Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Tuesday, 24 April 2018

CHAPTER 35; CITY OF MAKASSAR

Kamis, 18 Februari 2016,
Setelah selama 19 jam kami berada di kapal PELNI KM.Leuser yang menempuh perjalanan dari Pelabuhan Bima menuju ke Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya sekitar jam 9 pagi kapal pun mulai merapat ke Dermaga Pelabuhan Makassar.

Beberapa penumpang tampak mulai bersiap untuk turun setelah kapten kapal memberitahukan jika kapal telah bersandar di Dermaga Pelabuhan Makassar, sedangkan sebagian lagi masih bertahan di dalam kapal untuk meneruskan perjalanan mereka menuju Bau-bau

Sedang asyiknya menunggu antrian penumpang yang mulai turun sambil membayangkan petualangan seperti apa lagi yang akan menanti kami di bumi Celebes ini tiba-tiba kami dikejutkan oleh kehadiran para porter pelabuhan yang mendadak berlarian masuk kedalam kapal sambil berteriak-teriak untuk mencari penumpang yang membutuhkan bantuan jasa angkut barang

Begitu para porter tersebut melihat sepeda-sepeda touring kami yang full loaded mereka pun menawarkan jasa untuk mengangkut sepeda-sepeda tersebut turun sampai dermaga dengan tarif 150ribu rupiah/sepeda, tentu saja secara spontan kami pun menolaknya karena harga yang mereka minta terlalu mahal, kami pun membandingkannya dengan para porter di Pelabuhan Bima yang menggotong sepeda-sepeda kami untuk naik dan masuk ke dalam kapal dengan tarif sebesar 100ribu rupiah untuk 2 sepeda, sedangkan menurut kami mereka bekerja lebih berat karena harus menggotong sepeda menaiki anak tangga, maka dari itu ketika para porter di Pelabuhan Makassar yang tugasnya sebenarnya lebih mudah karena hanya tinggal mendorong sepeda menuruni anak tangga namun meminta tarif sebesar itu tentu saja kami berkata "Big No", kami bersikukuh tidak mau menggunakan dan membayar jasa mereka jika tarifnya semahal itu, lebih baik kami mendorong sepeda sendiri saja, tampaknya para porter ini menganggap kami seperti turis yang merupakan "mesin atm" dan bisa diperas sesuka mereka

Agit pun langsung saya suruh untuk mengecek kondisi tangga yang menuju ke dermaga apakah memungkinkan untuk mendorong semua sepeda-sepeda kami sendiri saja tanpa bantuan porter, tidak lama kemudian setelah kami mengecek kondisi anak tangga yang keadaannya memungkinkan bagi kami untuk mendorong sendiri sepeda-sepeda tersebut, mulailah para porter tersebut membuat ulah dengan berdalih bahwa kami harus menggunakan jasa porter karena kuatir nanti tangganya rusak dan dimarahi kepala buruh (what the f...) benar-benar alasan yang mengada-ada, namun karena kami tetap bersikukuh tidak mau menggunakan jasa mereka dan mulai mendorong sendiri sepeda-sepeda kami, merekapun lantas menghadang jalan kami sambil mengatakan supaya kami jangan macam-macam dan harus menuruti kemauan mereka (oh come on seriously...akhirnya terbukalah kedok gaya preman mereka semua, seperti inikah wajah pariwisata kita?) sejak kapan ada aturan jika penumpang harus menuruti kemauan porter?

Suasana didalam kabin kapal pun sempat tegang dan memanas karena salah seorang dari mereka (yang sepertinya ketuanya) mulai berbicara dengan intonasi dan volume suara yang keras, akhirnya sebagai orang yang lebih waras saya pun mengajukan penawaran jika mereka bersikeras bahwa kami harus menggunakan jasa mereka maka kami hanya akan membayar tarif sebesar 100 ribu rupiah untuk dua sepeda, take it or leave it

Awalnya si "ketua preman" tersebut hanya tertawa sambil menggunakan bahasa daerah yang artinya saya pun tidak tahu (dan tidak peduli juga), tetapi ujung-ujungnya beberapa porter bawahannya akhirnya setuju untuk mendorong sepeda-sepeda kami hingga turun sampai ke dermaga (dan benar saja tebakan saya, ketika mulai menapaki anak tangga nyatanya sepeda-sepeda kami tidak digotong seperti pernyataan awal mereka melainkan justru didorong seperti biasa, kalau begini caranya kami pun bisa melakukannya sediri dengan jauh lebih baik)

Sesampainya di Dermaga pun si “ketua preman Porter Pelabuhan” masih sempat meminta kami untuk memberikan tips lebih (astaga ini orang benar-benar tidak punya rasa malu lagi ya, pikirannya benar-benar hanya memuja uang), tentu saja kami pun menolaknya dengan argumen bahwa sesuai kesepakatan awal kami hanya akan membayar 100ribu rupiah saja, karena permintaannya tidak dituruti ia pun akhirnya hanya melengos dengan kesal sembari mengomel dan menyuruh kami untuk secepatnya keluar dari Pelabuhan (lha sapa juga yang mau berlama-lama di Pelabuhan kalau isinya orang-orang seperti situ, dan lagi emang ini Pelabuhan milik keluarga situ) huff benar-benar kesan awal yang buruk begitu menginjakkan kaki pertama kali di Bumi Celebes ini, semoga setelahnya keadaan akan jauh lebih baik

Begitu keluar dari Pelabuhan hal pertama yang langsung terpikir di benak kami adalah mencari tempat untuk singgah dan beristirahat sekaligus menaruh barang-barang kami supaya kami bisa leluasa menjelajah Kota Besar Makassar ini. Dari hasil googling kami pun mendapatkan banyak opsi atau pilihan tempat dan lokasi-lokasi dimana terdapat banyak penginapan, mulai dari yang bertarif murah hingga mahal, tentu saja tarif yang ekonomis menjadi pilihan nomer satu kami

Sambil berkeliling menyusuri ruas jalan di Kota Makassar untuk mencari penginapan, saya pun sedikit banyak mulai melihat gambaran suasana kota ini, Makassar terasa familiar sekali, suasananya tidak jauh berbeda dengan Kota Jakarta, di Kota Makassar ini suasana khas Kota Besar sangatlah terasa dan terlihat, banyak terdapat bangunan perkantoran, gedung-gedung tinggi, pusat-pusat perbelanjaan yang mewah, ruas jalan yang lebar dan dipenuhi dengan kendaraan bermotor, kemacetan layaknya sebuah kota besar yang sibuk, jalan layang, angkutan kota yang berjejer nge-tem dimana-mana, bus trans Makassar yang ukurannya jauh lebih besar daripada bus trans Jogja, dan lainnya. Setelah selama beberapa waktu yang lalu di Pulau Sumbawa perjalanan kami lebih banyak ditemani dengan suasana yang sepi dan alami kini tiba-tiba kami kembali dihadapkan dengan suasana dan keriuhan peradaban khas kota metropolitan


Setelah berkeliling keluar masuk gang dan bertanya sana-sini ke setiap penginapan yang kami temui, ternyata untuk mencari penginapan yang bertarif murah cukup sulit di Kota ini, sebenarnya sewaktu kami mencari info di internet tentang penginapan murah di Kota Makassar ini ada salah satu website yang mengatakan ada sebuah penginapan dengan harga yang terjangkau dan lokasinya tidak terlalu jauh dari Pantai Losari namun setelah kami menuju ke alamat yang tertera ternyata kini penginapan tersebut sudah tutup.

Akhirnya setelah membandingkan daftar harga sewa kamar dari berbagai penginapan yang telah kami datangi dan hubungi via telepon kami pun sepakat untuk menuju ke sebuah penginapan yang kebetulan lokasinya berada tidak terlalu jauh dari Pantai Losari dan dekat dengan penginapan murah yang telah tutup tadi, penginapan ini bernama Hotel Lydiana (walaupun namanya berawalan “Hotel”, namun tampilannya lebih mirip losmen menurut saya), di penginapan Hotel Lydiana ini kami menyewa sebuah kamar single dengan tarif sebesar 140ribu rupiah/malam dengan fasilitas AC (model jadul), single bed, selimut, dan kamar mandi dalam dengan water heater (yang penting hari ini kami telah menemukan tempat untuk bermalam dan bisa menikmati mandi dengan air hangat, rasanya mandi dengan air hangat ini menjadi satu kemewahan tersendiri disepanjang perjalanan kami berdua hehe…), bagi kalian yang sedang atau berencana traveling ke Kota Makassar sepertinya Hotel Lydiana yang berada di daerah Bontolempangan ini bisa kalian pertimbangkan sebagai salah satu pilihan penginapan murah di Kota Makassar

Puas menikmati mandi dengan air hangat dan pikiran juga sudah tenang karena sudah ada tempat bermalam untuk hari ini maka mumpung hari masih siang lebih baik kami memanfaatkan waktu dengan berjalan-jalan (jalan kaki) menuju ke Pantai Losari, sebuah Pantai yang menjadi ikon Kota Makassar dan terkenal sebagai tempat kumpul-kumpul atau hangoutnya orang-orang Makassar



Jarak dari penginapan tempat kami berada ke Pantai Losari sekitar 2-3 km, setibanya kami di Pantai ini suasananya terlihat cukup rapi dan bersih, biasanya menjelang sore hingga malam hari di sekitar tempat ini banyak dijajakan berbagai jajanan, jadi buat kalian yang suka berwisata kuliner nah disini kalian bisa mencoba langsung jajanan seperti pisang epe, es pisang ijo, es palubutung, dan berbagai jajanan tradisional lainnya khas Kota Makassar



Menurut penuturan salah seorang warga dulunya area Pantai Losari ini tidaklah semenarik seperti sekarang, dulu di sekitar area Pantai ini banyak terdapat preman dan pengamen yang menjadikan suasana di sekitar pantai menjadi tidak aman dan rawan kriminalitas, namun semenjak pihak Pemkot mulai merapikan dan menata tempat ini akhirnya kini Pantai Losari bisa menjadi tempat yang jauh lebih menarik dan aman untuk berwisata bersama keluarga



Karakteristik dari Pantai Losari sendiri bukanlah sebuah pantai yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk berenang atau bermain air karena Pantai Losari tidak memiliki bibir pantai yang berpasir sehingga antara air laut dan daratannya hanya dibatasi dengan sebuah dinding turap saja. Namun walaupun bukan merupakan sebuah pantai yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk bermain air atau berenang bukan berarti Pantai Losari tidak menarik seperti pantai lainnya, menyadari akan kelemahannya sebagai pantai yang tidak memiliki bibir pantai maka pihak Pemkot menata Pantai Losari sebagai sebuah Public area dimana di tempat ini para warganya bisa bebas berkumpul, berolahraga, jogging, bersepeda, sekedar duduk-duduk santai menikmati pemandangan, maupun sebagai tempat berkumpul berbagai komunitas hobby.


Masjid Apung yang berada di area Pantai Losari



Disekitar area Pantai Losari ini para pedagang yang menjajakan makanan juga diatur sedemikian rupa supaya suasana dilingkungan ini tetap rapi dan terjaga, tidak semrawut tersebar dimana-mana, dibeberapa sudut pantai juga terdapat banyak sculpture huruf-huruf yang membentuk nama-nama dari suku yang berada di Makassar seperti Bugis, Toraja, dan lainnya, selain sculpture dari huruf-huruf tersebut disini juga terdapat patung-patung para pahlawan yang berasal dari Sulawesi, patung-patung yang menggambarkan kesenian khas dan bangunan rumah adat Sulawesi hingga sculpture dari perahu phinisi





Setidaknya kesan awal yang kurang menyenangkan ketika pertama kali kami menginjakkan kaki di Bumi Celebes ini perlahan terganti dengan lembaran putih baru berisi passion dan keingintahuan kami untuk mulai menjelajahi dan menikmati pesona dari Pulau Sulawesi ini

Seperti apakah keseruan petualangan goweswisata.co.id selama berada di Kota Makassar ini? tetap ikuti cerita perjalanan kami berdua ya

Pengeluaran hari ini :

- jasa porter 2 sepeda = Rp 100.000,-
- penginapan hotel lydiana = Rp 140.000,-
- belanja swalayan = Rp 19.000,-
- baju agit = Rp 19.000,-
- 4 botol teh javanna = Rp 12.000,-
- makan malam = Rp 24.000,-

Total = Rp 314.000,-

Total jarak tempuh hari ini : 14,14km

Tuesday, 17 April 2018

CHAPTER 34; BERSIAP MENUJU BABAK BARU

Rabu, 17 Februari 2016,
Hari ini petualangan goweswisata kami mulai beranjak memasuki bab berikutnya, karena tepat di hari ke-63 ini kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada Pulau Sumbawa, semoga suatu saat kami dapat kembali lagi untuk menjelajahi pesona alam pulau indah ini dan bercengkrama dengan masyarakatnya yang sangat ramah dan telah banyak membantu kami selama bertualang disini, we will miss you all :)

Terimakasih kepada Mbak Henni dan keluarga yang telah banyak membantu kami selama berada di Kota Bima


Jadwal kapal Pelni KM. Leuser yang kami gunakan untuk bertolak dari Pelabuhan Bima menuju ke Pelabuhan Makassar rencananya akan berangkat sekitar pukul 10.00 WITA, oleh karena itu sedari pagi kami pun telah bersiap dan tiba di pelabuhan Bima lebih awal yaitu sekitar pukul 08.00 WITA

Setelah bertemu dengan Pak Arsyad di Pelabuhan untuk mengambil tiket over bagasi sepeda-sepeda kami, kami pun kemudian menunggu di ruang tunggu penumpang, sedangkan untuk mengangkut sepeda beserta seluruh barang bawaannya kami menggunakan jasa porter pelabuhan dengan biaya sebesar 100 ribu rupiah untuk 2 sepeda, jasa porter ini pada akhirnya terpaksa kami pilih karena akses masuk ke dalam kapal menggunakan tangga yang cukup sempit dimana sepeda harus digotong, dan tentunya ini bukanlah perkara yang mudah untuk menggotong 2 sepeda touring yang full loaded sambil berdesakan dengan para penumpang lainnya sembari menapaki anak tangga, jadi kami pikir ya sudahlah daripada menyiksa diri lebih baik menghemat tenaga dengan menggunakan jasa porter


Untungnya para porter yang kami gunakan juga sangat gesit, begitu KM. Leuser merapat di dermaga mereka dengan sigap langsung menggotong sepeda-sepeda kami masuk ke dalam kapal dan menaruhnya ditempat yang sangat strategis, tepat di pojok dekat pintu masuk sehingga kami tidak kebingungan untuk mencarinya



Didalam kapal Pelni ini para penumpang terbagi kedalam beberapa dek, dimana setiap deknya telah dilengkapi dengan kasur sederhana (matras senam berketebalan sekitar 10cm), maklumlah perjalanan laut ini akan memakan waktu tempuh yang cukup lama, kurang lebih sekitar 18 jam, oleh karena itu untuk mengusir kebosanan selama perjalanan disetiap deknya juga terdapat televisi, namun jika kalian ingin lebih nyaman lagi maka kalian juga dapat membayar ekstra untuk menikmati hiburan film box office dengan fasilitas ruang ber-AC. Sedangkan untuk fasilitas standartnya sendiri yang disediakan adalah toilet atau kamar mandi, ruang beribadah berupa masjid, dapur atau pantry untuk memesan makanan, dan jika malas untuk berjalan kaki menuju ke ruang pantry kalian tidak perlu kuatir karena ada beberapa penjual makanan nasi kotak dan minuman gelas yang selalu berkeliling ke setiap dek


Untunglah posisi kasur tempat kami beristirahat letaknya sangat strategis, yaitu berada di pojokan, sehingga posisi sepeda-sepeda kami tepat berada di hadapan kami dan tidak mengganggu jalur sirkulasi penumpang lainnya


Namanya juga Indonesia, dimana budaya ngaret telah mengakar sangat kuat, maka jika menurut jadwal di tiket yang kami pegang kapal seharusnya berangkat pukul 10 pagi, maka realitanya kapal baru bertolak pukul 2 siang (ngaretnya sampai 4 jam), untungnya di dalam kapal Pelni ini semua penumpang mendapat jatah makan (pagi-siang-malam) sehingga rasa kebosanan kami sedikit terobati setelah perut kenyang (tidak terlalu kenyang juga sih karena porsi makan siangnya terlalu sedikit menurut saya hehe)


Dikelas ekonomi ini tidak ada pemisahan gender, smoking atau non smoking, dan lainnya. Semua berbaur tumplek blek menjadi satu maklumlah kelas yang paling merakyat :), hal yang paling lucu dan menggelitik mungkin adalah ketika melihat para penumpang yang berada di deretan kasur diseberang kami (1 deret berisi 7 buah kasur), jika menilai sekilas secara penampilan fisik mereka mungkin kita akan merasa sedikit takut karena perawakan mereka semua seperti petinju dengan wajah yang seram, badan yang besar, dan berotot, mereka juga selalu berkumpul secara berkelompok, dan sejak sebelum kapal berangkat mereka selalu berdiskusi dengan kelompoknya menggunakan bahasa daerah yang secara samar saya artikan sepertinya mengenai pembagian uang (dan memang setelah itu mereka tampak membagi-bagikan uang kepada anggota kelompoknya) dengan kata lain intinya secara sekilas penampilan mereka semua terlihat seperti mafia atau gangster-gangster yang biasa kita saksikan di film-film

Namun benarlah kata pepatah yang mengatakan jangan menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja, karena setelah "acara bagi-bagi uang" tersebut mereka pun menyantap bekal yang mereka bawa sembari tersenyum dan menyapa kami, bahkan ada salah satu anggotanya yang sedari tadi celananya selalu tersangkut besi ranjang ketika bolak-balik dihadapan kami, padahal sebelumnya ia pun sudah tahu jika ada besi pada ranjang matras yang posisinya menjorok keluar ketika ia pertama kali tersangkut namun ia selalu menyalahkan posisi besi tersebut (padahal teman-temannya yang lain juga ada yang bolak-balik namun celananya tidak pernah tersangkut dibesi tersebut)

Selain itu ada juga anggota lainnya yang kepalanya agak botak ternyata membawa semacam minyak atau tonik penyubur rambut, dan ketika ia menggunakannya sembari menunggu kapal berangkat maka teman-temannya yang lain pun mengejeknya secara bercanda bahwa percuma saja pakai penyubur rambut

Setidaknya perilaku mereka ternyata tidak segarang penampilan fisiknya, bahkan menurut saya mereka justru lebih baik daripada segerombolan orang atau penumpang lainnya yang "ngakunya sih mahasiswa" lengkap dengan atribut jaket almamaternya tetapi dengan seenaknya merokok didalam kabin tanpa peduli jika didalam kabin tersebut juga terdapat anak-anak, bayi, ibu-ibu, dan orang-orang lainnya yang bukan perokok. Walaupun petugas keamanan kapal, petugas kebersihan, hingga pedagang makanan yang berkeliling sudah berkali-kali mengingatkan untuk tidak merokok didalam kabin dan menganjurkan untuk keluar dari kabin jika ingin merokok tetapi sepertinya telinga mereka sudah ditulikan oleh ego pribadi mereka, sungguh sangat disayangkan karena status "maha-siswa" yang mereka sandang nyatanya tidak serta merta menjadikan mereka sebagai manusia yang terpelajar

inilah salah satu sisi yang menarik jika kita traveling menggunakan transportasi umum yang merakyat, karena disini kita bisa melihat dan mengamati keunikan polah tingkah para penumpang lainnya, namun hal ini mungkin juga karena kebiasaan saya sebagai penulis yang suka mengamati detail selama perjalanan

Akhirnya saat ini satu-satunya kegiatan yang bisa kami lakukan untuk hari ini hanyalah menulis catatan perjalanan sembari menunggu KM. Leuser ini tiba dan merapat di Dermaga Pelabuhan Makassar keesokan harinya


Rasanya jantung jadi berdebar karena penuh dengan semangat dan keingintahuan, tidak sabar untuk merasakan petualangan baru setibanya di Bumi Celebes alias Pulau Sulawesi nanti, akan seperti apakah petualangan berikutnya? Apakah seseru seperti petualangan sebelumnya ataukah justru malah lebih seru? Ikuti terus petualangan goweswisata.blogspot.co.id ya :)

“Janganlah jadi seperti sebuah perahu yang ada di dalam botol di tepi pantai yang hanya bisa diam dan cuma bisa melihat dan bermimpi untuk mengarungi lautan yang luas”

Pengeluaran hari ini :

- porter 2 sepeda = Rp 100.000,-

Total = Rp 100.000,-

Total jarak tempuh hari ini = 3,58km

Saturday, 14 April 2018

EMBUNG TEGALTIRTO

11/04/2018
Masih dalam rangka mencari spot-spot gowes wisata yang dekat dengan basecamp kali ini goweswisata.blogspot.co.id akan mengajak kalian untuk berkunjung ke sebuah Embung atau semacam kolam penampungan air berukuran besar yang berada di Dusun Candirejo, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY, namanya adalah Embung Tegaltirto, ada apakah disana? Yuk kita cari tahu :)

Untuk menuju ke lokasi Embung Tegaltirto sendiri caranya cukup mudah, karena lokasi embung ini berada dekat dengan salah satu obyek wisata lain yang cukup terkenal yaitu Lava Bantal maka kalian tinggal meng-googling-nya saja, supaya lebih mudah dan menghemat waktu kalian bisa melihatnya pada peta dibawah ini

Lokasi Embung Tegaltirto







Embung yang dibangun pada Tahun 2015 dan diresmikan pada akhir Mei 2016 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X ini berfungsi untuk menampung air yang nantinya akan digunakan untuk mengairi sawah-sawah yang berada disekitarnya, selain sebagai fasilitas irigasi, keberadaan embung ini juga dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi keluarga dengan disediakannya perahu bebek-bebekan dan sepeda air, biasanya pada saat weekend atau pada pagi dan sore hari suasana di sekitar Embung ini juga cukup ramai dikunjungi oleh beberapa orang yang melakukan aktivitas bersepeda atau jogging.



Fasilitas penunjang lainnya yang ada disekitar embung ini antara lain adalah terdapat 5 buah gazebo kayu yang bisa kalian gunakan untuk beristirahat serta satu buah bangunan pendopo dengan tempat-tempat sampah yang masing-masing berada didepannya, selain itu juga terdapat dua buah toilet umum dan tempat untuk sekedar mencuci muka atau kaki, nah untuk urusan perut kalian tidak perlu kuatir karena disini juga terdapat warung-warung makanan, pokoknya tempat ini cukup ideal sebagai sarana rekreasi keluarga dan kumpul-kumpul yang murah meriah karena untuk menikmati suasana di sekitar tempat ini kalian tidak dikenakan biaya retribusi sama sekali alias gratis, yang penting kalian tetap menjaga kebersihan tempat ini ya




Dan seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa Embung Tegaltirto ini berada dekat dengan obyek wisata Lava Bantal, maka dari lokasi embung ini juga terdapat jalan setapak yang menuju ke lokasi obyek wisata Lava Bantal, yaitu kalian tinggal berjalan kaki saja menyusuri pinggiran sungai, kira-kira 300 meter kemudian kalian pun akan sampai ke lokasi obyek wisata Lava Bantal (secara gratis tanpa biaya retribusi hehe…) sambil berjalan kaki kalian juga bisa menikmati keindahan dan suasana pinggir sungai



Lumayan kan kalian jadi bisa mengunjungi dua buah lokasi wisata sekaligus secara gratis (jika kalian ingin tahu lebih banyak mengenai obyek wisata Lava Bantal maka kalian bisa membacanya pada postingan saya sebelumnya yang berjudul “Jembatan Gemblung”)




Baru tahu jika sekarang lokasi obyek wisata Lava Bantal juga dimanfaatkan untuk kegiatan susur sungai menggunakan ban-ban pelampung


Tidak hanya itu saja jika kalian jeli maka disekitar lokasi ini kalian bisa menemukan spot-spot yang cukup menarik untuk digunakan sebagai latar belakang foto, salah satunya seperti ini


Atau seperti ini (mumpung lagi sepi)



Setidaknya petualangan kami hari ini cukup menyenangkan, walaupun kali ini jaraknya terbilang dekat, namun petualangan seperti apapun akan sangat berkesan jika kalian lakukan bersama orang terdekat yang berarti di hidup kalian

Jangan lupa ikuti terus kisah petualangan gowes wisata kami ya, karena selalu ada lokasi baru untuk ditemukan dan cerita-cerita baru untuk ditulis, sampai jumpa di petualangan goweswisata.blogspot.co.id berikutnya

Saturday, 7 April 2018

EMBUNG MANTRAS DAN JEMBATAN BUNTUNG

05/04/2018,
Lokasi ngebolang goweswisata.blogspot.co.id kali ini terbilang unik karena saya menemukan tempat ini secara tidak sengaja sewaktu bersepeda ke kantor pos dekat rumah hehe…:)

Sebelumnya saya sendiri pun tidak tahu dan tidak menyangka jika didekat basecamp goweswisata ada obyek wisata baru, karena beberapa kali melewati rute ini sama sekali tidak kelihatan ada tanda-tanda atau penunjuk arah keberadaan tempat ini, usut punya usut setelah bertanya kepada warga sekitar ternyata keberadaan Embung ini sebenarnya sudah ada dari dulu namun waktu itu namanya belum ada, nah barulah kira-kira 2 bulan yang lalu (sekitar Bulan Februari 2018) akhirnya tempat ini diberi nama Embung Mantras Kali Gajah Wong dan mulai dibuka untuk umum

Untuk menuju ke lokasi Embung Mantras sendiri sebenarnya cukup mudah, dari JEC (Jogja Expo Center) kalian tinggal menyeberang kearah pertigaan Beringin depan Gudeg Bu Tjitro, dari situ tinggal lurus saja ke Utara sampai mentok pertigaan kemudian belok kiri (Barat), nanti ada perempatan depot isi ulang air minum masih lurus saja ke Barat, lalu ada pertigaan minimarket Ind*m*rt masih ke Barat sedikit lagi sampai ada jembatan, nah tepat sebelum jembatan kalian tinggal belok ke kanan, ada jalan masuk dan papan penunjuk arahnya kok, masuk saja ikuti jalan sampai mentok maka sampailah di Embung Mantras Kali Gajah Wong


Kesan pertama saya ketika melihat Embung ini adalah “kok embungnya kecil amat ya, kaya kolam pemancingan biasa hehe…”, pokoknya berbeda dengan tampilan embung-embung lain yang pernah saya kunjungi.


Sebelum mulai berkeliling cari spot parkir dulu buat si kuning :)


Menurut penuturan warga sekitar dulunya sebelum menjadi embung seperti sekarang ini tempat ini merupakan area pembibitan ikan dan sawah-sawah yang tanahnya merupakan milik kas desa, lalu semenjak orang yang mengelola sawah tersebut meninggal dunia akhirnya lokasi ini pun menjadi terbengkalai hingga kemudian tempat tersebut disewa untuk dijadikan kolam-kolam ikan, untuk mengisi kebutuhan airnya sendiri mereka membuat saluran pipa menembus tanggul bendungan yang berada tepat di belakangnya, namun mungkin karena kualitas pipa yang jelek dan pengerjaannya yang tidak rapi akhirnya lambat laun air pun mulai merembes melalui celah-celah bebatuan turap tanggul hingga akhirnya tanggul tersebut pun pecah karena tidak kuat menahan debit air yang tinggi sekitar tahun 2014 lalu ketika Jogja dilanda bencana banjir besar.

Sewaktu tanggul tersebut pecah untunglah saluran air yang berada tepat disebelahnya mampu memecah arus air yang meluap dan mengalirkannya kembali ke Kali Gajah Wong sehingga banjir yang besar kala itu tidak sampai merusak rumah warga yang berada di sekitarnya, namun akibat bencana banjir tersebut maka kolam-kolam ikan dan sawah-sawah yang berada disekitar tanggul pun menjadi terendam membentuk sebuah kolam yang besar



Oleh warga sekitar kemudian area tersebut mulai dibersihkan dan dirapihkan, lalu setelah dimusyawarahkan bersama pada tahun 2018 maka tempat ini pun pada akhirnya difungsikan menjadi sebuah embung, dimana airnya dapat dimanfaatkan untuk pengairan sawah sedangkan lokasinya juga sekaligus dapat diberdayakan sebagai area pemancingan, sehingga tidak heran jika kini tempat ini banyak didatangi oleh para pemancing (biasanya pada saat weekend)




Rencananya tempat ini akan terus dikembangkan serta ditambah fasilitas pendukungnya seperti penataan area kuliner supaya para pengunjung dapat menikmati memancing tanpa perlu takut kelaparan atau kehausan

Kedalaman embung ini sendiri rupanya tidak terlalu dalam, menurut warga titik terdalam embung ini berkisar 1,5 meter, namun tetap saja kalian tidak disarankan untuk berenang di sini ya

Selain Embung Mantras disekitar lokasi ini rupanya ada satu obyek lagi yang menarik perhatian saya, apalagi setelah mendengar ceritanya, obyek tersebut adalah Jembatan Buntung yang berada tepat di belakang Embung dan Pintu air Kali Gajah Wong.

Jembatan kok Buntung? Piye toh iki? Jadi sebenarnya jembatan ini sendiri pun sudah ada sejak zaman pemerintahan Presiden Soeharto (sekitar tahun 1997), dan oleh warga sekitar sendiri jembatan ini digunakan untuk menyindir pemerintah kala itu



Jembatan yang pembangunannya merupakan proyek dari salah seorang anak Presiden Soeharto yaitu Mbak Tutut ini mempunyai kronologi yang “rada ajaib” bagi mereka yang mendengarnya, yaitu jika biasanya jembatan baru dibangun ketika ada 2 buah jalan yang membutuhkan sebuah penghubung atau dengan kata lain jembatan baru dibangun setelah jalannya sudah ada, maka pada kasus jembatan buntung ini yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu jembatannya dibangun duluan barulah kemudian mencari jalan untuk dihubungkan ke jembatan ini, nah lucu dan unik kan? Jembatannya dibangun duluan padahal jalannya tidak ada

Awalnya pemerintah (zaman Soeharto) berencana untuk menggusur pemukiman warga yang berada disekitar lokasi pintu air Kali Gajah Wong (Daerah Sorowajan dan sekitarnya) namun kala itu warga bersikeras mempertahankan rumah dan hak-hak mereka, karena mendapat perlawanan dari warga sekitar maka pihak pemerintah kala itu pun membuat sebuah propaganda dan isu untuk menggiring opini publik bahwa mereka-mereka yang menolak pembangunan adalah antek-antek dan keturunan PKI (Isu yang justru sekarang malah mulai jadi trend lagi), rencananya jika penyesatan opini publik tersebut berhasil maka dengan dalih keamanan Negara para warga yang menolak akan ditangkap secara paksa, hasil akhirnya tentu saja bertujuan supaya proyek dapat terus dilanjutkan dan pundi-pundi pemasukan bagi kroni penguasa pun yang mana merupakan kebocoran dana pembangunan dapat diamankan untuk kepentingan pribadi mereka, untunglah akhirnya pada tahun 1998 rezim Soeharto berhasil dilengserkan dan berganti menjadi masa Reformasi

Lalu bagaimana dengan proyek jembatan milik Mbak Tutut Soeharto ini? tentu saja setelah era kekuasaan berganti dengan orde Reformasi, maka pihak-pihak yang dahulu selalu menggunakan cara-cara intimidasi dan kekerasan mulai kehilangan tajinya dan tidak berdaya, proyek jembatan pun berhenti (tentu saja karena memang tidak ada jalan yang perlu dihubungkan oleh jembatan ini), dan bagi warga sekitar kini mereka dapat menikmati apa yang memang menjadi hak mereka dengan aman

Jadi bagi kalian-kalian yang senang berwisata coba deh sekali-kali menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan warga sekitar (jangan sekedar foto-foto saja) karena siapa tahu mungkin saja mereka memiliki kisah sejarah luar biasa yang selama ini tidak banyak diketahui oleh khalayak luas, karena dengan mengetahui sejarah bangsa ini maka kita juga dapat belajar untuk tidak mengulangi semua kesalahan tersebut dan menjadikannya pelajaran untuk terus maju sebagai bangsa yang besar, seperti apa yang pernah dikatakan oleh Founding Father bangsa ini yaitu Presiden Soekarno supaya jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah, karena bangsa yang besar akan selalu mengingat jasa-jasa para pendahulunya.