman tampaknya kini modernisasi juga telah mulai menyentuh sebagian masyarakat disini, beberapa parabola dan tv kabel tampak terpasang di beberapa halaman rumah warganya, motor-motor pun juga telah ada dan digunakan untuk mengangkut hasil ladang, oya satu hal yang menarik adalah disini juga telah ada terminal busnya lho, bayangkan di tempat setinggi dan sepi seperti ini ternyata ada terminal busnya, ga ngebayangin jika naik busnya melewati tanjakan-tanjakan dan turunan-turunan curam seperti yang tadi kami lewati, dijamin semua penumpangnya pasti banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta




Jika kalian ingin berkunjung ke desa ini maka pastikan kalian juga harus menjaga sikap dan sopan santun, mintalah ijin terlebih dahulu jika kalian hendak beristirahat di salah satu berugak (gazebo) yang ada di depan halaman rumah warga, jangan asal nyelonong saja karena warga disini tidak segan untuk menegur kalian jika berlaku tidak sopan

Dibalik semua keunikan dan keindahan pemandangan alamnya ternyata ditempat ini juga menyimpan kisah berbau spiritual atau klenik berupa kisah Desa Sambori yang hilang, menurut cerita ada orang-orang tertentu yang bisa melihat kemunculan Desa Sambori yang asli berupa sebuah wilayah hunian yang tertata rapi layaknya sebuah desa yang berada jauh didalam wilayah hutannya, namun anehnya tidak ada seorang manusia pun di desa tersebut, akan tetapi semua rumah-rumah yang ada di desa tersebut masih dalam keadaan yang rapi dan bersih serta berfungsi layaknya sebuah desa yang masih dihuni oleh penduduknya

Memang ada sebuah Desa juga bernama Sambori yang letaknya berada dekat dengan jalan beraspal, namun menurut penuturan beberapa orang, Desa Sambori yang asli adalah desa yang berada di dalam hutan dan dipercaya sebagai mitos sebuah desa yang hilang hingga sekarang



Terkadang kebenaran dari kisah-kisah tersebut memang masih menjadi misteri bagi kita yang "belum dapat" menyaksikan atau merasakan kebenarannya secara langsung, namun terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu terkadang hal-hal tersebut tetap dibutuhkan sebagai bagian dari nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ciri dan pegangan dalam mengatur dan menjaga keseimbangan hidup di dalam masyarakatnya, serta menjaga keselarasan antara manusia dengan alamnya


“The best education you will ever get is traveling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences”

Pengeluaran hari ini :

- 1 botol aqua 1,5L = Rp 6.000,-
- jajan roti+minuman gelas = Rp 5.000,-
- Sunlight = Rp 2.000,-
- belanja swalayan = Rp 154.700,-
- 2 keripik singkong = Rp 10.000,-

Total = Rp 177.700,-

No comments:

Post a Comment