Ketentuan Pemasangan Iklan di Blog Gowes Wisata

Harap dibaca terlebih dahulu bagi para advertiser yang ingin mengiklankan produknya di blog ini

1. Isi materi iklan setidaknya berkaitan dengan dunia petualangan dan pariwisata, misalnya : jasa tour & travel, Hotel atau penginapan, Resto atau wisata kuliner, tempat wisata, adventure dan outdoor activity, bisnis atau penyedia jasa di bidang adventure, bisnis seputar perlengkapan sepeda, promo website tourism, tourism books, dan lainnya
2. Content iklan tidak mengandung unsur malware, SARA, maupun pornografi
3. media iklan bisa berupa gambar dan URL website milik advertiser, script iklan, atau bisa juga dalam bentuk post review oleh tim kami
4. Untuk biaya pemasangan iklan bersifat flat, dan rentang waktu tayang silahkan menghubungi kami langsung
5. Ketentuan lainnya akan diatur berdasarkan kesepakatan bersama antara advertiser dan publisher, dalam hal ini Tim Gowes Wisata

Tuesday, 5 June 2018

CHAPTER 40; LAST DAY IN MAKASSAR

Jika pada petualangan-petualangan sebelumnya kami berdua lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkeliling mencari dan menikmati obyek wisata keindahan alam, maka di penghujung hari terakhir kami berada di Kota Makassar ini kami mencoba menyempatkan diri untuk sejenak bersantai menikmati suasana kota modern ini dengan berwisata menggunakan transportasi umumnya yaitu Bus Trans Mamminasata

Bus Trans Mamminasata ini tak ada bedanya dengan Bus Trans Jakarta, baik dari ukuran bus yang cukup besar (jauh lebih besar daripada Bus Trans Jogja maupun Bus Sarbagita di Bali) maupun sistem shelter busnya, hanya saja untuk sistem pembayarannya pada Bus Trans Mamminasata ini masih menggunakan sistem manual berupa karcis yang disobek, belum menggunakan sistem kartu yang terintegrasi. Dengan harga tiket sebesar lima ribu rupiah per penumpang untuk sekali jalan kami pikir tidak ada ruginya untuk mencoba berkeliling Kota Makassar menggunakan bus ini, jadi yuk kita let’s go tinggal duduk santai dan menikmati pemandangan di sepanjang rute trayek bus ini


Kami memulai perjalanan nge-bus ini dari shelter bus yang berada tepat di depan Mall Panakkukang, untuk menuju ke Mall ini kami harus berjalan kaki terlebih dulu dari tempat kost kami yang berada di daerah Panaikang melalui jalan pintas (Jalan Haji Kalla) dengan jarak yang “sebenarnya” cukup jauh terutama bagi kalian yang jarang berjalan kaki, namun karena kami berdua juga suka berjalan kaki maka jarak sekitar 3km ini tidaklah terlalu menjadi masalah



Dari shelter Mall Panakkukang Bus Trans Mamminasata yang kami tumpangi mulai bergerak melalui Jalan Boulevard dan Jalan A.P Pettarani menuju ke pusat kota, disepanjang rute ini kami bisa melihat suasana kemacetan khas kota besar, disisi jalannya tampak beberapa pusat perbelanjaan yang besar serta gedung-gedung tinggi, hmmm…suasananya benar-benar 11-12 dengan Kota Jakarta, beberapa ruas jalan yang dilalui oleh trayek bus ini sudah familiar dalam ingatan kami karena sebelumnya kami juga sudah pernah menyusuri rute jalan ini, gerimis kecil tampak mulai turun membasahi Kota Makassar, disaat seperti ini untunglah kali ini kami berkeliling menggunakan bus :)




Perlahan rute Bus Trans Mamminasata ini pun melewati lokasi wisata Benteng Fort Rotterdam dan Pantai Losari kemudian berbelok menuju kearah Barombong persis dengan rute yang kami lewati sewaktu kami bersepeda menuju ke Benteng Somba Opu, hanya saja kali ini pemberhentian Bus ini adalah sebuah pusat perbelanjaan besar yang menjadi terkenal karena didalamnya terdapat tempat rekreasi indoor terbesar yaitu Trans Studio Makassar, kami pun mencoba untuk turun dan melihat seperti apa sih Trans Studio yang terkenal itu

Dan ternyata “Mall nya gede amat yak”, begitulah kata-kata pertama yang terlintas dalam pikiran kami berdua (langsung deh mulai kumat udiknya hahaha…) maklumlah selama beberapa bulan terakhir ini pusat perbelanjaan yang rada lumayan besar yang kami kunjungi adalah Bolly di Kota Bima dan Hypermart yang ada di Kota Lombok, itupun keduanya cenderung biasa saja dan suasananya tidak semegah pusat perbelanjaan yang ada di Kota Makassar ini, suasana didalam Mall tempat Trans Studio ini berada mungkin hampir sama dengan suasana pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Senayan Jakarta, semua tennantnya terkesan ekslusif





Namun mungkin karena suasananya yang “terlalu” ekslusif itu pulalah pada akhirnya justru membuat Mall ini terlihat sepi pengunjung (padahal interior didalamnya megah dan bagus), hanya tampak beberapa orang pengunjung saja yang mengunjungi mall ini, hal serupa pun tampak di kawasan foodcourtnya, jika biasanya suasana foodcourt sebuah pusat perbelanjaan selalu tampak ramai maka disini bahkan suasana foodcourtnya juga tampak sepi padahal hari sudah menjelang siang




Setelah berkeliling mulai dari lantai teratas sampai ke ground floor pusat perbelanjaan ini akhirnya kami pun mengambil beberapa dokumentasi di bagian depan dari tempat rekreasi Trans Studio Makassar ini (mau masuk tapi tiketnya mahal akhirnya ya sudah cukup dengan berfoto saja untuk kenang-kenangan perjalanan), kini saatnya melanjutkan perjalanan nge-bus dengan menunggu bus Trans Mamminasata berikutnya datang

Setelah Bus Trans Mamminasata datang kami pun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri beberapa ruas jalan Kota Makassar sampai akhirnya Bus kembali ke titik awal dimana kami memulai perjalanan ini yaitu di shelter Mall Panakkukang

Sejenak mengulas perjalanan kali ini kami menyimpulkan bahwa ternyata di Kota Makassar ini memiliki banyak sekali pusat-pusat perbelanjaan yang tergolong besar, mulai dari Mall Panakkukang (salah satu pusat perbelanjaan yang menjadi favorit kami berdua), Mall Ratulangi, Trans Studio Makassar, Mall Karebosi, Sejumlah Carefour, Hypermart, dan Lottemart yang tersebar dimana-mana, serta beberapa pusat perbelanjaan lainnya yang tadi sempat kami lewati, intinya jika kalian tipikal orang yang tidak bisa lepas dari suasana Kota Besar maka di Makassar ini kalian pasti senang karena disini kalian bisa travelling dengan nyaman dan mudah untuk mencari segala keperluan yang kalian butuhkan

Untuk mengakhiri hari ini kami berdua memutuskan untuk menikmati suasana didalam Mall Panakkukang, mengapa Mall ini menjadi favorit kami berdua? Jawabannya adalah karena suasana didalam Mall ini terkesan merakyat, Mallnya besar tetapi suasananya terkesan hangat dan merangkul hampir semua lapisan masyarakat, disini kalian bisa menemukan tempat makan dengan harga yang cukup terjangkau (10 ribu-an per porsi, lokasinya berada tepat didepan bioskop XXI) dengan suasana yang nyaman dan bersih, kemudian tenant-tennant yang ada disini pun tidak semuanya berasal dari produk-produk mahal, bahkan didalam Mall ini pun juga masih ditemui beberapa penjual CD dan DVD seperti yang ada di Mangga Dua Mall Jakarta serta penjual baju-baju yang deretan kiosnya mirip dengan yang ada di ITC, dan pada lantai teratasnya terdapat area hiburan yang jarang ada yaitu Ice Skating, dan tahukah kalian berapa tarif untuk bermain Ice Skating di Mall Panakkukang ini? tarif untuk bermain Ice Skating disini hanya 10 ribu rupiah saja, cukup terjangkau bukan, dan bagi kalian yang suka membaca, kalian tidak perlu kuatir karena tepat disamping area Ice Skating ini terdapat Toko Buku Gramedia yang cukup besar, untuk urusan membeli keperluan rumah pun disini juga terdapat Hypermart, Carrefour, ACE Hardware, dan Lottemart, kami pun memanfaatkan adanya keempat retail ini untuk saling membandingkan harga dan membeli perlengkapan yang kami butuhkan di keempat tempat yang berbeda ini (tergantung harga dari produk tersebut lebih murah di tempat yang mana)


Tanpa terasa malam pun mulai menjelang, ini adalah malam terakhir kami berada di Kota Makassar, mungkin suatu saat kami akan merindukan tempat ini (coba Mall Panakkukang ditukar saja dengan Ambarukmo Plaza di Jogja), merindukan suasana Kota Makassar dengan segala jajanan dan transportasi umumnya yang terbilang cukup lengkap (untuk urusan transportasi umum, Makassar memiliki kelebihan dalam hal dimensi bus Transnya yang besar, namun untuk sistem pembayarannya harus diakui jika Jakarta dan Jogja masih jauh lebih baik karena sudah menggunakan sistem kartu yang terintegrasi, sedangkan untuk transportasi feeder atau penghubungnya maka Bali masih yang terbaik karena kendaraan feedernya memiliki pemberhentian yang teratur dan memiliki tarif yang murah dengan jarak yang terhitung cukup jauh, sedangkan di Makassar dan Jakarta maka kendaraan feedernya masih berupa angkot yang suka ngetem sembarangan).

Jika saja semua pemangku kebijakan di setiap kota di Indonesia saling belajar satu dengan lainnya bukan tidak mungkin jika kedepannya maka tidak akan terjadi gap atau kesenjangan pembangunan yang terlalu jauh antara satu kota dengan kota lainnya, tidak perlu jauh-jauh beralasan untuk kunjungan kerja ke luar negeri jika ternyata pada akhirnya justru tidak ada hasil nyata dari hasil kunjungan kerja tersebut, karena didalam negeri sendiri saja sebenarnya juga ada banyak kelebihan dan prestasi yang bisa dipelajari dan diterapkan untuk masing-masing kotanya

No comments:

Post a Comment